Archive for the 'Islam & Kebudayaan Banjar' Category

Demang Lehman, Sang Panglima Perang Pangeran Hidayatullah (Perang Banjar)

Demang Lehman

Foto Demang Lehman panglima perang Pangeran Hidayatullah.
(Kepala beliau dibawa ke Belanda dan sampai sekarang masih di musium Belanda)

Beliau disergap di Batulicin ketika sedang sembahyang dan kemudian digantung di alun-alun Martapura pada tanggal 27 Februari 1863 / 8 Ramadhan 1279 H. Ucapan beliau terakhir :
” BANJAR A…KAN BEBAS JIKA DIPALAS DENGAN DARAH”

Menurut sdr Yanuar Ikbar* ada 3 Kepala Urang Banjar di Belanda
(mungkin berada di musium perang” Troopen Muzium di Amsterdam”) :
1. Syahidin Demang Leman
2. Syahidin Prabu Anom Dinding Raja ( Jalil )
3. Syahidin Penghulu H. Rasyid.

Sangat diharapkan bantuan agar kepala2 beliau dapat dibawa kembali , agar dapat disatukan dengan jasad / dikuburkan secara layak!!!
Amin…

*Ph.D – Historical di Malaysia Thesis tentang Pangeran Hidayatullah & penelitian beberapa bulan sampai ke negeri Belanda.

Di Tanah Jawa Panting Berdenting

Oleh: Nasrullah (Yogyakarta)

Grand Pasifik Yogyakarta

Ampar-ampar pisang

Pisang ku balum masak

Masak sabigi dihurung bari-bari

Sekelompok orang berjejer rapi dihadapan hadirin. Mereka adalah paduan suara dari suku Hakka Cina, tapi ketika bernyanyi bukannya lagu berbahasa Cina dilantunkan melainkan membawakan lagu Banjar Ampar-ampar pisang dengan penuh riang dan diiringi musik organ tunggal. Sementara di sebelah kanan kelompok paduan suara itu duduk berjejer sebuah grup musik panting yang siap beraksi. Setelah paduan suara menyanyikan lagu Ampar-ampar pisang hingga selesai, langsung dilanjutkan musik tradisional grup musik panting yang juga membawakan lagu Ampar-ampar Pisang diiringi para penari latar.

Belum tuntas lagu dinyanyikan, paduan suara pun menyambung lagu itu diiringi musik panting dalam tempo lambat. Setelah selesai paduan suara bernyanyi, instrumen musik panting terus berlanjut dengan tempo lebih cepat tanpa iringan lagu. Begitu selesai musik panting, kembali paduan suara menyanyikan nang mana batis kutung dikitip bidawang.

Pagelaran itu adalah momen yang sulit terlupakan oleh Firliadi Noor Salim, salah seorang pemain musik panting grup Dendang Banua dari Kerukunan Mahasiswa Hulu Sungai Selatan di Yogyakarta. Waktu itu, 25 Mei 2009 mereka berkolaborasi dengan paduan suara suku Hakka untuk memeriahkan pembukan acara perkumpulan suku Hakka se Yogyakarta di gedung pertemuan Grand Pasifik.

Sebagai pemain musik panting, Salim panggilan sehari-hari Firliadi Noor Salim yang tengah menuntut ilmu di Sastra Arab, UIN Sunan Kalijaga, merasa sangat bangga karena grup musik mereka mendapat kehormatan dalam acara orang Cina Hakka. Grup musik panting Dendang Banua adalah satu-satunya grup musik tradisional yang didaulat untuk memeriahkan acara pembukaan pertemuan suku Hakka di Yogyakarta.

Penampilan Dendang Banua di acara pertemuan suku Hakka, menurut Wira salah seorang personel Dendang Banua, pada mulanya hanya sekedar coba-coba dari panitia pelaksana. Kebiasaan mereka mengundang salah satu grup musik tradisional untuk mengisi acara hiburan, tahun 2009 Dendang Banua mendapat giliran.

Rupanya penampilan grup musik panting Dendang Banua mendapat penilaian positif dari para undangan yang hadir, tepuk tangan membahana di dalam gedung Grand Pasifik Yogyakarta. Setelah tampil perdana secara mengesankan itu, mereka pun mendapat undangan kembali untuk mengisi acara pembukaan kejuaraan Nasional Wushu Yunior Taulo Open 2009 di GOR Universitas Negeri Yogyakarta. “Di sana kami kembali tampil dan berkolaborasi dengan penari Cina,” ujar Salim.

Mantan ketua KM HSS ini pun sangat berbangga hati, karena hadir Sultan Yogya dalam acara pembukaan kejurnas Wushu tersebut. Kebetulan ada kontingen Wushu dari Kalimantan Selatan, salah seorang panitia kontingen tersebut langsung menemui mereka setelah tampil dan menanyakan apakah Dendang Banua sebagai utusan DKD Kalsel sehingga tampil dalam acara pembukaan kejurnas Wushu. Mereka pun menjelaskan bahwa tampil sendiri karena undangan panitia.

Opening Kejurnas Wushu
***

Grup musik panting Dendang Banua yang beralamat di asrama mahasiswa Kabupaten HSS “Amuk Hantarukung” di jalan Mangga 3 Blok D No 37 RT. 2 RW. 8 Klebengan, Kecamatan Depok Kabupaten Sleman, lahir bertepatan dengan hari jadi kabupaten HSS tanggal 2 Desember 2001. Pada waktu itu asrama mahasiswa HSS dan sekretariat Dendang Banua beralamat di Jalan Mawar dan masih berstatus kontrakan.

Cerita Salim yang juga mantan ketua asrama “Amuk Hantarukung” 2007 yang ditemu URBANA di Yogyakarta, Kamis (27/08) bahwa seniornya mendapat bantuan pemda HSS untuk mendirikan grup musik panting Dendang Banua. Sayangnya bantuan tersebut tidak mencukupi untuk membeli alat musik, sehingga untuk menutupi biaya mahasiswa mencari uang dengan cara mengamen dengan menggunakan alat musik biola di sekitar kampus UGM hingga akhirnya dapat menutupi kekurangan biaya.

Selain berhasil mendapatkan uang untuk mencukupi kekurangan biaya membeli peralatan, rupanya kemampuan mahasiswa memainkan biola juga digemari kelompok pengamen lain yang beroperasi di sekitar UGM sehingga banyak pengamen berminat belajar bermain biola.

Generasi pertama pemain Dendang Banua adalah Lupi Anderiani, Alfriend, Obeb, Riswan, Faturrahman, “Jeng” Sri, Riza, Anoy, Inai, Ilmi dan Alfi. Secara perlahan-lahan para pemain tidak lagi aktif di Dendang Banua karena telah menyelesaikan studi. Sepeninggal Lupi Anderiani, Dendang Banua kekurangan pemain biola. Kini personel Dendang Banua diisi oleh Firliadi Nur Salim, Indra Bandi, Atma Prawira dan Mus’ab yang memainkan alat musik panting. Memainkan alat musik kataprak oleh Abdurrahman al-Gunain, Aditya Aris Pratama, Muzaiyyin Mistar, Muhammad Arif. Adapun memegang alat musik Babun oleh Udin Khair dan gong oleh Hafiz. Vocal oleh Debby Miranti dan Hasani Memed.

Latihan rutin dilaksanakan setiap dua kali seminggu di asrama mahasiswa HSS, “Amuk Hantarukung” Yogyakarta pada hari Jumat dan Minggu. Pada saat latihan, mereka pernah ditonton oleh turis Rusia. Setelah menyaksikan tampilan musik panting Dendang Banua, turis Rusia yang semula tidak ingin pergi ke Kalimantan menjadi tertarik untuk melihat secara langsung kesenian di Kalimantan Selatan.

Dendang Banua yang dimanajeri oleh Amat Sufian setelah eksis beberapa tahun akhirnya mendapat bantuan dari pemprov Kalsel awal tahun 2009 untuk memperbaiki alat. Namun, bantuan tersebut masih belum mencukupi terutama untuk mengganti kostum pemain karena selama sembilan tahun eksis masih menggunakan pakaian yang sama. Padahal untuk saat ini menurut Atma Prawira mahasiswa Banjarbaru yang orang tuanya berasal dari Kandangan, Dendang Banua adalah satu-satu grup kesenian dari Kalimantan Selatan yang masih eksis di Yogyakarta bahkan se Jawa dan Bali.

Untuk lebih mempromosikan Dendang Banua, dibuka alamat di dunia maya yang berisi tentang dokumentasi kegiatan berupa gambar dan video di face book yang beralamat Grup Musik Panting “DENDANG BANUA” KM HSS Yogyakarta. Hingga saat ini Dendang Banua memiliki 1.780 penggemar di dunia maya.

***

Kota Yogyakarta selain dikenal dengan julukan kota Pelajar juga sebagai kota seni dan budaya yang memungkinkan segenap unsur kesenian tumbuh dan berkembang. Dendang Banua menjadi satu-satunya grup musik tradisional yang membawa nama Kalsel di Nusantara melalui kota Yogyakarta.

Selama tahun 2009, Dendang Banua sudah tampil selama beberapa kali, salah satunya dalam acara tahunan Gelar Apresiasi Seni Antar Etnis 2009, di halaman Monumen Serangan Umum Satu Maret pada 29 Juli 2009.

Pentas Di Apresiasi Seni Antar Etnis, Yogyakarta 29 Juli 2009

Selain tampil dalam acara yang bersifat nasional, Dendang Banua juga kerap diundang dalam acara mahasiswa daerah. Salim bercerita bahwa Dendang Banua pernah diundang bersama grup musik dari Aceh dalam acara peresmian asrama Todilaling, Sulawesi Barat tahun 2008. Ini menunjukkan musik daerah Kalimantan Selatan sebenarnya mendapat tempat di kalangan penggemar musik tradisional dari daerah lain.

Setiap tahun sejumlah agenda pertunjukkan musik tradisional sudah menunggu grup musik panting Dendang Banua. Misalnya di lokasi yang sering tampil yakni halaman monumen Serangan Umum Satu Maret, Dendang Banua sering diundang untuk mengisi acara ulang tahun kota Yogyakarta, Festival Kesenian Yogyakarta , Hari Sumpah Pemuda, Gelar Apresiasi Seni Antar Etnis. Di Jogja Expo Centre (JEC), Dendang Banua juga tampil untuk memeriahkan Yogya Fair dan Ramadhan Fair. Adapun acara bersifat kedaerahan biasanya setiap Syawal yakni Halal bi halal warga Banjar di Yogya.

Untuk agenda ke depan Dendang Banua bersiap-siap untuk memeriahkan empat acara, yakni: Ramadhan Fair, 2 September 2009 di JEC, kemudian tampil dalam pembukaan acara pertemuan Suku Hakka se-Indonesia pada bulan November di Yogyakarta. Adapun acara bersifat kedaerahan memeriahkan ulang tahun Persatuan Mahasiswa Kalimantan Selatan (PMKS) bulan November dan halal bi halal warga Kalsel di Yogyakarta, sekaligus peresmian renovasi asrama Lambung Mangkurat.

***

Setiap tampil di hadapan publik bagi Salim dan Wira serta teman-temannya yang lain, selalu tersimpan rasa bangga karena membawa nama daerah di kota Yogyakarta pusat kebudayaan Jawa. Apresiasi para penonton yang hadir dapat mereka rasakan dari applause penonton setelah tampil, apalagi disaksikan oleh para penonton dari berbagai daerah serta turis dari mancanegara.

Atas jerih payah penampilan mereka, pihak panitia yang mengundang memberikan imbalan yang beragam. Dari ratusan ribu dan kalau lagi mujur pernah mendapat bayaran hampir Rp 2 juta selama 15 menit pertunjukkan. “Tapi imbalan terima kasih haja gin, kami tarima haja,” terang Salim. Dalam acara tertentu, mereka pun lebih mementingkan tampil daripada memikirkan imbalan apalagi kalau nilai promosinya besar melalui event nasional.

Meskipun keberadaan Dendang Banua sebagai satu-satunya grup musik tradisional dari Kalimantan Selatan di Yogyakarta hingga se-Jawa Bali yang terus eksis dengan semangat para mahasiswa daerah untuk membawa nama baik Kalsel secara nasional dan internasional. Namun, para personel Dendang Banua mengakui khawatir akan kelangsungan grup ini di masa mendatang. Menurut Salim, mantan ketua Asrama “Amuk Hantarukung” yang berasal dari Sungai Paring, Kandangan, saat ini sulit melakukan regenerasi pemain musik terutama yang menguasai alat musik babun. Tidak ada peremajaan alat dan kostum karena itu mereka berharap kepedulian pemerintah daerah. Selain itu, tidak ada pembina musik panting sepeninggal senior mereka, Lupi. Sehingga para pemain belajar secara autodidak, praktis berdampak pada terbatasnya referensi penguasaan lagu-lagu daerah.

Bahkan lebih tragis jika hal-hal tersebut tidak dapat diatasi, maka beberapa tahun kemudian suara musik panting dari Kalimantan Selatan di tanah Jawa perlahan-lahan akan berhenti berdenting.

Dendang Banua & Kayuh Baimbai Yogyakarta

Dimuat di Tabloid Urbana, edisi 31 Agustus – 07 September 2009

Versi epaper dapat dilihat di www.tabloidurbana.com

Ditulis ulang oleh : Wira.

Orang Bodoh Gampang Dirayu Syetan

oleh : Muhammad Rifqi, S.Kom,

Manusia memiliki musuh bebuyutan yang namanya syetan. Ketika syetan diusir dari neraka mereka sudah memproklamirkan diri akan ajak-ajak manusia agar mengikutinya ke jalan neraka. Seyogyanya, seorang hamba bersungguh-sungguh menolak bisikan dan godaan syetan di dalam dirinya. Karena Allah SWT sudah mengingatkan melalui firmanNya:

Innassyaithaana lakum ‘aduwwun, fattakhidzuuhu ‘aduwwan

Sesungguhnya syetan adalah musuh bagi kalian maka jadikanlah syetan itu sebagai musuh.

Ingatlah, bahwa syetan akan terus menerus mencari teman ke neraka. Syetan menggoda manusia melalui kemaksiatan yang dihiasi dengan berbagi kesenangan dan kenikmatan yang bisa menjerumuskan kebanyakan manusia. Oleh karena itu kita harus mengerti dan jangan jadi orang-orang yang bodoh. Sebab orang bodoh gampang dikibuli syetan.

Tanda-tanda orang bodoh itu ada empat.

Pertama, suka marah-marah yang tidak jelas sebabnya.

Kedua, suka nuruti kemauan nafsu yang bathil.

Ketiga, menafkahkan hartanya dengan cara yang tidak dibenarkan syara’, suka menghambur-hamburkan harta yang tidak jelas manfaatnya, apalagi digunakan untuk maksiat.

Keempat, tidak sadar kalau musuh yang sebenarnya adalah syetan.

Oleh karena itu hendaknya kita sebagai orang yang berakal menyadari dengan benar bahwa syetan itu musuh kita. Mari kita mengikuti kebenaran dan jangan mengikuti musuh kita. Tengoklah hati kita. Bukankah ternyata lebih sering mengikuti bisikan dan perintah syetan daripada mengikuti perintah Allah?

Sebagian ahli hikmah mengatakan:

“ketahuilah bahwa syetan itu mendatangi manusia melalui sepuluh pintu”.

Kesepuluh pintu yang dimasuki syetan itu adalah:

1. syetan akan masuk melalui pintu suudzon (berburuk sangka)
2. syetan akam masuk melalui pintu panjang angan-angan
3. syetan akan masuk melalui pintu memperoleh nikmat
4. syetan akan masuk melalui pintu ‘ujub (membanggakan diri)
5. syetan akan masuk melalui pintu meremehkan orang lain
6. syetan akan masuk melalui pintu hasud
7. syetan akan masuk melalui pintu riya’ (ingin dipuji orang)
8. syetan akan masuk melalui pintu bakhil (kikir)
9. syetan akan masul melalui pintu sombong
10. syetan akan masuk melalui pintu tamak (serakah).

Kalau syetan berhasil mendekati kita, maka syetan akan berusaha masuk di hati kita. Nah, kalau ia sudah berhasil masuk, maka ia akan bersembunyi di hati kita.

Oleh karena itu jangan biarkan ia bersembunyi. Usirlah dia! Caranya dengan memperbanyak dzikir (ingat) kepada Allah SWT.

Sebab, kalau hati kita sudah dikuasai syetan maka ia telah berhasil menjadikan kita temannya. Berarti kita telah menjadikan syetan sebagai pemimpin bagi hati kita. Na’udzubillah.

Ingatlah peringatan Allah dalam Al Qur’an :

“Hai anak adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syetan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu (Nabi Adam dan Ibu Hawa) dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihatmu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syetan-syetan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman” (QS. Al A’raaf:27)

Mudah-mudahan kita diberi kekuatan oleh Allah untuk melawan godaan syetan. Amin Ya Rabbal Alamin.

sumber : http://rifqie24.blogspot.com/

Tentang Syair Al-Barzanji

Di Indonesia, peringatan Maulid Nabi (orang banjar menyebutnya *Ba-Mulud’an*)
sudah melembaga bahkan ditetapkan sebagai hari libur nasional. Setiap
memasuki Rabi’ul Awwal, berbagai ormas Islam, masjid, musholla, institusi
pendidikan, dan majelis taklim bersiap memperingatinya dengan beragam cara
dan acara; dari sekadar menggelar pengajian kecil-kecilan hingga seremoni
akbar dan bakti sosial, dari sekadar diskusi hingga ritual-ritual yang sarat
tradisi (lokal).

Di antara yang berbasis tradisi adalah:
*Manyanggar Banua, Mapanretasi di Pagatan, Ba’Ayun Mulud (Ma’ayun anak) di Kab. Tapin, Kalimantan Selatan
*Sekaten, di Keraton Yogyakarta dan Surakarta,
*Gerebeg Mulud di Demak,
*Panjang Jimat *di Kasultanan Cirebon,
*Mandi Barokah *di Cikelet Garut, dan sebagainya.

Tradisi lain yang tak kalah populer adalah pembacaan Kitab al-Barzanji. Membaca Barzanji
seolah menjadi sesi yang tak boleh ditinggalkan dalam setiap peringatan
Maulid Nabi. Pembacaannya dapat dilakukan di mana pun, kapan pun dan dengan
notasi apa pun, karena memang tidak ada tata cara khusus yang mengaturnya.

Al-Barzanji adalah karya tulis berupa prosa dan sajak yang isinya bertutur
tentang biografi Muhammad, mencakup *nasab*-nya (silsilah), kehidupannya
dari masa kanak-kanak hingga menjadi rasul. Selain itu, juga mengisahkan
sifat-sifat mulia yang dimilikinya, serta berbagai peristiwa untuk dijadikan
teladan manusia.

Judul aslinya adalah *’Iqd al-Jawahir *(Kalung Permata). Namun, dalam
perkembangannya, nama pengarangnyalah yang lebih masyhur disebut, yaitu
Syekh Ja’far ibn Hasan ibn Abdul Karim ibn Muhammad al-Barzanji. Dia seorang
sufi yang lahir di Madinah pada 1690 M dan meninggal pada 1766 M.

*Relasi Berjanji dan Muludan
*Ada catatan menarik dari Nico Captein, seorang orientalis dari Universitas
Leiden, dalam bukunya yang berjudul *Perayaan Hari Lahir Nabi Muhammad
SAW *(INIS,
1994). Menurutnya, Maulid Nabi pada mulanya adalah perayaan kaum Syi’ah
Fatimiyah (909-117 M) di Mesir untuk menegaskan kepada publik bahwa dinasti
tersebut benar-benar keturunan Nabi. Bisa dibilang, ada nuansa politis di
balik perayaannya.

Dari kalangan Sunni, pertama kali diselenggarakan di Suriah oleh Nuruddin
pada abad XI. Pada abad itu juga Maulid digelar di Mosul Irak, Mekkah dan
seluruh penjuru Islam. Kendati demikian, tidak sedikit pula yang menolak
memperingati karena dinilai *bid’ah *(mengada-ada dalam beribadah).

Di Indonesia, tradisi Berjanjen bukan hal baru, terlebih di kalangan
*Nahdliyyin
*(sebutan untuk warga NU). Berjanjen tidak hanya dilakukan pada peringatan
Maulid Nabi, namun kerap diselenggarakan pula pada tiap malam Jumat, pada
upacara kelahiran, *akikah *dan potong rambut, pernikahan, syukuran, dan
upacara lainnya. Bahkan, pada sebagian besar pesantren, Berjanjen telah
menjadi kurikulum wajib.

Selain al-Barzanji, terdapat pula kitab-kitab sejenis yang juga bertutur
tentang kehidupan dan kepribadian Nabi. Misalnya, kitab
*Shimthual-Durar, karya al-Habib Ali bin Muhammad bin Husain al-Habsyi (Syair Maulud Al-Habsy),
*al-Burdah, karya al-Bushiri dan
*al-Diba, karya Abdurrahman al-Diba’iy.

*Inovasi Baru
*Esensi Maulid adalah penghijauan sejarah dan penyegaran ketokohan Nabi
sebagai satu-satunya idola teladan yang seluruh ajarannya harus dibumikan.
Figur idola menjadi miniatur dari idealisme, kristalisasi dari berbagai
falsafah hidup yang diyakini. Penghijauan sejarah dan penyegaran ketokohan
itu dapat dilakukan kapan pun, termasuk di bulan Rabi’ul Awwal.

Kaitannya dengan kebangsaan, identitas dan nasionalisme seseorang akan lahir
jika ia membaca sejarah bangsanya. Begitu pula identitas sebagai penganut
agama akan ditemukan (di antaranya) melalui sejarah agamanya. Dan, dibacanya
Kitab al-Barzanji merupakan salah satu sarana untuk mencapai tujuan esensial
itu, yakni ‘menghidupkan’ tokoh idola melalui teks-teks sejarah.

Permasalahannya sekarang, sudahkah pelaku Berjanjen memahami bait-bait indah
al-Barzanji sehingga menjadikannya ispirator dan motivator keteladanan?
Barangkali, bagi kalangan santri, mereka dapat dengan mudah memahami makna
tiap baitnya karena (sedikit banyak) telah mengerti bahasa Arab. Ditambah
kajian khusus terhadap referensi penjelas *(syarh) *dari al-Barzanji, yaitu
kitab *Madarij al-Shu’ud *karya al-Nawawi al-Bantani, menjadikan pemahaman
mereka semakin komprehensif.

Bagaimana dengan masyarakat awam? Tentu mereka tidak bisa seperti itu.
Karena mereka memang tidak menguasai bahasa Arab. Yang mereka tahu, kitab
itu bertutur tentang sejarah Nabi tanpa mengerti detail isinya. Akibatnya,
penjiwaan dan penghayatan makna al-Barzanji sebagai inspirator dan motivator
hidup menjadi tereduksi oleh rangkaian ritual simbolik yang tersakralkan.
Barangkali, kita perlu berinovasi agar pesan-pesan profetik di balik bait
al-Barzanji menjadi tersampaikan kepada pelakunya (terutama masyarakat awam)
secara utuh menyeluruh. Namun, ini tidaklah mudah. Dibutuhkan penerjemah
yang andal dan sastrawan-sastrawan ulung untuk mengemas bahasa al-Barzanji
ke dalam konteks bahasa kekinian dan kedisinian. Selain itu, juga
mempertimbangkan kesiapan masyarakat menerima inovasi baru terhadap
aktivitas yang kadung tersakralkan itu.

Inovasi dapat diimplementasikan dengan menerjemahkan dan menekankan aspek
keteladan. Dilakukan secara gradual pasca-membaca dan melantunkan syair
al-Barzanji. Atau mungkin dengan kemasan baru yang tidak banyak menyertakan
bahasa Arab, kecuali lantunan shalawat dan ayat-ayat suci, seperti
dipertunjukkan W.S. Rendra, Ken Zuraida (istri Rendra), dan kawan-kawan pada
Pentas Shalawat Barzanji pada 12-14 Mei 2003 di Stadion Tennis Indoor,
Senayan, Jakarta.

Sebagai pungkasan, semoga Barzanji tidak hanya menjadi ‘lagu wajib’ dalam
upacara, tapi (yang penting) juga mampu menggerakkan pikiran, hati,
pandangan hidup serta sikap kita untuk menjadi lebih baik sebagaimana Nabi.
Dan semoga, Maulid dapat mengentaskan kita dari keterpurukan sebagaimana
Shalahuddin Al-Ayubi sukses membangkitkan semangat tentaranya hingga menang
dalam pertempuran.
____________________________________________________________________________________________
Tambahan

Garis Keturunannya:

Sayyid Ja’far ibn Hasan ibn Abdul Karim ibn Muhammad ibn Sayid Rasul ibn Abdul Syed ibn Abdul Rasul ibn Qalandar ibn Abdul Syed ibn Isa ibn Husain ibn Bayazid ibn Abdul Karim ibn Isa ibn Ali ibn Yusuf ibn Mansur ibn Abdul Aziz ibn Abdullah ibn Ismail ibn Al-Imam Musa Al-Kazim ibn Al-Imam Ja’far As-Sodiq ibn Al-Imam Muhammad Al-Baqir ibn Al-Imam Zainal Abidin ibn Al-Imam Husain ibn Sayidina Ali r.a. dan Sayidatina Fatimah binti Rasulullah saw.

Dinamakan Al-Barjanzy karena dinisbahkan kepada nama desa pengarang yang terletak di Barjanziyah kawasan Akrad (kurdistan). Kitab tersebut nama aslinya ‘Iqd al-Jawahir (Bahasa Arab, artinya kalung permata) sebagian ulama menyatakan bahwa nama karangannya adalah “I’qdul Jawhar fi mawlid anNabiyyil Azhar”. yang disusun untuk meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad saw, meskipun kemudian lebih terkenal dengan nama penulisnya.

Beliau dilahirkan di Madinah Al Munawwarah pada hari Kamis, awal bulan Zulhijjah tahun 1126 H (1960 M) (1766 beliau menghafal Al-Quran 30 Juz kepada Syaikh Ismail Alyamany dan Tashih Quran (mujawwad) kepada syaikh Yusuf Asho’idy kemudian belajar ilmu naqliyah (quran Dan Haditz) dan ‘Aqliyah kepada ulama-ulama masjid nabawi Madinah Al Munawwarah dan tokoh-tokoh qabilah daerah Barjanzi kemudian belajar ilmu nahwu, sharaf, mantiq, Ma’ani, Badi’, Faraidh, Khat, hisab, fiqih, ushul fiqh, falsafah, ilmu hikmah, ilmu teknik, lughah, ilmu mustalah hadis, tafsir, hadis, ilmu hukum, Sirah Nabawi, ilmu sejarah semua itu dipelajari selama beliau ikut duduk belajar bersama ulama-ulama masjid nabawi. Dan ketika umurnya mencapai 31 tahun atau bertepatan 1159 H barulah beliau menjadi seorang yang ‘Alim wal ‘Allaamah dan Ulama besar.

Kitab “Mawlid al-Barzanji” ini telah disyarahkan oleh al-’Allaamah al-Faqih asy-Syaikh Abu ‘Abdullah Muhammad bin Ahmad yang terkenal dengan panggilan Ba`ilisy yang wafat tahun 1299H dengan satu syarah yang memadai, cukup elok dan bermanfaat yang dinamakan “al-Qawl al-Munji ‘ala Mawlid al-Barzanji” yang telah banyak kali diulang cetaknya di Mesir.

Di samping itu, kitab Mawlid Sidi Ja’far al-Barzanji ini telah disyarahkan pula oleh para ulama kenamaan umat ini. Antara yang masyhur mensyarahkannya ialah Syaikh Muhammad bin Ahmad ‘Ilyisy al-Maaliki al-’Asy’ari asy-Syadzili al-Azhari dengan kitab “al-Qawl al-Munji ‘ala Mawlid al-Barzanji”. Beliau ini adalah seorang ulama besar keluaran al-Azhar asy-Syarif, bermazhab Maliki lagi Asy`ari dan menjalankan Thoriqah asy-Syadziliyyah. Beliau lahir pada tahun 1217H (1802M) dan wafat pada tahun 1299H (1882M).

Selain itu ulama kita kelahiran Banten, Pulau Jawa, yang terkenal sebagai ulama dan penulis yang produktif dengan banyak karangannya, yaitu Sayyidul ‘Ulama-il Hijaz, an-Nawawi ats-Tsani, Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani al-Jawi turut menulis syarah yang lathifah bagi “Mawlid al-Barzanji” dan karangannya itu dinamakannya “Madaarijush Shu`uud ila Iktisaa-il Buruud”. Kemudian, Sayyid Ja’far bin Sayyid Isma`il bin Sayyid Zainal ‘Abidin bin Sayyid Muhammad al-Hadi bin Sayyid Zain yang merupakan suami kepada satu-satunya anak Sayyid Ja’far al-Barzanji, telah juga menulis syarah bagi “Mawlid al-Barzanji” tersebut yang dinamakannya “al-Kawkabul Anwar ‘ala ‘Iqdil Jawhar fi Mawlidin Nabiyil Azhar”. Sayyid Ja’far ini juga adalah seorang ulama besar keluaran al-Azhar asy-Syarif. Beliau juga merupakan seorang Mufti Syafi`iyyah. Karangan-karangan beliau banyak, antaranya: “Syawaahidul Ghufraan ‘ala Jaliyal Ahzan fi Fadhaa-il Ramadhan”, “Mashaabiihul Ghurar ‘ala Jaliyal Kadar” dan “Taajul Ibtihaaj ‘ala Dhau-il Wahhaaj fi Israa` wal Mi’raaj”. Beliau juga telah menulis sebuah manaqib yang menceritakan perjalanan hidup dan ketinggian nendanya Sayyid Ja’far al-Barzanji dalam kitabnya “ar-Raudhul A’thar fi Manaqib as-Sayyid Ja’far”.

Kembali kepada Sidi Ja’far al-Barzanji, selain dipandang sebagai mufti, beliau juga menjadi khatib di Masjid Nabawi dan mengajar di dalam masjid yang mulia tersebut. Beliau terkenal bukan sahaja kerana ilmu, akhlak dan taqwanya, tapi juga dengan kekeramatan dan kemakbulan doanya. Penduduk Madinah sering meminta beliau berdoa untuk hujan pada musim-musim kemarau. Diceritakan bahawa satu ketika di musim kemarau, sedang beliau sedang menyampaikan khutbah Jumaatnya, seseorang telah meminta beliau beristisqa` memohon hujan. Maka dalam khutbahnya itu beliau pun berdoa memohon hujan, dengan serta merta doanya terkabul dan hujan terus turun dengan lebatnya sehingga seminggu, persis sebagaimana yang pernah berlaku pada zaman Junjungan Nabi s.a.w. dahulu. Menyaksikan peristiwa tersebut, maka sebahagian ulama pada zaman itu telah memuji beliau dengan bait-bait syair yang berbunyi:-

سقى الفروق بالعباس قدما * و نحن بجعفر غيثا سقينا
فذاك و سيلة لهم و هذا * وسيلتنا إمام العارفينا

Dahulu al-Faruuq dengan al-’Abbas beristisqa` memohon hujan
Dan kami dengan Ja’far pula beristisqa` memohon hujan
Maka yang demikian itu wasilah mereka kepada Tuhan
Dan ini wasilah kami seorang Imam yang ‘aarifin

Sidi Ja’far al-Barzanji wafat di Kota Madinah dan dimakamkan di Jannatul Baqi`, sebelah bawah maqam beliau dari kalangan anak-anak perempuan Junjungan Nabi s.a.w. Karangannya membawa umat ingatkan Junjungan Nabi s.a.w., membawa umat kasihkan Junjungan Nabi s.a.w., membawa umat rindukan Junjungan Nabi s.a.w. Setiap kali karangannya dibaca, pasti sholawat dan salam dilantunkan buat Junjungan Nabi s.a.w. Juga umat tidak lupa mendoakan Sayyid Ja’far yang telah berjasa menyebarkan keharuman pribadi dan sirah kehidupan makhluk termulia keturunan Adnan. Allahu … Allah.

اللهم اغفر لناسج هذه البرود المحبرة المولدية
سيدنا جعفر من إلى البرزنج نسبته و منتماه
و حقق له الفوز بقربك و الرجاء و الأمنية
و اجعل مع المقربين مقيله و سكناه
و استرله عيبه و عجزه و حصره و عيه
و كاتبها و قارئها و من اصاخ إليه سمعه و اصغاه

Ya Allah ampunkan pengarang jalinan mawlid indah nyata
Sayyidina Ja’far kepada Barzanj ternisbah dirinya
Kejayaan berdamping denganMu hasilkan baginya
Juga kabul segala harapan dan cita-cita
Jadikanlah dia bersama muqarrabin berkediaman dalam syurga
Tutupkan segala keaiban dan kelemahannya
Segala kekurangan dan kekeliruannya
Seumpamanya Ya Allah harap dikurnia juga
Bagi penulis, pembaca serta pendengarnya

و صلى الله على سيدنا محمد و على اله و صحبه و سلم
و الحمد لله رب العالمين

Dalam bukunya, Dan Muhammad adalah Utusan Allah: Penghormatan terhadap Nabi SAW dalam Islam (1991), sarjana Jerman peneliti Islam, Annemarie Schimmel, menerangkan bahwa teks asli karangan Ja’far al-Barzanji, dalam bahasa Arab, sebetulnya berbentuk prosa. Namun, para penyair kemudian mengolah kembali teks itu menjadi untaian syair, sebentuk eulogy bagi Sang Nabi.

Untaian syair itulah yang tersebar ke berbagai negeri di Asia dan Afrika, tak terkecuali Indonesia. Tidak tertinggal oleh umat Islam penutur bahasa Swahili di Afrika atau penutur bahasa Urdu di India, kita pun dapat membaca versi bahasa Indonesia dari syair itu, semisal hasil terjemahan HAA Dahlan atau Ahmad Najieh, meski kekuatan puitis yang terkandung dalam bahasa Arab kiranya belum sepenuhnya terwadahi dalam bahasa kita sejauh ini.
Secara sederhana kita dapat mengatakan bahwa karya Ja’far al-Barzanji merupakan biografi puitis Nabi Muhammad SAW. Dalam garis besarnya, karya ini terbagi dua: “Natsar” dan “Nadhom”. Bagian “Natsar” terdiri atas 19 subbagian yang memuat 355 untaian syair, dengan mengolah bunyi “ah” pada tiap-tiap rima akhir. Seluruhnya menurutkan riwayat Nabi Muhammad SAW, mulai dari saat-saat menjelang paduka dilahirkan hingga masa-masa tatkala paduka mendapat tugas kenabian. Sementara, bagian “Nadhom” terdiri atas 16 subbagian yang memuat 205 untaian syair, dengan mengolah rima akhir “nun”.

Dalam untaian prosa lirik atau sajak prosaik itu, terasa betul adanya keterpukauan sang penyair oleh sosok dan akhlak Sang Nabi. Dalam bagian “Nadhom”, misalnya, antara lain diungkapkan sapaan kepada Nabi pujaan: Engkau mentari, engkau bulan/ Engkau cahaya di atas cahaya.
Di antara idiom-idiom yang terdapat dalam karya ini, banyak yang dipungut dari alam raya seperti matahari, bulan, purnama, cahaya, satwa, batu, dan lain-lain. Idiom-idiom seperti itu diolah sedemikian rupa, bahkan disenyawakan dengan shalawat dan doa, sehingga melahirkan sejumlah besar metafor yang gemilang. Silsilah Sang Nabi sendiri, misalnya, dilukiskan sebagai “untaian mutiara”.

Namun, bahasa puisi yang gemerlapan itu, seringkali juga terasa rapuh. Dalam karya Ja’far al-Barzanji pun, ada bagian-bagian deskriptif yang mungkin terlampau meluap. Dalam bagian “Natsar”, misalnya, sebagaimana yang diterjemahkan oleh HAA Dahlan, kita mendapatkan lukisan demikian: Dan setiap binatang yang hidup milik suku Quraisy memperbincangkan kehamilan Siti Aminah dengan bahasa Arab yang fasih.

Betapapun, kita dapat melihat teks seperti ini sebagai tutur kata yang lahir dari perspektif penyair. Pokok-pokok tuturannya sendiri, terutama menyangkut riwayat Sang Nabi, terasa berpegang erat pada Alquran, hadis, dan sirah nabawiyyah. Sang penyair kemudian mencurahkan kembali rincian kejadian dalam sejarah ke dalam wadah puisi, diperkaya dengan imajinasi puitis, sehingga pembaca dapat merasakan madah yang indah.

Salah satu hal yang mengagumkan sehubungan dengan karya Ja’far al-Barzanji adalah kenyataan bahwa karya tulis ini tidak berhenti pada fungsinya sebagai bahan bacaan. Dengan segala potensinya, karya ini kiranya telah ikut membentuk tradisi dan mengembangkan kebudayaan sehubungan dengan cara umat Islam di berbagai negeri menghormati sosok dan perjuangan Nabi Muhammad SAW.

Sifatnya:
Wajahnya tampan, perilakunya sopan, matanya luas, putih giginya, hidungnya mancung,jenggotnya yang tebal,Mempunyai akhlak yang terpuji, jiwa yang bersih, sangat pemaaf dan pengampun, zuhud, amat berpegang dengan Al-Quran dan Sunnah, wara’, banyak berzikir, sentiasa bertafakkur, mendahului dalam membuat kebajikan bersedekah,dan sangat pemurah.

Seorang ulama besar yang berdedikasi mengajarkan ilmunya di Masjid Kakeknya (Masjid Nabawi) SAW sekaligus beliau menjadi seorang mufti Mahzhab Syafiiyah di kota madinah Munawwarah.

“Al-’Allaamah al-Muhaddits al-Musnid as-Sayyid Ja’far bin Hasan al-Barzanji adalah MUFTI ASY-SYAFI`IYYAH di Kota Madinah al-Munawwarah. Banyak perbedaan tentang tanggal wafatnya, sebagian menyebut beliau meninggal pada tahun 1177 H. Imam az-Zubaidi dalam “al-Mu’jam al-Mukhtash” menulis bahwa beliau wafat tahun 1184 H, dimana Imam az-Zubaidi pernah berjumpa dengan beliau dan menghadiri majelis pengajiannya di Masjid Nabawi yang mulia.

Maulid karangan beliau ini adalah kitab maulid yang paling terkenal dan paling tersebar ke pelosok negeri ‘Arab dan Islam, baik di Timur maupun di Barat. Bahkan banyak kalangan ‘Arab dan ‘Ajam (luar Arab) yang menghafalnya dan mereka membacanya dalam waktu-waktu tertentu. Kandungannya merupakan khulaashah (ringkasan) sirah nabawiyyah yang meliputi kisah lahir baginda, perutusan baginda sebagai rasul, hijrah, akhlak, peperangan sehingga kewafatan baginda.

Wafat:
Beliau telah kembali ke rahmatullah pada hari Selasa, setelah Asar,4 Sya’ban, tahun 1177 H (1766 M). Jasad beliau makamkan di Baqi’ bersama keluarga Rasulullah saw.

Kitab maulid Barzanji sendiri telah disyarah (dijelaskan) oleh ulama-ulama besar seperti Syaikh Muhammad bin Ahmad ‘Ilyisy al-Maaliki al-’Asy’ari asy-Syadzili al-Azhari yang mengarang kitab “al-Qawl al-Munji ‘ala Mawlid al- Barzanji” dan Sayyidul ‘Ulama-il Hijaz, Syeikh Muhammad Nawawi al-Bantani al-Jawi “Madaarijush Shu`uud ila Iktisaa-il Buruud”. (Mh/MM)

KH MUHAMMAD THOHA MA’RUF Ulama Minang Putera Banjar Kelahiran Manado

KH Muhammad Toha Ma'ruf

Mungkin masyarakat selama ini kurang akrab dengan nama KH. Muhammad Thoha Ma’ruf, terutama bagi mereka yang selalu tinggal di Jawa. Atau barangkali banyak sekali masyarakat Jakarta yang sering akrab dengan nama KH Muhammad Thoha Ma’ruf, namun tidak mengetahui bahwa Beliau adalah salah seorang tokoh besar NU terutama di tanah Sumatera, wabil khusus di ranah Minangkabau.

Beliau adalah seorang ulama Nahdliyyin kharismatis dari negeri kaum paderi, meski sebenarnya Beliau bukan putera minang asli. KH Thoha Ma’ruf adalah keturunan ke-7 dari ulama Besar Nusantara asal Banjar Kalimantan, yakni Syeikh Arsyad al-Banjari. Mengingat silsilahnya maka jelas sekali beliau dilahirkan dan dididik di tengah-tengah keluarga religius. Ayahnya bernama KH Mansur adalah seorang guru agama yang membangun sebuah keluarga di Kampung Banjer Manado, hingga di sanalah bayi Thaha Ma’ruf lahir tepat pada tanggal 25 Desember 1920.

Di Banjer Manado pula Thoha Ma’ruf menghabiskan masa kecilnya. Hingga ketika ia mendekati usia dua puluh tahun, ia mulai melangkahkan kakinya untuk meniti sebuah pengembaraan hidup. Tanah Minanglah tujuannya. Di sanalah ia mengembangkan ilmunya untuk menjadi seorang ulama yang berpengaruh di kemudian hari.

Pada usia 22 tahun ia telah menamatkan Madrasah Muallimin di Bukit Tinggi (1942) setelah satu tahun sebelumnya ia juga menamatkan institute Islamic College di Padang. Dari sinilah kemuadian Beliau mulai menapakkan dirinya di jalan dakwah. Di Padang, bumi pertiwi para intelektual ini pula ia membuka lebar-lebar cakrawala pemikirannya terhadap dunia dengan mempelajari pula bahasa Inggris dan bahasa Jepang. Bahkan bahasa Jepang inilah yang sempat menyelamatkannya dari hukuman tentara Pendudukan Jepang ketika ia ditangkap karena dianggap menentang penjajah.

Sejak merantau ke Minang inilah Thaha Ma’ruf menunjukkan bhakti yang begitu kuat terhadap perjuangan kemerdekaan bangsa. Terutama dari sisi pendidikan. karena itulah ia terlibat dalam banyak sekali gerakan pendidikan sejak semasa mudanya. bahkan sebenarnya sejak sebelum ia berangkat ke negeri rantau, ia telah pula mengajar sebagai guru agama di tanah kelahirannya, Manado. Dan bukan hanya di Padang saja, melainkan juga ke wilayah-wilayah Sumatera Tengah lainnya, yakni di Riau, Jambi dan Medan.

Di Minang Thaha Ma’ruf menikah dengan seorang gadis belia asli Minang yang kelak mendampinginya hingga akhir hayat. Hj Sariani binti H Muhammad Yasin. begitulah gadis itu biasa dipanggil. Sejak kecil Sariani telah dipanggil Hajjah, kerena sejak berusia lima tahun beliau telah diajak berangkat ke tanah suci Makkah-Madinah untuk pertama kalinya, beberapa kali ia pulang pergi ke Haramain sebelum akhirnya dinikahkan dengan pemuda Thaha Ma’ruf, seorang guru agama militan asal Banjar yang telah diterima sebagai bagian dari penduduk Minang. Keluarga Istrinya ini adalah sebuah keluarga saudagar kaya raya yang memiliki keseharian hidup agamis. Hj. Sariani pun seorang da’iyah handal sejak awal, sekaligus juga adalah pengatur keuangan keluarga yang terbukti sangat ulet.

Kehandalan Hj Sariani ini menjadi penting ketika terjadi peristiwa sanering (pemotongan nilai uang rupiah menjadi setengahnya), di mana setiap nominal mata uang di atas lima rupiah harus dipotong setengahnya. Kondisi ini cukup membuat orang-orang kaya kalang kabut, terutama bagi mereka yang tidak memiliki cadangan uang recehan. Nah, Hj Sariani inilah yang rupa-rupanya menyimpan cukup banyak cadangan uang recehan, sehingga keuangan keluarga cukup tertolong karena nilai mata uang dibawah lima rupiah tidak mengalami penyusutan.

Terbukti kemudian pasangan muda ini kedua-duanya aktif sebagai kader pejuang unggul yang mampu mensinergikan antara perjuangan bangsa dan dakwah keagamaan dalam satu tarikan nafas bahtera rumah tangga mereka. Thaha Ma’ruf, selain menjadi wartawan di Harian Penerangan, juga aktif sebagai guru di berbagai sekolah dan majlis taklim, sehingga ia mampu menanamkan rasa kecintaan masyarakat dan seluruh anak didiknya terhadap perjuangan bangsa dan agama sekaligus.

Hal ini senyatanya menjadi sebuah fakta ketika pada tahun 1953, dalam usia 33 tahun, Beliau menjadi pelopor sekaligus deklarator berdirinya Partai NU di wilayah Sumatera Tengah, wilayah yang sekarang menjadi tiga propinsi, Sumatera Barat, Jambi dan Riau. Pendirian partai NU di Sumatera Tengah ini dilaksanakan setelah selama enam tahun Thaha Ma’ruf bergulat dalam perjuangannya sebagai Sekretaris Jenderal PERTI yang berpusat di Bukittinggi.

Tiga tahun setelah mendirikan partai NU di Sumatera Tengah, Beliau hijrah ke Jakarta sebagai anggota Pengurus Besar NU (PBNU) dan aktif dalam perjuangan Nahdlatul Ulama di level Pusat.

Di Jakarta, Thaha Ma’ruf sekeluarga sempat beberapa kali pindah alamat, dari Kebun Nanas, Matraman hingga Cipinang. Dalam menjalani kehidupannya sebagai aktifis Nahdlatul Ulama di Jakarta ini Beliau selalu didampingi oleh sang istri yang juga seorang aktivis Fatayat-Muslimat NU.

Meski Jakarta adalah tempat yang baru baginya, namun Thaha Ma’ruf tatap dapat selalu mempertahankan kedekatannya dengan masyarakat sekitar. hal ini terbukti ketika pada tahun 1965 terjadi kemelut yang mendebarkan seputar pemberontakan PKI, kediaman Thaha Ma’ruf di Matraman selalu dijaga oleh laskar Ansor setempat atas inisiatif mereka sendiri, bukan permintaan dari shohibul bait ataupun atas instruksi atau komando dari atas.

Selama menjalani kegiatannya sebagai politikus, Thaha Ma’ruf dan istri juga selalu aktif mengisi dakwah-dakwah di tingkat masyarakat bawah. Bahkan meskipun ia telah menjadi unsur pimpinan pusat di “Majlis Ulama” dan da’i tetap di pengajian Masjid Istiqlal.

Bahkan meski berpindah-pindah tempat tinggal, keluarga Thaha ma’ruf tidak pernah meninggalkan sebuah majlis taklim pun di komunitas lamanya.

Thaha Ma’ruf tercatat sebagai anggota DPRGR/MPRS tahun 1960-1970 setelah berdinas di ketentaraan sejak tahun 1946 sebagai Kepala Penerangan yang berkedudukan di Bukittinggi dengan pangkat Mayor. Dari latarbelakang militernya inilah Thaha Ma’ruf senantiasa tegas dalam sikap-sikap politiknya. Ia tidak segan-segan mengkritik kebijakan pemerintah jika dinilainya kurang tepat.

Salah satu gagasan penting yang dicetuskannya dengan sukses adalah kembalinya Indonesia ke pangkuan PBB pada tahun 1966. Dari sinilah kemudian Thaha Ma’ruf dipercaya untuk menjalani berbagai kunjungan kenegaraan ke berbagai wilayah di luar negeri. Termasuk untuk menghadiri Kongres Perdamaian di Moskow tahun 1962 dan mempersiapkan pendirian Konsulat RI. di Seoul, Korea Selatan pada tahun 1968.

Ketika terjadi banyak kemelut antara pemerintah pusat dengan beberapa wilayah termasuk dengan PRRI di Sumatera Barat, Thaha Ma’ruf mengambil sikap pro pemerintah pusat, karena baginya, keutuhan NKRI lebih penting daripada perpecahan antar bangsa. karenanya, hal ini juga menjadikannya berada dalam garis depan untuk menolak setiap bentuk perlawanan terhadap kedaulatan NKRI, termasuk ketika terjadi peristiwa pemberontakan PKI 1965.

Dukungannya yang begitu kuat untuk keutuhan NKRI juga tercermin dari pendirian dan deklarasi NU wilayah Sumatera Tengah, yang diawali oleh argumentasi bahwa semestinya umat Islam di Indonesia memang memiliki sebuah wadah keagamaan yang mencakup dan menjangkau ke seluruh wilayah NKRI, sehingga tidak menimbulkan friksi antar daerah.

KH. Thaha Ma’ruf adalah seorang tokoh yang hidup dalam suasana kesederhanaan dan memiliki keteladanan yang patut diikuti oleh masyarakat muslim. Salah satu kegemaran positif semasa hidupnya adalah bersilaturrahim. Menurut penuturan KH Fadhli Ma’ruf, putera ke-7, semasa hidupnya KH Thaha Ma’ruf sangat gemar bersilaturahim ke Ulama-ulama yang juga adalah teman-teman dan kerabatnya. Selain itu beliau juga sangat gemar berziarah ke makam para Aulia di Jakarta dan sekitarnya, seperti ke Luar Batang, makam KH. Mas Mansur di Tanah Abang dan lain-lain.

Dermawan adalah salah satu sifat positif beliau yang senantiasa dijalankan sepanjang hidupnya. Diceritakan, beliau selalu membawa uang recehan untuk dibagikan kepada siapapun yang memerlukannya di sepanjang perjalanan yang dilaluinya. Konon beliau tidak pernah menolak seorang pun yang datang untuk meminta pertolongan.

Kedekatan dengan para Habaib dan Ulama selalu dijaganya untuk kepentingan dakwah Islamiyah. beberapa teman-teman dekatnya adalah KH Abdullah Syafe’i, KH. Wahid Hasyim dan Habib Ali Kwitang. Beliau juga selalu aktif di Majlis Ta’lim Kwitang, baik sebagai peserta maupun pembicara.

Hingga masa-masa tuanya, Beliau juga masih sangat aktif menulis, terutama artikel-artikel yang berkenaan dengan dakwah islamiyah. Hingga tujuh Jam sebelum beliau menghadap sang Khaliq (Malam Rabu, 6 April 1976 jam 22.00 WIB), KH. Thaha Ma’ruf masih sempat menulis sebuah karangan (artikel dakwah) yang akan diajarkan pada Majlis Ta’lim Masjid Istiqlal. Karangan terakhir ini belum selesai dan ditemukan masih terpasang di atas meja kerjanya.

KH. Thaha Ma’ruf bin Mansur meninggal pada 7 April 1976 dalam usia 56 tahun dengan berstatus sebagai Pengurus Pusat Majlis Ulama Indonesia dengan meninggalkan seorang istri dan delapan anak. Beberapa di antara putera puteri beliau ada yang aktif menjadi pengurus teras PBNU dan banom-banomnya, sementara yang lainnya ada yang mengurus kelanjutan dakwah Islamiyah yang telah dirintis oleh beliau.

Karena Hj Sariani berprinsip bahwa wafatnya suami bukanlah berarti terhentinya perjuangan dalam menegakkan agama Islam, maka pada tahun 1976 pula sang istri dengan dibantu oleh putera-puterinya mendirikan Yayasan Pendidikan Islam Al-Ma’ruf di Cibubur. Yayasan ini bergerak di bidang sosial, pendidikan dan dakwah Islam yang sekarang telah berkembang dan memiliki jenjang pendidikan dari tingkat TK hingga SMU.

Pada mulanya yayasan ini adalah sebuah Musholla kecil, namun masyarakat memintanya dikembangkan sebagai sebuah lembaga pendidikan yang dapat diandalkan. Menurut permintaan masyarakat, hal ini dikarenakan di wilayah tersebut (saat itu masih pinggiran Jakarta), sudah terdapat beberapa musholla, namun justru digunakan untuk main “gaple” karena tidak ada kader-kader yang berkompeten memakmurkannya. Karena itulah, membuat sebuah wadah untuk mencetak kader dakwah menjadi sesuatu yang tidak dapat ditunda lagi.

Ketika Hj Sariani wafat dan dikebumikan di Cibubur, Komplek Yayasan Pendidikan Islam al-Ma’ruf, jasad KH Thaha Ma’ruf juga dipindahkan ke Cibubur untuk bersanding dengan makam isterinya di belakang Masjid. Setelah sebelumnya jasad beliau disemayamkan di pemakaman umum Kebon Nanas.

Semoga Allah SWT menerima segala amal kebaikan dan perjuangan beliau serta mengampuni segala kesahalan dan dosa-dosanya. (Syaifullah Amin)

Sumber : http://www.nu.or.id

Haul Ke 20 Guru Almukarram KH. Muhammad Syarwani Abdan Bangil

ALM. KH. Muhammad Syarwani Abdan (Guru Bangil)

Kecintaan warga Banjar terhadap ulama kharismatik Banua Almukarram KH. Muhammad Syarwani Abdan atau yang lebih akrab disapa dengan Guru Bangil memang sangat luar biasa. Hal ini dibuktikan dengan hadirnya puluhan ribu jemaah yang memadati komplek Pondok Pesantren Datu Kalampayan di Jln. Mujair Kampung Kauman Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Saat mengikuti Peringatan Haul (hari wafat) ke 20 ulama kelahiran Martapura tersebut.

Ribuan kaum Muslimin dari berbagai daerah yang ada di wilayah Indonesia khususnya warga masyarakat dari Provinsi Kalimantan Selatan dan Kabupaten Banjar termasuk dari Malaysia dan Hadral Maut Yaman nampak memadati komplek pengajian Pondok Pesantren Datu Kelampayan, kehadiran mereka adalah untuk mengikuti acara peringatan Haul ke 20 tokoh agama Kota Martapura Almarhum Al- Alimul Allamah KH. Syarwani Abdan atau juga dikenal dengan nama Guru Bangil yang dilaksanakan pada, Minggu (15/2) di komplek pengajian tersebut.
Selain para Habaib dan ulama serta tokoh agama dan masyarakat dari berbagai daerah dan luar negeri. Pada acara Haulan tersebut juga juga dihadiri oleh beberapa pejabat penting di daerah Seperti Gubernur dan Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Banjar, Bupati Pasuruan, serta Bupati Tapin.

Dalam Manaqib yang dibacakan oleh salah satu keturunan KH. Syarwani Abdan menyebutkan, pada usia muda, setelah menuntut ilmu di Pondok Pesantren Darussalam Martapura KH. Syarwani Abdan bermukim di Bangil untuk menuntut ilmu agama kepada ulama-ulama yang berada di wilayah tersebu, diantaranya KH. Muhdar Gondang Bangil, KH. Bajuri Bangil, KH. Ahmad Jufri pasuruan serta KH. Abu Hasan Wetan Alun Bangil.

Pada usia 16 tahun, KH. Muhammad Syarwani Abdan berangkat ke Tanah Suci Mekkah guna meneruskan menuntut ilmu bersama saudara sepupunya yang bernama Al-Alimul Allamah KH.Sya’rani Arif dengan bimbingan dan pengawasan penuh dari paman beliau Al-Alimul Allamah KH.Muhammad Kasyful Anwar.

Selama menuntut ilmu di Kota Mekkah KH. Syarwani Abdan belajar dengan berbagai para ulama yang ada di kota tersebut seperti Sekh Sayyid Muhammad Amin Al-Kutbi, Sekh Sayyid Ali- Almaliki, Sekh Umar Hamdan, Sekh Muhammad Alwi, Sekh Hasan Masy’syat, Sekh Abdullah Al-Bukhari Sekh Saifullah Ad-Dakistani, Sekh Syafii Kedah, Sekh Sulaiman Ambon serta Sekh Ahyat Bogor.

Dengan Berkat Taufik dan Hidayah dari Allah SWT melalui kecerdasan dan kepintaran yang dimilikinya, hanya dalam beberapa tahun menuntut ilmu di kota Mekkah KH. Syarwani Abdan dan KH. Sya’rani Arif dikenal oleh para teman seangkatan serta para guru-gurunya sebagai santri yang cerdas dan pandai serta tawadu dalam menuntut ilmu serta taat terhadap guru-gurunya, dengan alasan tersebut kedua orang tersebut yakni KH. Syarwani Abdan dan KH. Sya’rani Arif dikenal dengan sebutan Dua Mutiara dari Banjar.

Setelah 10 tahun menuntut ilmu di Kota Mekkah KH. Syarwani Abdan dan KH. Sya’rani Arif pulang ke Indoensia. Saat berada di Tanah Air, KH. Syarwani Abdan menggelar pengajian majlis ta’lim di rumah dan mengajar di pondok pesantren Darussalam Martapura, sedangkan di Bangil ia juga menggelar pengajian untuk kalangan umum dan khusus juga untuk para kalangan alim ulama di kota Bangil.

Dan pada tahun 1970 KH. Syarwani Abdan mendirikan sebuah pondok pesantren di wilayah Bangil yang diberi nama Pondok Pesantren Datu Kelampayan, KH. Syarwani Abdan wafat pada tanggal 11 September 1989 sekitar pukul 19.00 WIB dalam usia 76 tahun dan beliau dimakamkan di Bangil.

Sementara itu, selain mengikuti kegiatan Haul KH. Syarwani Abdan yang ke 20, para jamaah dari kabupaten Banjar yang dimpim oleh Wakil Bupati Banjar KH. Muhammad Hatim juga menyempatkan diri utuk berkunjung ke beberapa Habaib dan Tokoh Ulama yang ada di daerah Jawa Timur. Selain itu para rombongan tersebut juga melakukan ziarah ke maqam beberapa Sunan yang ada di wilayah Jawa Timur seperti maqam Sunan Giri dan Sunan Ampel.

Sumber :
*al ikhlas.wordpress.com
*Humas Pekab Banjar
*edit by famhi faqih

TENGKORAK DEMANG LEHMAN


Zegelstempel gebruikt door Pembekel Leman in 1863
“Stempel Demang Lehman” (Koleksi Museum Folken Kunde – Leiden)

Wakil Gubernur Kalimantan Selatan (Kalsel) Rosehan NB berjanji segera “menjemput” tengkorak Demang Lehman yang kini tersimpan di Museum Leiden di Belanda. Keinginan untuk mengambil tengkorak seorang panglima perang dalam Perang Banjar itu disampaikan Wagub di Aula Abdi Persada Pemprov Kalsel, Rabu (4/2).

Menurut Wagub beberapa waktu lalu, dia menerima kabar dari salah seorang arkeolog asal Yogyakarta, yang mengatakan bahwa kepala Demang Lehman masih tersimpan di salah satu museum di Belanda. Saat itu, arkeolog tersebut meminta kepada pejabat museum setempat untuk mengambil tengkorak itu untuk dibawa pulang ke Indonesia sebagai bukti peninggalan sejarah, tetapi ditolak karena pihak museum hanya mau menyerahkan tengkorak tersebut jika diambil langsung oleh pejabat publik daerah asal Demang Lehman.

“Mungkin ketentuan tersebut dimaksudkan agar ada pertanggungjawaban yang jelas sehingga tidak sampai hilang atau dimanfaatkan untuk hal-hal yang tidak semestinya,” katanya.

Untuk itu, kata Wagub, pihaknya akan segera menelusuri sejarah dan kebenaran tentang keberadaan tengkorak kepala pejuang yang menjadi kebanggaan warga Kalsel. Selain menelusuri keberadaan tengkorak tersebut, Wagub juga berjanji segera melakukan penelusuran terhadap situs-situs sejarah, untuk mengetahui di mana Demang Lehman dimakamkan. Hingga kini tidak ada masyarakat yang mengetahui makam pejuang yang dikenal sangat sakti dan tabah pada masanya itu.

Menurut Wagub, berdasarkan sejarah, Kiai Demang Lehman adalah salah seorang panglima perang dalam Perang Banjar. Gelar Kiai Demang merupakan gelar untuk pejabat yang memegang sebuah lalawangan (distrik) di Kesultanan Banjar. Demang Lehman semula merupakan seorang panakawan (asisten) dari Pangeran Hidayatullah sejak tahun 1857. Demang Lehman lahir di Martapura pada tahun sekitar 1837, mula-mula bernama Idis.

Oleh karena kesetiaan dan kecakapannya dan besarnya jasa sebagai panakawan dari Pangeran Hidayatullah, dia diangkat menjadi Kiai sebagai Kepala Distrik Riam Kana. Pada masa perjuangan melawan Belanda, Demang Lehman dikenal sebagai pejuang yang tidak kenal kompromi hingga akhirnya dia ditangkap di daerah Gunung Pangkal Batulicin, Tanah Bumbu, kemudian diangkut ke Martapura.

Pemerintah Belanda menetapkan hukuman gantung sampai mati di Martapura, sebagai pelaksanaan keputusan Pengadilan Militer Belanda tanggal 27 Februari 1862. Setelah selesai digantung dan mati, kepala Demang Lehman dipotong oleh Belanda dan dibawa oleh Konservator Rijksmuseum van Volkenkunde Leiden. Kepala Demang Lehman dikabarkan disimpan di Museum Leiden di Negeri Belanda sehingga mayatnya dimakamkan tanpa kepala.

sumber : antara.com, kompas.com



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.