Archive for the 'Islam & Kebudayaan Banjar' Category



MEMBEDAKAN PERMATA ASLI DAN IMITASI

05-Feb-2009 14:31:01

berlian

Bagaimana sih caranya membedakan permata asli dan imitasi?

Pertanyaan di atas sering dilontarkan oleh orang yang awam akan permata. Ya, sebelum kita belanja permata, sebaiknya kita mengetahui dulu ciri-ciri permata asli dan imitasi. Hal ini sangat penting kita ketahui karena bila tidak demikian , tidak jarang orang membeli permata palsu walaupun si penjual sudah meyakinkan bahwa permata yang dibelinya itu adalah asli. Akhirnya kita sendiri yang akan kecewa dan kita pun mengalami kerugian besar.

Berdasarkan pengalaman saya selama berdagang permata, banyak di antara pembeli yang merasa kecewa setelah diberitahukan permata yang dibelinya di suatu tempat itu bukan permata alami tapi hasil tiruan tangan manusia. Bahkan ada di suatu daerah segerombolan penipu yang selalu beraksi di sebuah taksi. Kerjanya adalah menipu para penumpang dengan cincin permatanya yang palsu tapi dibilangnya asli. Penipu ini bersama beberapa kawannya menjalankan sandiwara dengan mengatakan bahwa dia ingin menjual cincin simpanannya berupa permata yakut dengan harga murah karena terpaksa untuk modal pulang kampung. Ya, dia mengaku sebagai perantau yang kehabisan bekal di tengah jalan dan demi ongkos pulang kampung, maka dia rela menjual cincin simpanannya yang berupa yakut asli itu dengah harga yang sangat murah. Teman di sebelahnya lalu memanas-manasi dengan katanya “Wah ini memang yakut asli dan sekarang harganya sampai dua jutaan. Andai saja aku ada uang sekarang pastilah aku yang akan membelinya.” Begitulah katanya. Penumpang yang tertarik mendengar pembicaraan itu lalu melakukan transaksi dan akhirnya dibelilah permata itu dengan harga beberapa ratus ribu saja. Rubby/merah delima Rubby/merah delima Apakah penumpang tersebut telah membeli yakut itu dengan harga murah?

Ternyata tidak. Dia sebenarnya telah kena tipu dan harga cincin itu sebenarnya tidak sampai ratusan ribu. Paling mahal harganya 80.000 saja. Lho, kenapa? Karena cincin dengan mata yakut itu sebenarnya adalah palsu. Bermodalkan anjuran si penjual / penipu untuk menjual kembali cincin itu ke Martapura, maka orang tersebut pergi ke Martapura dan ingin menjual cincin itu dengan harga 500.000 an. Tapi setelah capek menawarkan ke sana ke mari akhirnya dia kecewa karena tidak ada satu buah toko pun /seorang pun yang berminat membeli cincin kebanggaannya itu. Terakhir sekali dia datang ke toko kami di CBS Martapura, maka tanpa ada yang disembunyikan kami pun mengungkap apa yang sebenarnya dialami oleh orang tersebut. Akhirnya dia sadar bahwa telah kena tipu. Kejadian seperti di atas, tidak satu kali itu saja terjadi dan pada tempat dan penipu yang sama. Bahkan ada seorang polisi yang karena waktu itu dia tidak berpakaian seragam polisi juga kena tipu. Semoga sang penipu lekas sadar akan perbuatan jahatnya dan semoga dia mendapat ganjaran setimpal agar tidak ada lagi orang yang menjadi korban mereka.

Lalu bagaimana, sih caranya membedakan permata asli dan imitasi itu? Simaklah beberapa tips yang saya berikan di bawah ini:

1 Kaca itu bening, sedangkan batu alami kebanyakannya mengandung serat-serat di dalamnya. Sebagian orang awam mengira bahwa batu asli itu pecah, tapi sebenarnya hanya serat-serat alami batu. Jarang sekali ditemukan batu permata alam yang bersih tanpa serat.

2. Coba tempelkan permata itu ke pipi anda. Apakah terasa dingin? Kalau terasa dingin ini bisa merupakan satu ciri bahwa permata anda itu asli.

3. Berat. Coba bandingkanlah permata asli dan tiruan, pasti permata asli lebih berat dari permata palsu.

4. Apabila permata anda si Merah Delima, celupkanlah (permata tsb.) ke dalam gelas bening yang berisi air putih. Apabila air di dalam gelas tsb. berubah warna menjadi merah maka dapat dipastikan batu permata tsb. adalah merah delima asli.

5. Bila permata anda itu adalah berlian, maka untuk membuat anda benar-benar yakin akan keasliannya, maka anda bisa menggunakan alat testing berlian. Sebagian besar penjual menyediakan alat ini.

6. Bila anda masih ragu-ragu juga, sebaiknya bertanyalah kepada ahlinya demi keselamatan anda.

diambil dari : helmi.kabarku.com

tuan guru Kasyful Anwar

5-feb-2009 14:08:00

Pada 18 Syawal 1429 Hijriah akan diperingati 70 tahun wafatnya Hadratusy Syeikh KH Kasyful Anwar, berdasarkan hitungan tahun Qomariyah yang mengikuti peredaran bulan.

Selain kalangan Darussalam dan warga Martapura, sebenarnya tak banyak urang Banjar yang mengetahui riwayat hidup Hadratusy Syeikh, tak lain dikarenakan kurangnya media yang memberitakan. Biografi yang mendalam tentang beliau pun tak bisa kita temukan, karena memang tak pernah ditulis, yang ada hanyalah biografi singkat berbentuk menakib yang tak banyak mengkaji pemikiran orisinil beliau. Sangat disayangkan memang. Padahal, beliau termasuk salah seorang diantara intelektual Banjar yang menorehkan sejarahnya di Mekkah, pusat keilmuan Islam di masa itu. Selama 17 tahun (1313 H/1895 M s/d 1330 H/1911 M) tinggal di bumi Ummul Quro tersebut, selain menuntut ilmu kepada ulama terkemuka – diantaranya Syeikh Umar Hamdan, Syeikh Muhammad Yahya al-Yamani, Syeikh Said al-Yamani dan Sayyid Ahmad bin Sayyid Abu Bakr Syatho- beliau juga dipercaya memberikan pengajaran di Masjidil Haram. Prestasi yang sulit diraih dan terbukti hanya segelintir urang Banjar yang bisa menggapainya.

Memimpin Darussalam

Lain halnya bagi kalangan Pondok Pesantren Darussalam, nama KH Kasyful Anwar sangatlah dikenal di lembaga ini, karena beliaulah yang pertama kali melakukan perombakan sistem pendidikan di pondok pesantren tertua di Kalimantan tersebut (berdiri 14 Juli 1914 M). Sistem jenjang kitab (setelah tamat satu kitab dilanjutkan dengan kitab yang lebih tinggi) yang mulanya dianut diganti dengan sistem jenjang klasikal, berkiblat kepada sistem pendidikan yang diterapkan madrasah-madrasah Timur Tengah, diantaranya Madrasah ash-Sholatiah Mekkah, madrasah tertua di tanah Hijaz (berdiri 1291 H).

Ulama Banjar yang memiliki hubungan darah dengan Maulana Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari (Datuk Kalampayan) tersebut memimpin Darussalam selama 18 tahun (1922-1940). Selama itu, Darussalam merasakan pengorbanan yang tidak tanggung-tanggung dari Hadratusy Syeikh. Waktu, tenaga, pikiran dan harta mengalir deras untuk Darussalam. Sehingga eksistensi lembaga pendidikan Islam yang didirikan oleh aktivis Syarikat Islam KH Jamaluddin (w. 1919 M) tersebut semakin kokoh dan diperhitungkan.

Sebagaimana sering diceritakan al-�Allamah KH Muhammad Zaini Abdul Ghani (Abah Guru Sekumpul) dalam pengajiannya, Hadratusy Syeikh selain menetapkan gaji untuk staf pengajar di Darussalam, beliau juga memberikan santunan yang diambil dari kantong pribadi beliau, sehingga kesejahteraan para asaatidz tercukupi dengannya. Santunan yang tidak diukur dari tingginya kedudukan atau jabatan, namun disandarkan pada kondisi ekonomi si penerima.

Kecuali itu, beliau juga mengupayakan peningkatan kualitas intelektual para pengajar Darussalam. Untuk itulah sekitar tahun 1936-1937 beberapa alumnus Darussalam berangkat ke tanah haram, untuk memperdalam kajian Islam di sana. Sehingga akhirnya Darussalam memiliki ulama ahli Nahwu, Sharaf dan Tasawuf yang diwakili oleh KH Semman Mulya, ahli Tajwid dan Qiraat yang diwakili KH Nashrun Thahir, ahli kaligrafi dan hafizh Qur�an yang diwakili KH A. Nawawi Marfu�, ahli Ilmu Falaz dan Faraidh yang diwakili KH Salman Jalil dan ahli Fiqh yang diwakili KH Abdurrahman Ismail.

Seorang Penulis

Menjalani keseharian sebagai seorang pengajar ditambah memimpin jalannya sistem pendidikan di Darussalam tidaklah menghalangi produktifitas Hadratusy Syeikh dalam bidang penulisan. Umumnya karya tulis beliau ditujukan untuk menunjang keberlangsungan pendidikan di Darussalam. Diantaranya adalah Durus at-Tashrif, sebuah r�salah berbahasa Arab yang mengulas tentang pelajaran ilmu Sharaf (Gramatika) dan kitab Risalah Tajwidul Qur�an, juga ditulis dengan menggunakan bahasa Arab yang berisi tentang Ilmu Tajwid (aturan membaca Alqur�an). Selain itu, beliau yang juga memiliki keahlian di bidang Hadits, memiliki sebuah karya tulis yang merupakan ulasan (syarh) dari Kitab Arba�in an-Nawawi. Kitab yang diberi judul at-Tabyiin ar-Rawi Syarh Arba�in an-Nawawi tersebut ditulis dengan menggunakan huruf Arab berbahasa Melayu. Dalam kitab ini terlihat kedalaman pengetahuan Hadratusy Syeikh di bidang ilmu Hadits.

Yang sangat disayangkan menurut penulis, belum adanya upaya menerbitkan buah karya orisinil Hadratus Syeikh tersebut secara besar, padahal ini sangatlah urgen. Tanpa mengkaji karya beliau secara langsung tak mungkin kita bisa mengetahui pemikiran yang orisinil. Kitab at-Tabyiin ar-Rawi misalnya, selama ini yang beredar hanyalah photocopy dari kitab yang di tashih oleh Muhammad Ismail bin Ya�qub Kelantan, Muhammad Zaini bin Ahmad Serawak dan Abdullah bin Ali Fathani. Kenapa tidak ada urang Banjar yang melakukan tashih ulang, memberikan ulasan dan komentar serta catatan-catatan terhadap kitab ini? Mungkin saja karena memang karena mereka tidak memiliki atau bahkan tidak mengenal kitab tesebut.

Mujaddid?

Karena telah memiliki ilmu yang luas dan dalam sehingga dipercaya untuk mengajar di Masjidil Haram, kemudian pulang ke tanah air, melakukan perombakan sistem pengajaran dan mengupayakan lahirnya intelektual muslim yang mumpuni di bidangnya serta melahirkan beberapa karya tulis di berbagai bidang keilmuan. Lantas, apakah layak seorang Kasyful Anwar menyandang gelar sebagai Mujaddid (Pembaharu)? Hal ini menarik untuk dikaji karena dalam pengajiannya (Abah Guru) al-�Allamah KH Muhammad Zaini Abdul Ghani sering mengatakan bahwa KH Kasyful Anwar termasuk salah seorang mujaddid. Sejauh mana kebenarannya, sebelumnya terlebih dahulu mari kita bahas definisi dari mujaddid itu sendiri.

Istilah mujaddid berawal dari ungkapan Rasulullah Saw, �Sesungguhnya Allah membangkitkan bagi umat ini pada setiap kepala (akhir-awal) seratus tahun, orang yang akan memperbaharui (mujaddid) agama umat ini�. Teks asli dari hadits tersebut diriwayatkan Abi Daud dalam Kitab Malahim, Bab Maa Yudzkaru Fii Qarnil Mi�ah, Al-Hakim dalam al-Mustadrak juz IV halaman 522-523, al-Baihaqy dalam Ma�rifatussunan wal Atsar juz I halaman 123-124, al-Khatib al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad Juz II halaman 6162, Ibnu �Ady dalam al-Kamil Juz I halaman 114. Ulama hadits kontemporer Nashiruddin al-Albani menilai shahih hadits tersebut dan memuatnya dalam Silsilah Ahadits as-Shahihah nomer 599.

Mengenai maksud dari kandungan hadits, mari kita lihat bagaimana komentar para ulama yang ahli dibidangnya. Al-Manawi Rahimahullah dalam kitab Faidhul Qadir (II/281-282) menerangkan, �(Tajdid) berarti menerangkan perbedaan antara sunnah dan bid�ah dan memperluas penyebaran ilmu serta membela ahlul ilmi/ulama. Demikian pula mengalahkan ahli bid�ah dan membuat mereka hina. Para ulama menyatakan bahwa tidak ada yang mampu melakukan upaya yang demikian (tajdid) kecuali seorang yang berilmu dengan ilmu agama lahir dan bathin.�

Sementara itu, Ibnu Katsir Rahimahullah dalam an-Nihayah fil Fitan wal Malahim (hal. 18) mengatakan �Sungguh setiap kaum mengaku bahwa imam merekalah yang dimaksud mujaddid dalam hadits ini. Padahal yang nyata, Wallahu a�lam, yang dimaksud dalam hadits ini sebagai mujaddid meliputi seluruh ulama dari berbagai disiplin ilmu agama, seperti ahli tafsir, ahli hadits, ahli fiqh, ahli nahwu, ahli bahasa Arab dan berbagai disiplin ilmu agama yang lainnya. Wallahu a�lam�

Menurut Ibnu Hajar Rahimahullah dalam Fathul Bari (XIII/295), �Tidak mesti yang datang pada setiap seratus tahun sekali itu hanya satu orang pembaharu saja. Akan tetapi perkaranya ditinjau dari banyak segi, karena sesungguhnya terkumpulnya berbagai keadaan yang membutuhkan pembaharuan padanya, tidak terbatas pada satu macam kebaikan saja dan tidak pula segala kebaikan itu harus terkumpul pada diri seorang pembaharu saja, kecuali apa yang dinyatakan tentang kedudukan Umar bin Abdul Aziz, sebagai pembaharu pada penghujung seratus tahun pertama, karena beliau berkedudukan sebagai kepala pemerintahan kaum muslimin pada waktu itu, dan semua sifat-sifat kebaikan ada pada diri beliau, yang menunjukkan bahwa beliau mujaddid pertama. Karena itulah Imam Ahmad bin Hanbal menyatakan bahwa para salaf telah memaknakan hadits tersebut di atas bagi diri Umar bin Abdul Aziz (sebagai mujaddid). Adapun orang yang datang sesudah beliau seperti Imam Syafi�i, walaupun pada diri beliau terdapat sifat-sifat yang baik, tetapi beliau bukanlah kepala pemerintahan yang dapat memegang komando jihad atau penerapan hukum dengan adil. Oleh karena itu semua ulama yang memiliki salah satu sifat mujaddid pada setiap penghujung seratus tahun berarti dialah yang dimaksud hadits ini, sama saja apakah orangnya banyak atau tidak.�

Pembahasan yang lebih panjang adalah yang dilakukan oleh Imam al-Mubarak bin Muhammad bin al-Atsir al-Jazari Rahimahullah (w. 606 H) dalam Jami�ul Ushul fi Ahaditsir Rasul (XI/320), �Sungguh para ulama telah berbicara tentang penafsiran hadits ini. Setiap mereka menafsirkannya sesuai zamannya masing-masing. Mereka mengisyaratkan bahwa yang dimaksud mujaddid di hadits tersebut ialah orang yang menunaikan pembaharuan di kalangan kaum muslimin terhadap agama mereka pada setiap penghujung seratus tahun. Seolah-olah setiap orang dari para ulama itu (dalam pengertian hadits ini) condong kepada ulama madzhabnya. Sehingga menarik pengertian hadits ini kepadanya. Yang lebih utama dalam perkara ini adalah menarik pengertian hadits ini pada pengertian yang umum, karena sabda Nabi Shalallahu �alaihi wa sallam tentang ini tidaklah mesti menunjukkan bahwa yang dibangkitkan setiap penghujung seratus tahun itu hanya satu orang. Akan tetapi juga menunjukkan kemungkinan dibangkitkan lebih dari satu orang, karena lafadz hadits ini tidak mesti menunjukkan pengertian demikian. Dan hadits ini tidak mesti menunjukkan bahwa mujaddid itu adalah hanya dari kalangan fuqaha (ahli fiqh) sebagaimana pendapat sebagian ulama. Karena umat ini tidak hanya mengambil manfa�at dari para fuqaha saja, walaupun kemanfaatan mereka dalam perkara-perkara (hukum) agama ini lebih merata. Akan tetapi umat ini banyak mengambil manfaat ilmu dan amal dari selain mereka seperti kepala pemerintahan Islam, ahli hadits, para qura� (ahli bacaan al-Qur�an), para ahli nasehat (khatib), serta tokoh-tokoh ahli zuhud�.�. Selanjutnya beliau menjelaskan: �Bahkan semestinya hadits ini dimaknakan bahwa yang dibangkitkan sebagai mujaddid pada setiap penghujung seratus tahun itu ialah orang yang populer dan dikenal serta diperhitungkan keberadaannya pada masing-masing disiplin ilmu yang tersebut di atas. Maka bila hadits ini ditarik pada pengertian yang demikian, tentunya lebih utama dan lebih jauh dari sangkaan yang lemah serta lebih mencocoki hikmah. Karena sesungguhnya perbedaan pendapat para imam itu adalah rahmat dan penetapan mana yang benar dari pendapat-pendapat para ahli ijtihad adalah sesuatu yang mesti dilakukan. Maka bila kita khususkan mujaddid itu pada salah satu madzhab dan kita tafsirkan hadits ini pada pengertian tersebut niscaya madzhab-madzhab lain yang kita tidak cenderung kepadanya itu keluar dari pengertian tajdid yang disebut hadits ini. Sehingga dengan demikian berarti cercaan terhadap berbagai madzhab tersebut. Oleh karena itu, yang lebih baik dan lebih utama kita maknakan hadits ini bahwa Allah SWT akan membangkitkan beberapa orang besar yang terkenal di setiap penghujung seratus tahun yang melakukan tajdid (pembaharuan) terhadap agama kaum muslimin (Islam). Mereka memelihara madzhab kaum muslimin dalam mengikuti para mujtahid dan imam mereka.�

Bila kita cocokkan antara isi hadits � Sesungguhnya Allah membangkitkan bagi umat ini pada setiap kepala (akhir-awal) seratus tahun� dengan Hadratus Syeikh KH Kasyful Anwar yang lahir dipenghujung abad ke 12 dan pada awal abad ke 13 mempersembahkan hidupnya untuk kemajuan agama Islam, melakukan pembaharuan (tajdid) sistem di Darussalam dan pembaharuan-pembaharuan lainnya di bidang keagamaan serta kedalaman dan keluasan ilmu agama yang dimilikinya, tentunya memasukkan beliau dalam daftar mujaddid umat ini seperti yang dilakukan Abah Guru Sekumpul, sangatlah dibenarkan.

Meski demikian kesimpulan yang penulis ajukan, tak tertutup pintu bahkan sangat penulis tunggu adanya penelitian yang lebih mendalam �disertasi misalnya- tentang sosok dan pemikiran Hadratusy Syeikh KH Kasyful Anwar, sebagai pembuktian apakah beliau layak disebut sebagai seorang mujaddid (pembaharu). Kecuali itu, agar ulama Banjar yang mengharumkan banua hingga ke Timur Tengah ini bisa lebih kita kenali.

diambil dari : helmi.kabarku.com

Surat Wasiat Sultan Adam Untuk Pangeran Hidayatullah

Surat Wasiat Sultan Adam Untuk Pangeran Hidayatullah


surat-wasiat.jpg

Naskah Asli tersimpan baik oleh Ratu Yus Roostianah Keturunan garis ke-3 / cicit dari Pangeran Hidayatullah

Surat diatas merupakan tulisan tangan dalam huruf arab berbahasa Melayu Banjar.

Terjemahan :

Bismillahirrahmannirrohim

Asyhadualla ilaha ilalloh naik saksi aku tiada Tuhan lain yang di sembah dengan se-benar2nya hanya Allah

Wa asyhaduanna Muhammadarasululloh naik saksi aku Nabi Muhammad itu se-benar2nya pesuruh Allah Ta’ala

Dan kemudian dari pada itu aku menyaksikan kepada dua orang baik2 yang memegang hukum agama Islam yang pertama Mufti Haji Jamaludin yang kedua pengulu Haji Mahmut serta aku adalah didalam tetap ibadahku dan sempurna ingatanku.

Maka adalah aku memberi kepada cucuku Andarun bernama Pangeran Hidayatullah suatu desa namanya Riyam Kanan maka adalah perwatasan tersebut dibawah ini ;

Mulai di Muha Bincau terus di Teluk Sanggar dan Pamandian Walanda dan Jawa dan terus di Gunung Rungging terus di Gunung Kupang terus di Gunung Rundan dan terus di Kepalamandin dan Padang Basar terus di Pasiraman Gunung Pamaton terus di Gunung Damar terus di Junggur dari Junggur terus di Kala’an terus di Gunung Hakung dari Hakung terus di Gunung Baratus, itulah perwatasan yang didarat.

Adapun perwatasan yang di pinggir sungai besar maka adalah yang tersebut dibawah ini;

Mulai di Teluk Simarak terus diseberang Pakan Jati terus seberang Lok Tunggul terus Seberang Danau Salak naik kedaratnya Batu Tiris terus Abirau terus di Padang Kancur dan Mandiwarah menyebelah Gunung Tunggul Buta terus kepada pahalatan Riyam Kanan dan Riyam Kiwa dan Pahalatan Riyam Kanan dengan tamunih yaitu Kusan.

Kemudian aku memberi Keris namanya Abu Gagang kepada cucuku.

Kemudian lagi aku memberi pula suatu desa namanya Margasari dan Muhara Marampiyau dan terus di Pabaungan kaulunya Muhara Papandayan terus kepada desa Batang Kulur dan desa Balimau dan desa Rantau dan desa Banua Padang terus kaulunya Banua Tapin.

Demikianlah yang berikan kepada cucuku adanya.

Syahdan maka adalah pemberianku yang tersebut didalam ini surat kepada cucuku andarun Hidayatullah hingga turun temurun anak cucunya cucuku andarun Hidayatullah serta barang siapa ada yang maharu biru maka yaitu aku tiada ridho dunia akhirat.

Kemudian aku memberi tahu kepada sekalian anak cucuku dan sekalian Raja-raja yang lain dan sekalian hamba rakyatku semuanya mesti me-Rajakan kepada cucuku andarun Hidayatullah ini buat ganti anakku Abdur Rahman adanya.

Tertulis kepada hari Isnain tanggal 12 bulan Shofar 1259

(Dipublish ulang oleh awir pada Februari 2, 2009)

mengenang guru sekumpul

Alm. KH. Zaini Abdul Ghoni

24-Sep-2008 21:32:00

Alimul ‘allamah Al ‘Arif Billah Asy-Syekh H. Muhammad Zaini Abdul Ghani bin Al ‘arif Billah Abdul Ghani bin H. Abdul Manaf bin Muhammad Seman bin H. M. Sa’ad bin H. Abdullah bin ‘Alimul ‘allamah Mufti H. M. Khalid bin ‘Alimul ‘allamah Khalifah H. Hasanuddin bin Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (Guru Sekumpul), dilahirkan pada, malam Rabu 25 Muharram 1361 H (11 Februari 1942 M).
Nama kecil beliau adalah Qusyairi. Sejak kecil beliau sudah termasuk dari salah seorang yang mahfuzh, yaitu suatu keadaan yang sangat jarang sekali terjadi, kecuali bagi orang-orang yang sudah dipilih oleh Allah SWT.
Beliau adalah salah seorang anak yang mempunyai sifat-sifat dan pembawaan yang lain daripada anak-anak yang lainnya.
‘Alimul ‘allamah Al Arif Billah Asy-Syekh H. Muhammad Zaini Abdul Ghani sejak kecil selalu berada di samping kedua orang tua dan nenek beliau yang benama Salbiyah. Beliau dididik dengan penuh kasih sayang dan disiplin dalam pendidikan, sehingga di masa kanak-kanak beliau sudah mulai ditanamkan pendidikan Tauhid dan Akhlaq oleh ayah dan nenek beliau. Beliau belajar membaca Alquran dengan nenek beliau. Dengan demikian guru pertama dalam bidang ilmu Tauhid dan Akhlaq adalah ayah dan nenek beliau sendiri.
Meskipun kehidupan kedua orang tua beliau dalam keadaan ekonomi yang sederhana, namun mereka selalu memperhatikan untuk turut membantu dan meringankan beban guru yang mengajar anak mereka membaca Alquran, sehingga setiap malamnya beliau selalu membawa bekal botol kecil yang berisi minyak tanah untuk diberikan kepada guru yang mengajar Alquran.
Dalam usia kurang lebih 7 tahun beliau sudah mulai belajar di madrasah (pesantren) Darussalam Martapura.

Guru-guru ‘Alimul’allamah Al ‘Arif Billah Asy-Syekh H. M. Zaini Abdul Ghani, antara lain adalah:

1. Di tingkat Ibtida adalah: Guru Abdul Mu’az, Guru Sulaiman, Guru Muh. Zein, Guru H. Abdul. Hamid Husin, Guru H. Mahalli, Guru H. Rafi’i, Guru Syahran, Guru H. Husin Dakhlan, Guru H. Salman Yusuf

2. Di tingkat Tsanawiyah adalah: ‘Alimul Fadhil H. Sya’rani’Arif, ‘Alimul Fadhil H, Husin Qadri, ‘Alimul Fadhil H. Salilm Ma’ruf, ‘Alimul Fadhil H. Seman Mulya, ‘Alimul Fadhil H. Salman Jalil.

3. Guru di bidang Tajwid ialah: ‘Alimul Fadhil H. Sya’rani ‘Arif, ‘Alimul Fadhil Al Hafizh H. Nashrun Thahir, ‘Al-Alim H. Aini Kandangan.

4. Guru Khusus adalah: ‘Alimul’allamah H. Muhammad Syarwani Abdan Bangil, ‘Alimul’allamah Asy Syekh As Sayyid Muhammad Amin Qutby. Sanad sanad dalam berbagai bidang ilmu dan Thariqat, antara lain diterima dari:
Kyai Falak Bogor (Abah Falak), ‘Alimul’allamah Asy-Syekh Muhammad Yasin Padang (Mekkah), ‘Alimul’allamah Asy-Syekh Hasan Masysyath, ‘Alimul’allamah Asy- Syekh Isma’il Yamani dan ‘Alimul’allamah Asy-Syekh Abdul Qadir Al-Baar.

5. Guru pertama secara Ruhani ialah: ‘Alimul ‘allamah Ali Junaidi (Berau) bin ‘Alimul Fadhil Qadhi H. Muhammad Amin bin ‘Alimul ‘allamah Mufti H. Jamaluddin bin Syekh Muhammad Arsyad, dan ‘Alimul ‘allamah H. Muhammad Syarwani Abdan (Bangil). Kemudian ‘Alimullailamah H. Muhammad Syarwani Abdan menyerahkan kepada Kyai Falak Bogor dan seterusnya Kyai Falak menyerahkan kepada ‘Alimul’allamah Asy-Syekh As-Sayyid Muhammad Amin Qutby, kemudian beliau menyerahkan kepada Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari yang selanjutnya langsung dipimpin oleh Rasulullah Saw. Atas petunjuk ‘Alimul’allamah Ali Junaidi, beliau dianjurkan untuk belajar kepada ‘Alimul Fadhil H. Muhammad (Gadung Rantau) bin ‘Alimul Fadhil H. Salman Farisi bin ‘Allimul’allamah Qadhi H. Mahmud bin Asiah binti Syekh Muhammad Arsyad, untuk mengenal masalah Nur Muhammad; maka dengan demikian di antara guru beliau tentang Nur Muhammad antara lain adalah ‘Alimul Fadhil H. M. Muhammad tersebut di atas.

Dalam usia kurang lebih 10 tahun, sudah mendapat khususiat dan anugerah dari Tuhan berupa Kasyaf Hissi yaitu melihat dan mendengar apa-apa yang ada di dalam atau yang terdinding. Dan dalam usia itu pula beliau didatangi oleh seseorang bekas pemberontak yang sangat ditakuti masyarakat akan kejahatan dan kekejamannya. Kedatangan orang tersebut tentunya sangat mengejutkan keluarga di rumah beliau. Namun apa yang terjadi, laki-laki tersebut ternyata ketika melihat beliau langsung sungkem dan minta ampun serta memohon untuk dikontrol atau diperiksakan ilmunya yang telah ia amalkan, jika salah atau sesat minta dibetulkan dan diapun minta agar supaya ditobatkan.

Mendengar hal yang demikian beliau lalu masuk serta memberitahukan masalah orang tersebut kepada ayah dan keluarga, di dalam rumah, sepeninggal beliau masuk kedalam ternyata tamu tersebut tertidur. Setelah dia terjaga dari tidurnya maka diapun lalu diberi makan dan sementara tamu itu makan, beliau menemui ayah beliau dan menerangkan maksud dan tujuan kedatangan tamu tersebut. Maka kata ayah beliau tanyakan kepadanya apa saja ilmu yang dikajinya. Setelah selesai makan lalu beliau menanyakan kepada tamu tersebut sebagaimana yang dimaksud oleh ayah beliau dan jawabannva langsung beliau sampaikan kepada ayah beliau. Kemudian kata ayah beliau tanyakan apa lagi, maka jawabannyapun disampaikan beliau pula. Dan kata ayah beliau apa lagi, maka setelah berulang kali di tanyakan apa lagi ilmu yang ia miiki maka pada akhirnya ketika beliau hendak menyampaikan kepada tamu tersebut, maka tamu tersebut tatkala melihat beliau mendekat kepadanya langsung gemetar badannya dan menangis seraya minta tolong ditobatkan dengan harapan Tuhan mengampuni dosa-dosanya.

Pernah rumput-rumputan memberi salam kepada beliau dan menyebutkan manfaatnya untuk pengobatan dari beberapa penyakit, begitu pula batu-batuan dan besi. Namun kesemuanya itu tidaklah beliau perhatikan dan hal-hal yang demikian itu beliau anggap hanya merupakan ujian dan cobaan semata dari Allah SWT.

Dalam usia 14 tahun, atau tepatnya masih duduk di Kelas Satu Tsanawiyah, beliau telah dibukakan oleh Allah Swt atau futuh, tatkala membaca ayat:Wakanallahu syami’ul bashiir.
‘Alimul’allamah Al-’Arif Billah Asy-Syekh H. M. Zaini Abdul Ghani, sejak kecilnya hidup di tengah keluarga yang shalih, maka sifat-sifat sabar, ridha, kitmanul mashaib, kasih sayang, pemurah dan tidak pemarah sudah tertanam dan tumbuh subur di jiwa beliau; sehingga apapun yang terjadi terhadap diri beliau tidak pernah mengeluh dan mengadu kepada orang tua, sekalipun beliau pernah dipukuli oleh orang-orang yang hasud dan dengki kepadanya. Beliau adalah seorang yang sangat mencintai para ulama dan orang orang yang shalih, hal ini tampak ketika beliau masih kecil, beliau selalu menunggu tempat tempat yang biasanya ‘Alimul Fadhil H. Zainal Ilmi lewati pada hari-hari tertentu ketika hendak pergi ke Banjarmasin semata-mata hanya untuk bersalaman dan mencium tangan tuan Guru H. Zainal Ilmi.
Di masa remaja ‘Alimul ‘allamah Al ‘Arif Billah Asy-Syekh H. M Zaini Abdul Ghani pernah bertemu dalam rukyah (mimpi) dengan Saiyidina Hasan dan Saiyidina Husien (cucu Nabi Saw) yang keduanva masing-masing membawakan pakaian dan memasangkan kepada beliau lengkap dengan sorban dari lainnya. Dan beliau ketika itu diberi nama oleh keduanya dengan nama Zainal ‘Abidin. Setelah dewasa, maka tampaklah kebesaran dan keutamaan beliau dalam berbagai hal dan banyak pula orang yang belajar. Para Habaib yang tua-tua, para ulama dan guru-guru yang pernah mengajari beliau, karena mereka mengetahui keadaan beliau yang sebenarnya dan sangat sayang serta hormat kepada beliau.
‘Alimul ‘allamah Al ‘Arif Billah Asy-Syekh H. M. Zaini Abdul Ghani adalah seorang ulama yang menghimpun antara wasiat, thariqat dari haqiqat, dan beliau seorang yang hafazh Alquran beserta hafazh tafsirnya, yaitu tafsir Alquran Al-’Azhim lil-Imamain Al-Jalalain. Beliau seorang ulama yang masih termasuk keturunan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dan menghidupkan kembali ilmu dan amalan-amalan serta thariqat yang diamalkan oleh Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Karena itu majelis pengajian beliau, baik majelis ta’lim maupun majelis ‘amaliyahnya di Komplek Raudah Sekumpul seperti majelis Syekh Abdul Kadir al-Jailani.
Sifat lemah lembut, kasih sayang, ramah tamah, sabar, dan pemurah sangatlah tampak pada diri beliau, sehingga beliau dikasihi dan disayangi oleh segenap lapisan masyarakat, sahabat dan anak murid. Kalau ada orang yang tidak senang melihat akan keadaan beliau dan menyerang dengan berbagai kritikan dan hasutan maka beliaupun tidak pernah membalasnya. Beliau hanya diam dan tidak ada reaksi apapun, karena beliau anggap mereka itu belum mengerti, bahkan tidak mengetahui serta tidak mau bertanya.
Tamu-tamu yang datang ke rumah beliau, pada umumnya selalu beliau berikan jamuan makan, apalagi pada hari-hari pengajian, seluruh murid murid yang mengikuti pengajian yang tidak kurang dari 3.000-an, kesemuanya diberikan jamuan makan. Sedangkan pada hari hari lainnya diberikan jamuan minuman dan roti.
Beliau adalah orang yang mempunyai prinsip dalam berjihad yang benar-benar mencerminkan apa apa yang terkandung dalam Alquran, misalnya beliau akan menghadiri suatu majelis yang sifatnya dakwah Islamiyah, atau membesarkan dan memuliakan syi’ar agama Islam. Sebelum beliau pergi ke tempat tersebut lebih dulu beliau turut menyumbangkan harta beliau untuk pelaksanaannya, kemudian baru beliau datang. Jadi benar-benar beliau berjihad dengan harta lebih dahulu, kemudian dengan anggota badan. Dengan demikian beliau benar-benar mengamalkan kandungan ayat Alquran yang berbunyi: Wajaahiduu bi’amwaaliku waanfusikum fii syabilillah.
‘Alimul ‘allamah Al ‘Arif Billah Asy-Syekh H. M. Zaini Abdul Ghani adalah satu-satunya Ulama di Kalimantan, bahkan di Indonesia yang mendapat izin untuk mengijazahkan (bai’at) thariqat Sammaniyah, karena itu banyaklah yang datang kepada beliau untuk mengambil bai’at thariqat tersebut, bukan saja dari Kalimantan, bahkan dari pulau Jawa dan daerah lainnya.
‘Alimul’allamah Al ‘Arif Billah Asy Syekh H. M. Zaini Abdul Ghani dalam mengajar dan membimbing umat tidak mengenal lelah dan sakit. Meskipun dalam keadaan kurang sehat, selama masih mampu, beliau masih tetap mengajar dan memberi pengajian.
Dalam membina kesehatan para peserta pengajian dalam waktu-waktu tertentu beliau datangkan dokter spesialis untuk memberiikan penyuluhan kesehatan sebelum pengajian dimulai, seperti dokter spesialis jantung, paru paru, THT, mata, ginjal, penyakit dalam, serta dokter ahli penyakit menular dan lainnya. Dengan demikian beliau sangatlah memperhatikan kesehatan para peserta pengajian dan kesehatan lingkungan tempat pengajian.
Berbagai karomah (kelebihan) telah diberikan oleh Allah kepada beliau. Ketika beliau masih tinggal di Kampung Keraton (Martapura), biasanya setelah selesai pembacaan maulid, beliau duduk-duduk dengan beberapa orang yang masih belum pulang sambil bercerita tentang orang orang tua dulu yang isi cerita itu untuk dapat diambil pelajaran dalam meningkatkan amaliyah.
Tiba tiba beliau bercerita tentang buah rambutan, pada waktu itu masih belum musimnya; dengan tidak disadari dan diketaui oleh mereka yang hadir beliau mengacungkan tangannya kebelakang dan ternyata di tangan beliau terdapat sebiji buah rambutan yang masak, maka heranlah semua yang hadir melihat kejadian akan hal tersebut. Dan rambutan itupun langsung beliau makan.
Ketika beliau sedang menghadiri selamatan dan disuguhi jamuan oleh shahibul bait (tuan rumah) maka tampak ketika, itu makanan, tersebut hampir habis beliau makan, namun setelah piring tempat makanan itu diterima kembali oleh yang melayani beliau, sesudah dilihat, ternyata makanan yang tampak habis itu masih banyak bersisa dan seakan-akan tidak pernah dimakan oleh beliau.
Pada suatu musim kemarau yang panjang, di mana hujan sudah lama tidak turun sehingga sumur-sumur sudah hampir mengering, maka cemaslah masyarakat ketika itu dan mengharap agar hujan bisa segera turun. Melihat hal yang demikian banyak orang yang datang kepada beliau mohon minta doa beliau agar hujan segera turun, kemudian beliau lalu keluar rumah dan menuju pohon pisang yang masih berada di dekat rumah beliau waktu itu, maka beliau goyang-goyangkanlah pohon pisang tersebut dan ternyata tidak lama kemudian, hujanpun turun dengan derasnya.
Ketika pelaksanaan Haul Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari yang ke 189 di Dalam pagar Martapura, kebetulan pada masa itu sedang musim hujan sehingga membanjiri jalanan yang akan dilalui oleh ‘Alimul ‘allamah Al ‘Arif Billah Asy-Syeikh H. M. Zaini Abdul Ghani menuju ke tempat pelaksanaan haul tersebut. Keadaan itu sempat mencemaskan panitia pelaksana haul tersebut, namun dan tidak disangka sejak pagi harinya jalanan yang akan dilalui oleh beliau yang masih digenangi air sudah kering, sehingga dengan mudahnya beliau dan rombongan melewati jalanan tersebut; dan setelah keesokan harinya jalanan itupun kembali digenangi air sampai beberapa hari kemudian.
Banyak orang orang yang menderita sakit seperti sakit ginjal, usus yang membusuk, anak yang tertelan peniti, ibu yang sedang hamil dan bayinya jungkir (sungsang) serta meninggal dalam kandungan, di mana semua kasus ini menurut keterangan dokter harus dioperasi. Namun keluarga sisakit kemudian pergi minta didoakan oleh ‘Allimul’allamah ‘Arif Billah Asy Syekh H. M. Zaini Abdul Ghani. Dengan air yang beliau berikan kesemuanya dapat tertolong dan sembuh tanpa dioperasi.
Demikianlah di antara karamah dan kekuasaan Tuhan yang ditunjukkan kepada diri seorang hamba yang dikasihi-Nya.

Sebelum wafat, Tuan Guru H.M. Zaini Abdul Ghani telah menulis beberapa buah kitab, antara lain:
– Risalah Mubaraqah.
– Manaqib Asy-Syekh As-Sayyid Muharnmad bin Abdul Karim Al-Qadiri Al-Hasani As-Samman Al-Madani.
– Ar-Risalatun Nuraniyah fi Syarhit Tawassulatis Sammaniyah.
– Nubdzatun fi Manaqibil Imamil Masyhur bil Ustadzil a’zham Muhammad bin Ali Ba’alawy.
Beliau juga sempat memberikan beberapa pesan kepada seluruh masyarakat Islam, yakni:

1. Menghormati ulama dan orang tua
2. Baik sangka terhadap muslimin
3. Murah hati
4. Murah harta
5. Manis muka
6. Jangan menyakiti orang lain
7. Mengampunkan kesalahan orang lain
8. Jangan bermusuh-musuhan
9. Jangan tamak atau serakah
10.Berpegang kepada Allah, pada kabul segala hajat
11.Yakin keselamatan itu pada kebenaran.

Setelah sempat dirawat selama lebih kurang 10 hari di rumah sakit Mount Elizabeth Singapura, karena penyakit ginjal yang beliau derita, pada hari Rabu, 5 Rajab 1426 H bertepatan dengan 10 Agustus 2005, beliau pun kembali menghadap Allah SWT. Innalillahi wa Inna Ilaihi Raaji’un, telah diangkat oleh Allah SWT ilmu melalui kewafatan seorang ulama.

Seluruh masyarakat Kalimantan merasa kehilangan seorang Tuan Guru yang menjadi panutan, penerang, dan penyuluh kehidupan umat. Kini umat Islam di Martapura dan Kalimantan Selatan umumnya, menantikan kembali, hadirnya generasi baru –ulama panutan– yang akan menggantikan atau paling tidak memiliki kharisma dan ilmu sebagaimana yang dimiliki oleh Guru Sekumpul, untuk memimpin dan membimbing umat menuju kedamaian di bawah ridha Allah SWT.

PERJUANGAN AL-BANJARI MEMBERSIHKAN DAN MENJAGA TAUHID URANG BANJAR

Syech Muhammad Arsyad Al Banjari

24-Sep-2008 21:32:00

Pengantar
Kebesaran, keilmuan, ketokohan, jasa, dan perjuangan Al-Banjari mendakwahkan Islam di Bumi Kalimantan tidak diragukan lagi. Jejak emas dan khazanah pemikiran keagamaan dan kemasyarakatan yang beliau tinggalkan hingga sekarang menjadi teladan dan inspirasi untuk membangun masyarakat. Popularitas Al-Banjari tidak hanya di Bumi Kalimantan ataupun Tanah Melayu, akan tetapi juga Asia Tenggara. Tahun ini adalah haul Al-Banjari yang ke-201 tahun. Terobosan apa yang bisa kita lakukan untuk menggali dan mewariskan keilmuan, perjuangan, serta semangat keislaman Al-Banjari?
Untuk membumikan Islam, bidang garapan dakwah Al-Banjari menyentuh banyak persoalan, mulai bidang keagamaan, kemasyarakatan, hingga kenegaraan. Salah satu bidang keagamaan yang menjadi perhatian Al-Banjari adalah masalah ketauhidan (keimanan), terkait dengan berbagai upacara, kepercayaan, dan ritual yang dilakukan oleh masyarakat Banjar pada masa dulu. Bagaimana upaya Al-Banjari dalam membersihkan dan menjaga ketauhidan urang Banjar? Inilah yang menjadi fokus dari tulisan berikut.

Menjaga Ketauhidan
Berbagai upaya telah dilakukan oleh Al-Banjari untuk meluruskan keimanan dan menjaga ketauhidan orang Islam Banjar dari segala hal yang membawa kemusyrikan, di antaranya:
Pertama, menyampaikan dakwah lisan secara tegas dan jelas kepada seluruh kelompok masyarakat melalui aktivitas dakwahnya. Baik dengan menjelaskan berbagai hal yang terkait dengan ketauhidan, hal-hal yang dapat merusak ketauhidan, upaya meningkatkan, sekaligus menjaga ketauhidan dari perilaku-perilaku yang membawa kesyirikan. Al-Banjari bahkan melibatkan pula kelompok istana untuk mendukung dakwahnya. Terutama ketika Al-Banjari menjelaskan dan menegaskan hukum upacara tradisional manyanggar banua dan mambuang pasilih yang biasa dilakukan oleh masyarakat Banjar yang masih terpengaruh oleh keyakinan nenek moyang saat itu.
Upacara manyanggar banua adalah semacam upacara bersih desa (di Jawa dikenal dengan istilah upacara ruwatan), maksudnya agar desa selamat dari marabahaya dan mendapat kesejahteraan (kemakmuran) bagi penduduknya. Sedangkan upacara mambuang pasilih merupakan semacam upacara memberi sesaji kepada roh halus (roh nenek moyang) dengan maksud agar mendapat bantuannya dalam kehidupan, seperti menyembuhkan penyakit, membawa keselamatan, menghilangkan sial, dan mensukseskan segala permintaan. Komunikasi dengan roh tersebut dilakukan melalui seseorang (dukun) yang kesurupan, karena dimasuki oleh roh halus tersebut dalam jasadnya, sehingga bisa berbicara dengan mereka untuk mengetahui segala permintaan yang disampaikan oleh roh halus tersebut. Permintaan roh itu dipenuhi dengan sesaji yang telah disajikan melalui upacara tertentu.
Menurut Al-Banjari, upacara manyanggar banua dan mambuang pasilih, hukumnya adalah bid’ah dhalalah yang amat keji, wajib atas orang yang mengerjakannya segera taubat daripadanya, dan wajib atas segala raja-raja dan orang besar menghilangkan dia, karena yang demikian itu daripada pekerjaan maksiat yang mengandung kemunkaran.
Menurut Al-Banjari ada tiga macam kemunkaran yang terdapat dalam kedua upacara tersebut. Pertama, membuang-buang harta pada jalan yang diharamkan sama dengan mubazir, orang yang mubazir adalah teman setan, sebagaimana ditegaskan oleh QS. Al-Israa 27. Kedua, dalam upacara tersebut terkandung makna mengikuti setan dengan memenuhi segala permintaannya, padahal dalam Alquran tegas-tegas dinyatakan larangan untuk mengikuti setan, misalnya dalam QS. Al-Baqarah 208. Ketiga, dalam kedua upacara tersebut sudah memenuhi atau mengandung unsur kemusyrikan (perbuatan syirik) dan bid’ah sayyi’ah yang dilarang karena bertentangan dengan ajaran Islam.
Dilihat dari segi akidah, hukum dari kedua upacara tersebut menurut Al-Banjari dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Bila diyakini bahwa tidak tertolak bahaya kecuali dengan upacara atau dengan kekuatan yang ada pada upacara tersebut, maka hukumnya kafir.
2. Bila diyakini bahwa tertolaknya bahaya adalah karena kekuatan yang diciptakan Allah pada kedua upacara tersebut, maka hukumnya bid’ah lagi fasik, tetapi tetap hukumnya kafir menurut ulama.
3. Bila diyakini bahwa kedua upacara tersebut tidak memberi bekas, baik dengan kekuatan yang ada padanya maupun dengan kekuatan yang dijadikan Tuhan padanya, tetapi Allah jua yang menolak bahaya itu dengan memberlakukan hukum kebiasaan (hukum adat) dengan kedua upacara tersebut, maka hukumnya tidak kafir, tetapi hukumnya bid’ah saja. Namun bila diyakini bahwa kedua upacara itu halal atau tiada terlarang maka hukumnya juga kafir.
Dalam memberantas upacara-upacara tradisional seperti tersebut di atas, Al-Banjari tidak saja memberikan keputusan hukum seperti telah diuraikan, dia juga berusaha mematahkan segala argumen yang mungkin ataupun dikemukakan oleh para pelakunya untuk membenarkan apa yang telah mereka lakukan dalam upacara tersebut. Secara dialogis, Al-Banjari menggambarkan hal itu dalam kitabnya Tuhfah al-Raghibin, antara lain dijelaskan sebagai berikut:
1. Para pelaku mengatakan bahwa mereka hanya memberi makan manusia yang gaib (tidak mati) pada zaman dahulu dari kalangan raja-raja. Mereka itu diberi makan dengan warna makanan yang disajikan, sehingga tidak mubazir. Dengan itu mereka mengatakan bahwa mereka tidak meminta tolong untuk minta bantuannya dalam kehidupan ini. Untuk alasan ini, Al-Banjari menjawab bahwa alasan seperti itu tidak berdasarkan pada Alquran, hadits, atau pendapat ulama, tetapi hanya berdasarkan pada mitos saja, yang tidak bisa diperpegangi oleh umat Islam dalam keyakinannya. Justru itu tidak boleh dikerjakan meskipun sesaji yang yang diletakkan di tempat manyanggar itu dimakan manusia atau binatang, maka tetap saja hukumnya haram dan bid’ah, karena mubazir dan kebid’ahannya.
2. Para pelaku memang beralasan dengan dasar mitos atau dari orang yang kasarungan (kerasukan) manusia-manusia gaib yang mengharuskan mereka melakukannya. Al-Banjari menegaskan bahwa kedua dasar itupun tidak bisa diterima. Mitos tidak bisa digunakan sebagai dalil keyakinannya, sedangkan yang manyarung tersebut adalah setan yang selalu membisikkan hal-hal yang negatif bagi agama. Sebab, hanya malaikat dan setan yang bisa manyarungi manusia, sedangkan malaikat selalu membisikkan hal-hal yang baik menurut agama, sebagai kebalikan dari seruan setan. Demikianlah penjelasan dari hadits Nabi yang dikutip Al-Banjari.
3. Para pelaku mengatakan pula bahwa yang mereka beri makan itu adalah setan juga, tetapi memberi makan mereka itu adalah seperti memberi makan kepada anjing, jadi suatu perbuatan yang mubah. Al-Banjari menjawab bahwa alasan itupun tidak logis, karena yang dikatakan itu tidak sesuai dengan yang ada dalam hati di mana mereka sangat menghormat kepada setan itu dengan bukti pemberian makanan tersebut yang penuh dengan keindahan dan makanan-makanan yang istimewa.
Mulai dari pendekatan hukum syar’i dan pendekatan akidah terhadap upacara-upacara tradisional yang masih banyak dilakukan oleh masyarakat, sampai kepada dialognya dengan para pelaku upacara untuk meruntuhkan argumentasi mereka yang membenarkan upacara tersebut, tampak sekali adanya pemikiran Al-Banjari tentang pemurnian akidah, yang diusahakannya sendiri dalam pelaksanaannya, di samping minta partisipasi para kaum bangsawan dan pembesar negeri untuk memberantasnya. Tindakan Al-Banjari yang terakhir ini memang tepat, sebab yang banyak melakukan upacara-upacara tersebut adalah dari kalangan kaum bangsawan, di mana dia sendiri termasuk dalam lingkungan masyarakat tersebut.
Kedua, mengirim, mengutus, dan menyebarkan kader-kader dakwah keberbagai daerah untuk menjadi penyuluh masyarakat. Kader dakwah yang telah dididik oleh Al-Banjari dengan ilmu-ilmu agama ini terdiri dari anak cucu dan murid-muridnya menjadi agen dakwah yang penting untuk lebih menyebarluaskan dan memeratakan dakwah Islam ke berbagai kelompok masyarakat dan pelosok daerah. Sehingga dengan upaya tersebut, akselarasi dakwah semakin luas dan terbuka. Melalui mereka ini pulalah, peningkatan dan pemahaman masyarakat terhadap ajaran Islam dan keimanan semakit ditingkatkan.
Ketiga, untuk lebih menguatkan dakwah lisannya tersebut, Al-Banjari juga menulis dan membahas hal-hal penting tentang keimanan (ketauhidan) dalam kitabnya yang berjudul Tuhfah ar-Raghibin min haqiqatil Imani wa Yufsiduhu.
Kitab ini ditulis oleh Al-Banjari pada tahun 1188 H (1774 M) dan pernah diterbitkan di Mesir pada 1353 H. Pernah terjadi perdebatan di antara kalangan tertentu berkenaan dengan kitab ini, yang mempersoalkan apakah karya tulis Al-Banjari atau Al-Palimbani. Misalnya, dalam disertasi (yang kemudian dijadikan buku “Mengenal Allah Suatu Studi Mengenai Ajaran Tasawuf Syekh Abdus Samad AI-Palimbani”), M. Chatib Quzwaini menyatakan bahwa kitab ini bukan tulisan Al-Banjari, tetapi tulisan dari sahabatnya, yakni Syekh Abdus Samad Al-Palimbani. Pernyataan dari M. Chatib Quzwaini mendapat sanggahan keras dari berbagai kalangan, terutama dari Wan Mohd. Shagir Abdullah (Pengkaji Naskah Ulama Melayu-Malaysia). Dengan tegas, berdasarkan fakta dan data-data yang ada, Wan Mohd. Shagir Abdullah menyatakan bahwa kitab tersebut adalah karya Al-Banjari, bukan Al-Palimbani. Menurut Shagir Abdullah, pernyataan M. Chatib Quzwaini yang mengutip pendapat dari P. Voorhoeve adalah keliru.
Ada beberapa alasan dan argumentasi yang dikemukakan oleh Wan Mohd Shagir Abdullah ketika membantah kekeliruan pendapat M. Chatib Quzwaini.
1. Dalam tulisan Syekh Daud bin Abdullah al-Fathani disebutkan: “Maka disebut oleh yang empunya karangan Tuhfatur Raghibin fi Bayani Haqiqati Imanil Mu’minin bagi ‘Alim al-Fadhil al-‘Allamah Syekh Muhammad Arsyad.”
2. Dalam tulisan Syekh Abdurrahman Shiddiq al-Banjari dalam Syajaratul Arsyadiyah dinyatakan: “Maka mengarang Maulana (maksudnya Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari) itu beberapa kitab dalam bahasa Melayu dengan isyarat Sultan yang tersebut, seperti Tuhfatur Raghibin …” Pada halaman lain dinyatakan pula: “Maka Sultan Tahmidullah Tsani ini, ialah yang disebut oleh orang Penembahan Batu, dan ialah yang minta karangkan Sabilul Muhtadin lil Mutafaqqihi fi Amrid Din dan Tuhfatur Raghibin fi Bayani Haqiqati Imani Mu’minin wa Riddatil Murtaddin dan lainnya kepada jaddi (Maksudnya: datukku) Al-‘Alim al-‘Allamah al-‘Arif Billah asy-Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari”.
3. Dalam kitab Tuhfah ar-Raghibin yang diterbitkan oleh percetakan Istanbul dan kemudian dicetak kembali oleh Mathba’ah Al-Ahmadiah, Singapura tahun 1347 H, pada cetakan kedua dinyatakan: “Tuhfatur Raghibin … ta’lif al-‘Alim al-‘Allamah asy-Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari”. Di bawahnya tertulis, “Telah ditashhihkan risalah oleh seorang daripada zuriat muallifnya, yaitu Abdurrahman Shiddiq bin Muhammad ‘Afif mengikut bagi khat muallifnya sendiri …”. Di bawahnya lagi tertulis: “ini kitab sudah cap dari negeri Istanbul fi Mathba’ah al-Haji Muharram Afandi”.
4. Terakhir sekali Mahmud bin Syekh `Abdurrahman Shiddiq al-Banjari mencetak kitab Tuhfah ar-Raghibin itu disebutnya cetakan yang ketiga, nama Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari tetap dituliskan sebagai pengarangnya.
Berdasarkan alasan di atas, pendapat yang menyatakan bahwa Kitab Tuhfaturraghibin merupakan karya tulis Al-Banjari lebih kuat dan meyakinkan untuk diikuti. Bahkan, jika melihat dari backround kitab tersebut, kita juga bisa simpulkan, betapa kental kultur Banjar yang ada di dalamnya. Ditambah lagi dengan istilah-istilah tertentu yang memang sudah umum dipakai oleh masyarakat Banjar. Karena itu, tidak diragukan lagi, kitab ini memang salah satu karya tulis Al-Banjari.
Kitab Tuhfah ar-Raghibin ini membicarakan masalah tauhid (keimanan). Isinya cukup ringkas, dan terdiri terdiri dari muqaddimah, tiga fasal, dan penutup. Pasal pertama berkenaan dengan hakikat iman, pasal kedua berkenaan dengan perkara-perkara yang merusak keimanan, dan pasal ketiga berkenaan dengan syarat yang menimbulkan murtad dan hukum-hukum yang berkaitan dengannya. Tetapi dengan tiga pasal itu sudah dapat dipahami oleh masyarakat, makna tentang keimanan, kemudian hal-hal yang dapat merusak keimanan, baik dari segi membuat perkataan kufur, melakukan perbuatan yang kufur, ataupun keyakinan (i’tikad) yang kufur. Ketiga jenis hal yang merusak keimanan dimaksud, baik dilakukan dengan sengaja, dengan maksud bersenda gurau, ataupun berbantahan.
Menurut Al-Banjari, iman seseorang akan binasa atau rusak karena riddah (murtad). Riddah menurut bahasa berarti kembali dari sesuatu dan menurut syara’ berarti memutuskan Islam dengan perbuatan, perkataan, atau keyakinan yang mengkafirkan. Di antara perbuatan, perkataan, atau keyakinan yang dianggap Al-Banjari mengkafirkan atau membinasakan iman, ada yang hanya bersifat merusak iman zhahir, yaitu menyebabkan tidak diberlakukan hukum Islam terhadap yang memperbuatnya, meskipun dia masih tetap mempunyai iman bathin. Misalmya sujud kepada makhluk dengan menghantarkan dahi ke bumi dan bila tidak diiringi dengan keyakinan membesarkannya seperti Tuhan. Di antaranya ada yang hanya membinasakan kesempurnaan iman seseorang seperti bersalah-salahan sesama Islam lebih dari tiga hari atau tujuh hari, maksudnya tidak bertegur sapa sesama muslim selama itu. Ada pula yang betul-betul merusak iman secara keseluruhan (zahir dan bathin), seperti mengatakan dan mengitikadkan bahwa Allah suatu yang baharu, alam semesta adalah qadim, Allah tidak bersifat tahu, dan sebagainya.
Hal-hal yang dapat merusak atau membinasakan keimanan dimaksud, baik dari dari segi perkataan, perbuatan, atau keyakinan dapat dijelaskan sebagai berikut:
Pertama, perkataan kufur, yakni perkataan-perkataan yang diucapkan oleh seseorang baik dengan sengaja, bersenda gurau ataupun berbantahan yang bermakna tidak mengakui, mendustakan, menyangsikan (meragukan), menghinakan atau merendahkan hal-hal yang terkait dengan keislaman dan keimanan. Misalnya, berkata bahwa tidak akan mentaati suruhan Allah dan Rasul-Nya, mendustai risalah kenabian, menyangsikan Nabi apakah seorang manusia atau jin, mengecilkan satu anggota nabi dan menghinakannya, mengucap bismillah ketika berbuat maksiat, tidak takut dengan hari kiamat dan menganggapnya sepele, mengucap basmalah waktu akan berbuat maksiat, mengatakan bahwa Allah zalim karena menyuruhnya shalat meskipun sedang sakit, menyerupakan orang zalim dengan malaikat Zabaniyah, menyerupakan orang yang berparas jelek dengan malaikat Munkar dan Nakir, menghalalkan yang diharamkan oleh ijma’ seperti jual beli dan nikah, dan sebagainya.
Kedua, perbuatan kufur dimaksud misalnya, sujud kepada makhkuk dengan meletak dahi ke bumi, menghampirkan diri kepada makhluk dengan menyembelih kambing umpamanya, membuang Quran atau kitab syaradi tempat najis dan keji, menafikan sifat-sifat dan ilmu Allah, mendustakan nabi dan malaikat, meringankan keduanya atau menyembah keduanya, mendustakan ayat-ayat Alquran, menolak yang diwajibkan dan mewajibkan yang tidak diwajibkan, mengaku diri sebagai nabi dan mengakui kenabian orang lain, mengatakan kafir kepada orang Islam tanpa bukti, dan lain-lain.
Ketiga, i’tikad atau kepercayaan kufur, misalnya, percaya ada Tuhan selian Allah, beriktikad sifat dirinya dekat dengan sifat Allah, beriktikad Allah memberi makan minum kepadanya tiada haram halal lagi, mengaku sampai kepada Allah dengan jalan lain daripada ubudiyyah atau memperhambakan diri kepada-Nya, mengaku dirinya sampai kepada maqam gugur hukum syara‘,membaca Alquran sambil memukul rebana, dan lain-lain.
Melihat banyaknya macam perbuatan, perkataan dan keyakinan yang bisa merusak iman seseorang, sebagaimana yang dideskripsikannya dalam Tuhfah al-Raghibin, maka jelaslah maksud Al-Banjari agar iman dan ketauhidan orang Banjar terjaga dari hal-hal yang dapat menodainya. Lebih dari itu, agar keimanan tersebut juga bersih dan berfungsi secara optimal dalam diri masyarakat. Sehingga dengan penjelasan yang terperinci, menjadi satu pelajaran penting bagi masyarakat dalam mengarahkan dan mengontrol segala tindakannya, perbuatan, perkataan, dan keyakinannya agar tidak melakukan hal-hal yang dapat membinasakan atau merusak keimanan tersebut, namun sebaliknya harus menjaga, memupuk, dan terus meningkatkan kesempurnaan keimanan.

Kesimpulan
Demikianlah, Al-Banjari telah berjuang dan mendakwahkan Islam untuk seluruh masyarakat. Perjuangan dakwah yang panjang, tak kenal lelah dan patut menjadi teladan kita semua, hingga kemudian batasan umur yang telah digariskan sampai. Setelah melakoni hidup, memenuhi kewajiban, dan memperjuangkan dakwah di bawah panji-panji Islam, meletakkan dasar-dasar Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, mewariskan khazanah keilmuan dan pemikiran melalui karya tulisnya, maka pada tanggal 6 Syawal 1227 H dalam usia 105 tahun, Syekh Muhammad Arsyad kembali ke-hadirat Allah Swt. Sesuai dengan amanatnya, beliau kemudian dimakamkan di desa Kalampayan Kecamatan Astambul Martapura.
“Ingatlah sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa” (QS. Yunus 62-63).

kamus bahasa banjar

24-Sep-2008 21:32:00

A

abut – membuat kerja tidak tenang
acan – belacan
ading – adik
alun – lemah lembut
ambin – teras rumah
ambung – lambung
ampah – arah/ hala
ampal – masakan ayam/ daging dipotong besar
ampar – hampar
ampih – berhenti, sembuh
ampik – tepuk tangan
ampun – empunya
amun/ mun – jika
ancak – tempat barang dibelakang basikal
ancaman – akan dilakukan
ancap – cepat
andak – letak
andah – tumpangan, tempat sementara
andika – awak, panggilan hormat
andin – rambut kanak-kanak yang dibotakkan dan ditinggal sedikit didepan atau belakang
anggal – kerja yang tidak diselesaikan ( baanggalan)
anggap – ambil hati
anggung (tanggung) – angkat, bawa
angkal – tidak dalam, tidak serius
angkung – tebas
angoi – binatang berubah warna
angsul – kembalian uang belanja
anjung – julang
antal – rasa tak puas
antui-antui – bergantungan
anu – (di-anu)di buat (si-anu) – sidia
anum – muda
apik – cermat
arai – senang
arang – tanah yang tidak diusahakan/ terbiar
aruh – kenduri
arum – harum
asaan – malu-malu
asap – sampai hati
asuh – riba
atang – tempat memasak (dapur kayu)
atar – hantar
atawa -atau
atoi – tok mudim
auhi – panggil, jerit
aur – sibuk bekerja, ganggu
awak – badan
awan/ lawan/ wan – dan, dengan
awau – gema
awit – tahan lama
ayan – besen kecil dibuat dari logam (aluminium)
ayuha – marilah

Top
B

baaadu – selalu melaporkan
baaci/ baasi – memulai kerja dengan bersungguh-sungguh
baadu – berlawan, beradu
baaga – anak kecil sedang belajar berbicara
baal – lembap
baampik – bertepuk tangan
baandah – singgah/berpindah kesuatu ditempat (sementara)
banggalan – kerja yang tak disiapkan
baasa – memulai lagi/mengulang
baasaan – was-was, rasa malu
baastilah – memulai dengan rencana
baantui – berpegangan dengan tali
baayun – bergayut
babacaan – majelis ta’lim sedang berkumandang
babahup – berkongsi
babak – buka ikatan/jahitan
babat – ikat
babau – berbau
babaya – hampir
bacaca – sebutan belum berapa betul.
bacalumut – comot
bacara – sifat semula jadi
bacuring – kotor, tanda bergaris-garis
bacurit – bertanda sedikit seperti garisan
badadas – pergi dengan cepat, tergesa-gesa
badangkak – sedang jongkok
badapatan – bertemu
badarau – gotong-royong, dengan serentak
bagadang – bergadang
bagamat – perlahan
bagana – diam/ tempat tinggal
bagarigis – permukaan tak licin dan berbulu
bagarit – memburu
bawakar – dikawal ( kada bawakar – tidak dikawal)
bagaya – bergurau
bagibik – putaran yang bergetar
bagirap – bercahaya
bagulir – bergelinding
bagurai – berguris kerana luka atau dicakar
bahalolong – melolong
bahaman – gigi geraham
bahambur – bertabur, buat sampah
bahandung – bersandar
bahanu – kadang-kadang
baharaan – mudah-mudahan
bahari – zaman dulu
bahaul – kenduri arwah
bahimat – bersungguh-sungguh
bahinak – bernafas
bahinip – menyembunyikan diri
bahintabol – menari-nari kesukaan
bahira – buang air besar
bahiri – iri hati
bahual – bersusah payah, bertengkar
bahujung – untung
bahum – ikut suka hati
bahupan – berkongsi
baigal – menari-nari
baimbai/ baumbai – bersama-sama
baindah – menolak tawaran, memberi alasan
bair – seret
baisi – mempunyai
baistilah – melakukan sesuatu dengan rencana
baisukan – pagi-pagi esok
baisur – memohon diri untuk pulang
bajalikat – melekit-lekit
bajarijihan – melilih, menitik-nitik
bajaruhutan – banyak benda bergantungan
bajarut – terikat kuat
bajimusan – keadaan yang basah kuyup (kena hujan)
bajuju – membaca (kurang lancar)
bajungkuk – membungkuk
bajurut – berderet
bakajal – bersempit-sempit
bakajut – serta merta
bakakat – merangkak
bakalubun – tutup dengan kain
bakamih – kencing
bakarat – berkelahi
bakarik – habis licin
bakarimut – komat-kamit
bakawak – berkeladak
bakicap – bunyi mengunyah
bakikipik – merenjis-renjiskan tangan
bakikis – majlis becukur rambut dan menamakan anak yang baru lahir
bakipuh – rasa kepanasan
bakirik – rasa seram, takut
bakuciak/ bakuriak – menjerit
bakulim – berdalih, merahasiakan
bakumpul – bersama suami isteri
bakunyung – berenang
bakuridak – kotor, berkeladak
bakurinah – dengan sengaja
bakuya – mengadu, memberitahu
balalah – berjalan-jalan/ bersia-siar
balampas – tidur tanpa tilam, kelambu dll.
balanak/bulanak – tanah lembik kerana hujan/berair
balancat – celah jari luka karena air
balapak – duduk dilantai /diatas tanah
balar – calar
balarai – tanda/kesan gurisan
balarangan – bertunang
balimbai – dengan tangan kosong, berlenggang
baliwa – mengalah
balungan hayam – sejenis kue
bamamai – marah-marah
bamamang – bercakap seorang diri
bamandak – berhenti
banam – bakar
bancir – waria
bangas – bau masam kerana terlalu lama terendam
bangat – sangat
bangkang – merekah
bangkat – reban ayam
bangking – tak menjadi (kue), terencat
bangsul – timbul
banih – padi
banjur – taut, alat mengail ikan
bantas – makan dengan lahap/ kemaruk
bantat – muka sembam
bantir – bekas akibat kena pukul
banturan – tempat turun air pada atap
banyai(an) – suka melambatkan (menangguhkan) kerja.
banyu – air
bapadaan – kita sesama kita
bapadah – memberitahu
bapala – 1. puas hati, 2. melampau
bapalihan – tidak menyeluruh, berpilih-pilih
bapangsar – merasa terlalu sakit
bapara – datang meminang
bapiit – menyembunyikan/ memencilkan diri
bapiluk – membelok
bapira – cantik diluar busuk didalam
barabah – berbaring
barakat – buah tangan dibawa pulang
barambangan – perpisah suami-isteri tapi belum bercerai.
barandak – banyak (orang)
baranga – lalat
barang-barang – 1. sembarangan 2. memerang
barantuk – bersusun
barataan – semuanya (orang)
barau – api marak
baribisan – kotor berjijihan (air sentiasa menitik)
baribisan (hujan) – hujan tak berhenti-henti tapi tak lebat.
barikit – bergetah, melekat, menempel
barintit – berderet
barinting – bersambung-sambung, bertangkai (bunga)
baririt – beratur panjang
barubusan – bocor yang banyak (atap/ dinding)
barubutan – berebut-rebut/ kelam kabut
barubus-barubus – berlari dalam semak samun
barujihan/ bajarijihan – berbuih
barukat – 1. terbungkar akar 2. berkelahi, bercakaran
barumahan – bawah rumah
barungkau – bercakaran
basanga – goreng
basapih – mengibas-ngibas, mengelak
basaruan – menjemput
basasadi – sedang bersedia
basilih – tukar pakaian
basiping – berselaput (berkeping-keping kecil)
basiraput – berserabut
basurah – bercakap
basusurung – sedang menghidangkan makanan
bat – kepunyaan, hak
batabul – berpulau-pulau, tidak rata
batagar – berkarat
batah(an) – belajar susah nak dapat, dungu
batahar – bersepah
batahuan – mengenal antara satu sama lain
batakun – bertanya
batalimpuh – duduk bersimpuh
batamuas – membasuh muka
batandik – menari
batanisan – menjejih, berair (sedikit) spt luka
batangkuok – berkokok
batata – menyusun
batatapas – sedang mencuci kain
batatukar – membeli belah
batawiran – kain (besar) bergantungan
batianan – mengandung
batil – sejenis kue, (bingka) pisang
bating – kue tak menjadi
batingas – berkelahi (kucing batingas!)
batubal – tanda bercapuk/bertompok pada kain dsb.
batuha – semakin tua
batumang – ubi yang ada bekas berulat
batumin – memasang kuda-kuda untuk memulakan kerja.
batunga – menengadah keatas
batur – batu nesan

bararamang – meng ada-ada
batuyuk – melambak
bauku – budak kecil baru pandai ketawa
baulih – dapat sesuatu
bauling – berpaling, menggelengkan kepala
baungal – bergerak
baunggal – longgar
baupang – berpegang
bawarangan – berbesan
bayaan – sebaya
bayir – heret
bayut – orang yang lembab/ lambat buat kerja
beluru – pedal ayam
bibis – sakit perut, gastrik
bibit – ambil
bida – beza
badawang – labi-labi
biding – bersegi (bahagian luar), bingkai
bigi – biji
bikut – dipulaukan, boycot
bilang – melampau (bilang haja ah..)
bilar – bekas kena pukul (calar-balar)
bilung – keadaan senget dan bergulung
bilungka/balungka – timun karayi
bincul – benjol
bingkawan – tulang kayu membuat atap
bingking – bergaya, bersolek
bingsul – keluar
bini – isteri
bisa – boleh, pandai
biskar – basikal
bitau – bodoh
bitir – buah catur (castle)
biyal – tanda karena digigit nyamuk atau binatang
biyuku – penyu
buat – masukkan
bubuhan – kaum keluarga, kalangan
bubungan – bumbung
bubus – bocor atau koyak yang besar, biasanya disebelah bawah
budas – tak berhasil, hilang begitu sahaja
buhir – dengki, iiri hati, niat jahat
buhul – simpul pada tali,
bujur – betul, benar
bukah – berlari
bulanak/baalaanak – lumpur
bulang – surban
bular – mata cacat
bulik – balik, pulang
bumbunan – ubun-ubun
bungas – cantik, anggun
bungkam – terpaku/ terdiam
bungkas – terbuka ikatan kerana terlalu padat/ penuh
bungul – bodoh
buntalan – bungkusan ( kain)
buntus – koyak kecil/ berlubang.
buntut – bahagian hujung tanah/ kebun
burinik – tanda-tanda, buih kecil
buris – buncit
bursiah – kalau-kalau terjadi perkara tak baik
buting – bilangan barang
buyut – cicit

Top
C

cabur – terjun dalam air
cacak – pacak / cecak
cacap – cecah
cagar – agar, supaya
cagat – tegak
cakah – sombong
cakang – cabang
calap – rendam
caluk – seluk
calung – pucat
cancut – celana dalam
cangkal – gigih, giat
cangkir – cawan
cangul / cungal/ cungul – menampakkan muka
cantung – gaya rambut
caplok (mancaplok) – jatuh kedalam air
caram – banjir (sedikit), ditenggelami air
carubu – mencarut, jorok
catuk – ketuk
cibuk – ceduk air
cileng – tenung dengan mata terbeliak kerana marah
cingkoi – tak berdaya
cinit (cinik) – berputar laju
cirat – ceret, teko
culup – celup
cungul/ cungal/ ca2ngul – menampakkan muka
cungkal – korek tanah dengan kayu/ parang untuk mengambil sesuatu (ubi)
cuntan – curi
cuntang – koleh
curik – telinga bernanah
cuur – bertanya asal usul salasilah keluarga

Top
D

dadai – jemur
dadaian – ampaian, jemuran
dadang – dipanaskan berdekatan dengan api
daham – jangan
damaran – lampu panjut yang dipasang pada malam likur
damia – begini
damintu – begitu
damit – kecil
dangkak – duduk jongkok
dangkung – bahagian depan betis (tulang kering)
dasau-dasau – menyimbah air dengan banyak
dauh – beduk, gendang besar
diang – nama umum bagi budak perempuan
dimapa – bagaimana

dimpit – impit
dingsanak – adik beradik, saudara
dingur-dingur – keadaan serangga (spt. lalat) yang banyak berterbangan
dipalar – mengirit, menghemat
diparung – dipanggang
disap-disap – rasa seram sejuk (tak sehat)
disasala – dicelah-celah
diulah – dibuat
dudi – kemudian
dudu-aruh – hari sebelum hari kenduri kawin
dugal – nakal
dumul – tumpul

Top
E

edah -idah

egal – tari

eher – akhir

ehlas -ikhlas

ehnar – pimpinan

ehram – ikhram

ekat – ikat

ekong – orang,ekor

elah – pisah

elang – kunjung

embang – imbang

ember – ember

encer – encer,cair

endek – rendah,pendek

enggang – gerakan pantat kekiri kekanan disertai lenggang tangan

engkar – ingkar

engken – pelit

engkol – kunci pas

engsel – ingsil

enteng – ringan,mudah,spele

entos – beres,becus

epok – dompet

erak – (kerja)paksa

erkan – kalung rangkap

ermawar – mawar

es -es

eskan – teko

estel – stel,pasang

estenewa – istemewa

Top
F

Database Bahasa Banjar Balum Tatamu – Belum Terdapat Database Bahasa Banjar

Top
G

gabang – kain selimut
gibik – bergetar
gabin – biskuit
gaduk – besar
gadur – tempayan kecil bermulut besar
gagahap – terbuka luas
gagatas – sejenis kue
gagau – mencari sesuatu yang tak nampak (tersembunyi) misalnya dalam air.
gagai – mencari sesuatu boleh dilihat (tak tersembunyi) seperti dalam laci.
gaha – makan banyak
gahai (jahai) – dibuka/dikeluarkan satu persatu
gahak – kuat makan, selera besar
gair – gayat, ngeri
galagah – sejenis serangga seperti kerengga tapi tidak menyengat.
galah – halau
galapung – tepung
galat – potong
galianan – geli
galir – longgar
galiyur-galiyur (gagaliur)- mundar-mandir
galuh – nama umum bagi budak perempuan
gamat – perlahan

gamis – baju panjang dari arab
gamit – colek
gampir – berpasangan
gampiran – pasangan, pengikut
ganal – besar
gancang – kuat2
gandah – ketuk dengan kuat (gandah lawang)
gandanglawa – sarang laba-laba
gangan – kuah
gani’i – tolong, bantu
gantal – potong melintang dengan parang
ganyir – bau amis
ganyur – keldek/ubi tak mau empuk
gapit – apit, kepit
garancaian – bunyi benda-benda kecil (spt manik) bergantungan
garantangan – bunyi benda-benda logam (seperti tin) berlaga.
garih – siang ikan, dll
garing – sakit
garingitan – geram
garingsing – kawah
garitik – berdetik
garuhungan – terbuka luas
garutuk – bunyi perlahan
gasan – untuk
gatuk – senggol
gawi – kerja
gawil – colek
gawir – tak kuat buat kerja
gayat – potong melintang (biasanya benda besar)
gayumut-gayumut – bergerak dengan perlahan
gayur – lemah/ lembik (orang)
gelitiran – menggigil
geol-geol – keadan yang bergoyang / longgar
gerinting – ikan kering
gicing – membetulkan kedudukan
gigir – bising, kecoh
gigitak/bibitak – labah-labah
gimit – perlahan
gin – juga
gintas – tenyeh dengan geram
gipih – pipih
girek – tayar
gisang – tenyeh
gisik – gosok dengan kuat
gisit/ manggisit/ mandisit – hampir-hampir, nyaris
giwang – anting
gubih – besar dan longgar (pakaian)
gugut – gigit sambil ditarik (spt mangugut bigi hampalam)
guha – gua
guliat/nguliat – mengeliat
guliatan – ulat/cacing banyak bergerak
gulu – leher
gumbang – tempayan
gunggum – angkup
gunjah (kunjah) – digoyang-goyang dalam air / diudara supaya kotoran hilang.
guri – tempayan
guring – tidur
gusari – ditegur, dileter
gutak – digoyang dengan kuat

Top
H

habang – merah
habuk – kelabu / Abu-abu
hadang – tunggu
hagan – untuk seseorang
hagian – bahagian
hahar – raba dengan kasar
hahayagap – keadaan berjalan yang susah karena gelap
hahayagau – Berbicara tidak tentu / bicara ngawur
haja – itu saja
hajan – teran
hakun – setuju
halam – dahulu
halapat – dicelah-celah, diantara
halar – kepak, sayap
halat – selang, dipisahkan oleh sesuatu
haliling – sejenis binatang
halilipan – lipan
halimanyar – binatang macam lipan, kecil dan bercahaya
halimatar-ulat gonggok
halin – tidak banyak, susah diperolehi
halui – kecil
hambal – tilam/tikar tempat tidur
hambalingan – tidur bergelimpangan
hambat – pukul dengan tali/ rotan
hambayutan – terkena kesannya
hambin – dukung / naik diatas punggung
hampalingan – berserakan
hampapai – jeruk kulit cempedak
hancat – terencat (perbuatan) / pucat pasi
handap – pendek
handayang – pelepah kelapa
hangkoi – bunyi yang kuat
hangkup – hantuk / sundul
hanta/ hantal – rasa tak puas / tanggung
hantalu/ hintalu – telur
hantang – makanan/benda tidak tertutup
hantas – jalan pintas
hantimun – timun
hantup – 1. berlaga 2. makan dengan lahap (kata kasar)
hanyar – baru
hapak – 1. bau busuk 2. memburukkan/memperkecilkan orang lain
hapat – bagian dari
hapuk – empuk/ terjatuh diolok2
haragu – pelihara
harakan – menghawatirkan / khawatir
haram – eram (telor)
haran – banyak memakai sesuatu / boros
harat – hebat
haring (bau) – bau busuk
haru – kacau / aduk
haruk – busuk
harung – peduli
hatap – atap
hawai – rasa keseorangan, sunyi
hawar – 1. sejenis penyakit ayam 2. perbuatan menghayun sesuatu benda (galah)
hawas – penglihatan baik / tajam
hawat – lambat
hayaan – rasa bimbang, risau
hayagau-hayagau – berjalan tak tentu tujuan
hayam – ayam
hayau – menjalani / berjalan
hayabang-hayabang – lari sampai jatuh bangun / terseok-seok
hayongkok – membongkok
hayumu – hama, kuman
hayut – senggol
hibak – penuh
hidin/ sidin – dia, panggilan hormat
higa – tepi
hilai – menganginkan padi dengan nyiru untuk mengasingkan hampa / menjemur padi.
himpil – potongan kecil/ bahagian kecil
himui – malu
himung – senang
hinak – nafas
hindau – suluh
hindik – tekan dengan menghentakan kaki/ badan
hinggan – batasan
hingkat – bisa, boleh, berupaya
hingkul – kawasan kerja yang terlalu sempit.
hinip – senyap
hinya – biarkan
hirang – hitam
hirani – peduli
hiring – berdiri miring
hiyau – panggil
hiyut – hisap
huluakan – mengarahkan / menunjuk arah
hulun – menjadi hamba
humap – karena panas / gerah
humbal-tombong kelapa
humbang – baling
humpil – umpil, cungkil
hundang – udang
hungkar – bongkar, dikeluarkan
hungku/hangku – agaknya / kayaknya

Top
I

idabul – idea, pendapat
igut – gigit, sengat
i-ilah – seperti / mengiyakan
ikam – kamu
ikung – ekor
ikup – peluk
ilah – seperti
ilai – ayunan tangan
ilan – terjaga dari tidur
ilang – bertamu
ilat – lidah
ilun – bunyi
imat / imit – irit
imbah/ limbah – selepas itu, setelah selesai
impu – mengasuh/memelihara bayi
incaan – main-main/tiruan
inci – ukuran
incit – secara sedikit-sedikit
indap – hendap, intai
indung – ibu
ingar – terganggu
inggang – keadaan yang tak tegap
inggih – ya (bahasa halus)
inggur – bergoyang, tak tegap
ingkang – langkah kaki
ingu/ ingun – pelihara
inguh – ada rasa
injing – tarik / jinjing
intang – dekat
intel – kedudukan hendak jatuh
intoh – tahan disimpan
inya – ia, dia
itih – lihat dengan teliti
iwak – ikan, lauk

Top
J

jabik – jambang
jabis – berbulu dibahagian muka (binatang spt harimau)

jablai – jarang dibelai :)
jabuk/japuk – keropos
jagau – jantan, jago
jahai – tanggalkan satu persatu
jajak – pijak
jajarujut – rasa bergerak-gerak, kedutan exp. jajarujut kelopak mata
jaka – jika
jalanggaran – tak tersusun,
jamba – tangkap dengan cepat
jamus – rambut tak bersisir
janak – tidur nyenyak
janar – kunyit
japai – pegang, sentuh
jara – jera
jarang – didih, jerang

jaring – jengkol
jatu -memungut
jawih – capai dengan tangan
jelukap – daun untuk obat

jihing – senyum
jikin – alas periuk/kuali.
jimus – basah kuyup
jingkar – hampir mati/ tak sadar diri
jinting – jinjit / tenteng
jiun – meninggal dunia
jubung – penuh
jugut – rambut panjang tak terurus
julang – membuat penyokong spt kayu untuk menahan dahan/pokok dari tumbang.

julung – serahkan
juhang – ditolak keatas menggunakan tongkat /font>
juhut – tarik (benda panjang, spt tali, benang)
jujuran – hantaran kawin
jujut – jahit (benang)
jukung – sampan / perahu
julak – saudara bapak / ibu (kakak)
julung – beri
jumput – diambil dengan tangan
junggat – cungkel, jungkat – jungkit
juong – dorong dengan keras, tolak
jurai – menyirat jala / pukat
jurak – jolok, kait
juruh – air yang manis / air pohon aren
juuk-juuk – jalan mundar mandir

Top
K

kabisaan – kepandaian, kemahiran
kabungkalanan – tercekik makanan
kacak – remas
kacar – ingin, teringin, mau
kacawaian – melambai-lambai
kada – tidak
kada tapi – tak berapa / tidak terlalu
kadada – tidak ada
kadan – daki
kadap – gelap
kadapan – longgaokan jerami padi
kaganangan – teringat / kangen
kaina – nanti dulu
kair – kais mengunakan kayu dsb.
kajah – ditunjukkan dengan bersungguh-sungguh (macam penjual menawarkan barang jualannya)
kajal – sumbat, berdesak-desakan, bersempit-sempit
kakadut – bungkusan kain yang diikat
kakamban – selendang
kakarunyut – rasa bergerak-gerak, pegal.
kakas – selongkar
kakuar (kukuar) – galah / tongkat panjang
kalacingan – anak ikan gabus
kalapakan – melompat-lompat
kalau (mangalau) – kaedah memancing ikan haruan
kalibir – kulit
kalimbuai – sejenis binatang (keong emas)
kalimpanan – mata termasuk sesuatu benda
kalimut – lubang dubur
kalipit – dilipat
kalipitan – terdesak
kaliwancuhan – kelam kabut
kaloh – putik yang tak jadi
kalu – kalau, jika
kaludut – berkedut, menggumpal
kalum – terompah
kalumpanan – terlupa
kalunuran – keadaan yang berair (kudis, luka)
kaluyuran – keadaan orang yang sibuk / lalu lalang
kambang – bunga, kembang
kambuh – campur
kamir – adunan yang sudah naik
kampil – tas jinjing
kanas – nenas
kanca – pasangan, teman
kancahungan – berteriak-teriak
kancang – kencang, penuh, padat
kancing – tutup (pintu, jendela)
kancur – sejenis tumbuhan seperti kunyit
kancur jerangau – saudara bau-bau bacang
kandal – tebal
kapijanan – teramat sangat
kapiting – 1. kepiting 2.kunci rumah / gembok
kapadaraan/kapidaraan – badan rasa demam/panas dipercayai sebab gangguan mahluk halus
kapung – kejar
karaing – orang yang suka bergaduh / pemarah
karamian – heboh / rasa senang
karamput – berdusta / menipu
karau – garang (orang), nasi keras
karawila – Tumbuhan yang bisa di buat untuk sayur
karidipan – bergerak-gerak
karik – habis/ mengambil sehingga kelapisan terakhir
karindangan – teringat-ingat, kerinduan, kangen
karium – menahan ketawa
kariup – mengkerut, dijerut, dicerut
kariwitan – benda kecil panjang (spt cacing) yang sentiasa bergerak-gerak
karubut-karubut (kakarubut)- bergerak-gerak secara tersembunyi
karucut – mengecut
karudut – berkedut
karukut – garu dengan kasar, cakar
karumut – ruam panas
karungkung – kulit keras / cangkang
karut – ikat
kasadakan – tersedak
kasai – sapu dengan obat
kasangkalanan – tercekik makanan
kasau – jenis kayu
kasulitan – benda terjepit dicelah gigi
kasumba – pewarna kain/makanan
kataraan – tempat ayam mengeram
katidaan – mengada-gada
katik – di ketik
katiwa (tatiwa) – satu daripada bahagian rumah
kato – pucuk manis
katuhukan – sering, selalu sangat
katuju – suka, setuju
katulahan – balasan karena durhaka kpd orang lebih tua
katup – tutup
katur – lenguh
kaur – penglihatan kabur, rabun
kaus – katil, kasut?
kawa – boleh, bisa
kawai – panggil dengan melambai
kawak – kotoran dalam air
kawat – mata kail
kawitan/ kuwitan – ibu-bapa / orang tua kita
kaya – orang yang banyak uang
kayakih – ketombe
kaya apa – Bagai mana
kayi – kakek
kelambuwai – keong mas
kelayangan – layang-layang

kenjot – goyangan pantat
kerasaan – terasa, perasaan
ketulahan – mendapat balasan karena durhaka
ketulangan – tulang tersengkang ditenggorokan
kibah / kibas – kipas dengan tangan/ kain
kicap-kicap – mengunyah dengan berbunyi
kijim – tutup mata
kijip – kedip mata
kikih – kais
kilar – kerling mata
kilau – 1. cahaya (emas /berlian) bercahaya 2.makan tanpa nasi (khusus lauknya saja)
kileng – lambat besar
kilir – asah
kilum – tak ada gigi
kima – kancing
kiming – dipegang-pegang
kimpus – semakin kecil
kimul-kimul – sentiasa mengunyah (tak ada gigi)
kipai – terpelanting / terlempar
kipit – sempit
kipung – makan ikan
kirip – mengecilkan kelopak mata / cahaya lampu tidak terang
kisut (bakisut) – 1. ngesut 2. kempis, berkerut (kulit).
kitar – beralih sedikit, bergerak sedikit
kitihan – makanan ringan
kiting-kiting – dijinjit
kiwa -kiri
kiwang – dipotong sebahagian kecil
kuantan – periuk
kubas – luntur warna
kubui – mandi
kudup – lampu tak terang
kuhup – terkurung dalam keadaan panas
kukuar (kakuar) – galah
kukulai – burung hantu
kukut – diambil dengan kasar dan banyak menggunakan tangan
kulaan – saudara dekat
kulacak – diremas, dijamak, dicakar
kulahai – bongkar
kulanda – sirsak / nangka belanda
kulang kisar – gelisah
kular – kuyu (mata), sendu
kulayak – di buka
kulimbit (kalimbit) – kulit
kulir – malas
kuloh – pelit, rakus makanan
kumai – se isi rumah

kumbah – mengibas kain untuk membuang sampah

kumpa – pompa

kumpai – rumput

kumpang – sarung parang, pisau, keris atau pedang
kumpai – rumput
kunat – tanda pada kulit berkas luka
kuncang – goncang
kungkuak – kokok ayam
kunyuk-kunyuk – mundar mandir
kurihing – senyum
kurinah – sengaja, khusus.
kuring – koreng, kudis
kuringis – merintih (kesakitan), teresak-esak
kuriping – bersisik
kuritis – dikorek menggunakan kuku jari
kurup – redup
kustila – pepaya
kutal – guntingan rambut tak rata
kutang – Beha
kutil – makan atau ambil sedikit-sedikit
kutung – tudung kepala

Top
L

laai – habis
lacit – meresap keluar, bocor
ladar – ledar (rasa), suam (air), demam(awak)
lading – pisau
laih – cape, penat
laip – hilang, pingsan
lajak – selalu dipakai
lajang – masih sendiri (bujangan/gadis)
lakasi – cepatlah
lalapan – sayur-sayuran
lali – lupa / pikun
lamak – gemuk
lamari – almari
lanah – cair
lancat – sakit celah kaki (kutu air)
landap – tajam
landas – air deras
landau – tidur kesiangan (bangun kesiangan)
langgar – surau/madrasah
langis – habis tak ada yang tertinggal
langkut – gigi bagian bawah kedepan
lanjar – panjang akal
lanji – genit, gatal melihat perempuan
lanjing – keadaan yang mengelebeh (seperti getah) / duwer
lanjung – bakul besar biasanya yang boleh diletakkan dibelakang (tas ransel)
lantih – orang yang berbicara terus, biasanya perempuan
lanting – rakit
lapai – menyapu tubuh dengan air
larang – mahal
lareng – garing
latang – rasa air macam hangus
latat – warna hitam
laung – pakaian adat pahlawan banjar (topi berbentuk kerucut)
laus – sejenis tumbuhan macam lengkuas
lawan /awan/ wan – dan
lawang – pintu
lawas – lama
lawatan – pergi memenuhi undangan.
layat – liat , melempem
layau – 1. melimpah, 2.merayau, menyimpang ketempat lain
layip – pitam, marah sekali
layur – dilalukan diatas api supaya layu
libak – kawasan berlopak / atau berlubang sedikit
libas – sudah habis musim
libur – api yang besar
lihum – rasa kesukaan, senyum yang ditahan
lijau – basah dan berair
likah – kata tambahan / penegas bermaksud seperti begitulah!
likit – menyalakan api
lilik – memandang, mengincar (ingin)
lilip – memasukkan lipatan hujung/tepi kain kebawah kain atau tilam dsb.
limbah – terjatuh dari pautan asalnya
limbak – tumpah, melimpah karena penuh
limbui – basah kuyup oleh peluh
limir – lembek macam berair
limot – berlumur dengan minyak yang banyak
limpak – sumpek / lecet
limpap – penyok ( besi / plat yang terbentur sesuatu )
limpas – terlampau penuh
limpat – melebihi hari
limpih – penyek / gepeng
limpua – berlebih
linak – becek
lincai – di injak-injak
lincip – runcing / tajam
linek – lumat
lingai – kawasan semak yang telah dibersihkan
lingir – tuang air ke cangkir
lingis – habis tak tinggal sisa
lingkah – hilang kesan warna/kotoran
lingkang – langkah
lingkuk – bengkok
lingkup – dikemaskan (kelambu / kain) /
lingo – jemu, bosan
lingsak/ lungsak – luka, kulit tergesek, lecet.
lintip – mengecil
lintuhut – lutut
lipih – lipat dan masukkan kedalam
lipung – melepasi, melebihi
lipus/ lupus – melebihi
liput – ditudung rapat
lirip – iris
liso – layu (buah yang terlalu tua)
liung – ditinggal, tidak dikira
liup/liut – pingsan
liut – menjadi lemah
luai – sejenis penyakit tanaman
luak – muntahkan
luang – lubang
lucung – terlepas
ludus – jalan dalam semak yang sudah terang karena sering dilalui
luhau – orang yang banyak cakap (biasanya lelaki)
lukop – tindih dengan badan
luloi – tercecer
lulok – kawasan tanah yang berlumpur
lulon – menggulung benda panjang dan besar (spt tikar)
lulungkang – jendela
luman – belum
lumbah – lebar (kain)
lumbus – bocor bahagian bawah
lumor – . lumur, sapu
lumus – habis bulan
lunau – becek
luncup – runcing, lancip
lungkas – suara yang jelas dan tegas
lungkup – ditutup / ditindih dengan badan
lungsak/ lingsak – luka, kulit tergesek
lungur – botak, gondol
lunok batis – bahagian belakang betis
lunta – jala
luntang-lanting – tidak tentu arah
lunuk (batis) – bahagian belakang betis yang berdaging
lupus/ lipus – melebihi
luput – tidak kena sasaran
lusukan – ikan gabus yang beranjak besar
luyut – melepuh

Top
M

maanjal – mengganjal
maanyat – lembut dan boleh menganjal (cth: tilam maanyat)
maarit – merasa sakit/ susah
macal – degil, nakal
macan – harimau
madam – pergi merantau
madat – candu
madayi – patutlah
magan – boleh
magun – masih
mahalabiu – berkata mengada-ada
mahampinak – memelihara
mahapak – mengolok-olok, mempeleceh
mahayaakan – rasa bimbang, takut
maheng – liat, keras (kayu)
mahingak – susah bernafas
mahingal – nafas tersengal-sengal
mahingut – mencium bau yang kuat
mahirip – serupa, sama, seakan-akan
mahong – bau maung
mahulut – mengejek
mahuruni – menemani, menjaga
maigau – mengigau
maigut/mainyut – rasa sakit/seperti ditusuk
mailangi – silaturahmi
maingkang – jalan mengengkang
maingking – berjalan biasa dengan cepat
mainyut/ maigut – rasa sakit/seperti ditusuk
maka am – oleh itu, itulah

makacil – bibi
malacung – melompat
malah – haus hendak minum
malala – membuat minyak dari santan kelapa
malalap – memotong halus-halus (sayur-sayuran)
malalar – merebak, melebar
malalur – tidur hingga siang, lambat bangun.
malapuk – lepak
malarak – mengembang, kembang
malaran – lumayan / sekurang-kurangnya adalah juga
malatik – baru tumbuh, bercambah
malatop – melecet / pecah
malibur – api besar dan naik keatas
malikap – melekat / menempel
malilik – mengorat, teringin
maling – pencuri
malingor – berbau
malining – mengkilat
mamadar – 1. nasi sudah masak tapi dibiarkan supaya kering,
mamadar – 2. berbaring-baring setelah terjaga dari tidur.
mamak – empuk

mamarina – saudara dari bapak/ibu
mamandir – berbicara
mambangsing – mengganas
mambarangat – rasa panas
mamicak – kuat tidur
mampilak – putih sekali
mampunut – keadaan membesar dan timbul membengkak spt bisul. manabun – menyembunyikan
manahakan – membayangkan
manambirau – menggertak
manangkul – menyangkal
manau – 1. ikan timbul kerana mabuk( musim banjir). 2. sejenis rotan (kecil)
mancabur – jatuh /tercebur dalam air (benda besar) mancacau – lari dengan cepat / laju
mancaplok – jatuh kedalam air (benda kecil) mancaricit – suara yang timbul akibat gesekan.
mancarucus – berbicara cepat
manciar – meleleh air liur
mancicing – pecut lari / lari ketakutan
mancigu – cekukan / tersedak
manciling – membeliakkan mata, terbelalak, seperti mata yang mau keluar
mancirat – bersinar
mancirop – masuk dengan cepat (dalam air)
mancok – rujak, makan buah-buah asam/pelam/jambu mentah/muda.
mancurat – memancur, muncrat
mandah – terbakar
mandam – terpaku
mandangani – menemani
mangalihum – berbohong
mangalunyur – meluncur
mangaradau – berbicara tak tentu arah
mangaramput – berbohong
mangaruh – berdengkur
mangarumbungi – mengelilingi sesuatu
mangayumuh – berbicara tak jelas seperti sengaja hendak menyembunyikan sesuatu
manggah – penyakit asma
manggalugur – api besar
manggalur – bunyi menderu
mangganang – merasa rindu, kangen
manggani’i – menolong
manggarunum – bersungut
manggiring – mengikut
manggisit/mandisit/gisit – nyaris / hampir saja.
manggurak – mendidih
mangincang – berjalan cepat
mangkir – mengelak
maniwas – menuduh (menyalahkan orang lain)
manjelujuk – rasa hendak muntah
manjul – memantul
manjuur (manyuur) – berlalu pergi
manoh – pendiam
mantuk – balik, cukup
mantuk mara – pergi balik (pulang pergi)
manuala – sangat tua/ lama
manuha’i – menjadi ketua
manumat – usaha memulakan kerja.
manungkali – Betampung tawar ( ritual sebelum memulai suatu acara )
manyalingit – rasa terlalu panas/ pedas
manyapung – mendekut burung
manyinggai – membuka / menyahut
maragat – ikut jalan pintas
maraha – tak apalah! biarlah!
maram – mendung
marancis – terpercik
marangut – masam muka
maras – kasihan
marau – rambut tak berminyak
marawa – menyapa
mariga – kekenyangan makan keluar bunyi
marina – saudara Ibu/ Bapak
marinaan – anak saudara
maririp – menghiiris/memotong halus-halus (sayur-sayuran)
marista – sedih
maritam – pulasan, jenis buah seperti rambutan
mariwa – melihat jerat, perangkap, jaring dsb.
maruwai/miruwai – hubungan antara menantu dengan menantu
maruut – sangat berat
masigit – masjid
matan – dari / asal mula

matuha – bibi tertua
mati/pati – tak berapa
mauk – mabuk
maulah – membuat
maumat – boleh ditarik-tarik (flexible)
maunjun – mancing
maunyut – lentur (seperti per pegas yang ditekan ) / menganjal
mawah – risau, bimbang, susah hati
mawaluhi – menipu
mayu – cukup
mimak – jinak
minek – pening / pusing
mingar – hidung besar
mingsang – sengau
minjangan – rusa
mintuha – mertua
miris – bocor
mitak – hidung penyek
muak – muntah
muar – marah
mucai – tak terurus
mucil – cerewet, tak ikut kata
muha – muka / wajah
muhara – muara / awal / depann
mulong – jelaga / hitam pekat
mulud – maulud
mumui – berdarah dengan banyak
mumut – reput, mudah koyak (kain)
mun/ amun – jika
mungau – tak senonoh
mungkana – kain untuk sholat khusus wanita
mungkung – bentuk cekung
muntung – mulut
muriat – rasa tak enak badan, seperti mau demam
muring – kotor
muru’ – cuaca mendung
muyak – jemu / bosan

Top
N

nahap – teguh, tahan
namuni – menemui
nanar – senantiasa sama, tidak berubah
nandu/pinandu – kenal
nang – yang
nangguh – tebak / agak
napa – kenapa
napa-am – itulah!
naran – betul, benar
nauhan – orang yang serasi bercocok tanam atau berternak, serba jadi
naung – teduh
naya – itu
ngalih – susah
ngaracat – mengecut
ngaran – nama
ngayatap – tak berhenti buat kerja (kerja kecil-kecil)
nginang – makan sirih
nginging – bunyi berdengung ditelinga
ngingir – rasa linu di gigi
nginum – minum
nguliat – mengeliat
ngulintar – curi tulang
ngulintir – terkeseng-keseng
nimbai/timbai – membuang
ninip – amat berhati-hati, teliti
nuheng – membelah dengan kapak
numbi – naik taraf, membesarkan (rumah)
nungkali – menepung tawar ( ritual selamatan )
nyaman – sedap, enak, senang
nyanyat – berulang-ulang, mau lagi
nyarak – api yang besar
nyinggahi – singgah, mampir
nyingga’i – menyahut panggilan

Top
O

obah – ubah

obat – obat

obeng – obeng

obor- obor

odor – uzur,tua,lemah

ogor – taruhan

ojor – odor

oko – baoko

olah – olah,buat

oleh-koleh

omeh – cerewet

oncom – oncom

onde,onde-onde -(kue)onde-onde

ongkoh – engkoh,tauke

ongkos – ongkos

onta – onta

opor – masakan,pindahkan

otang – hutang

oto – baju oto,tutup dada

Top
P

paasian – patuh, menurut ( kata orang tua )
pacang – untuk, agar, bakalan
pacul – tanggal
padah – kata, memberitahu, bilang
padak – hidung rasa tersumbat
padar – panaskan
padu – dapur
pagat – putus
paharatnya – dalam keadaan, pas, paling sibuk
pahin = ??

pais – pepes ikan
painjinan – tempat memesin getah keping
pair – seret karena terlalu panjang
pais – ikan/kue dikukus dalam daun pisang
paja – pekasam, di awetkan
pajah – padamkan api
pajal – ditimbun, ditumpuk (kasar)
pakulihan – pendapatan
palak – asap
palingau-palingau – tengok kiri kanan, melihat kebelakang
palilak – buah teratai
palipitan – sisi kain yang dijahit
pamalar – pelit
pamali – berdosa, sesuatu yang dilarang agama
pambarangan – sembrono, menaruh bendaa sesuka hati
pambuong – bahagian tulang atap rumah
pamburisit – penakut
pampah – dilanggar
pampan – lubang yang tertutup
pamuga/ puga – permulaan
pancau – tinggi
panci – periuk
pandal – alas
pandir – berbual
pandit – surut
pandudian – paling terakhir
pang – lah!
pangkih – potongan kayu
panjar – bayar di depan
pantar – sebaya
pantau – lempar
panting – sengat
papaci – kaca
papadaan – sesama kita
papai – dileraikan dari tangkai, dicipratkan
papajangan – tirai penghadang
papajar – pengeras (pengobatan tradisional)
papak – 1. penuh 2. tepuk(tapak)
papari – sayuran
paparujuk – berjalan mundar-mandir tak dapat benda yang dicari
papatin – hari istimewa, andalan
papikang – kelengkang
papikat (pipikat) – ajimat, benda yang dipercaya membawa keberuntungan
parada – bahan berkelip-kelip dibaju/ kertas
paragahan – pura-pura, menunjuk-nunjuk
parak – dekat
parani i – pergi menyusul
parawaan – suka menegur
parayaan/ paraya – tak payah, tak perlu
pariannya – misalnya
paring – buluh
pariyannya – misalnya
parudan – alat untuk memarut kelapa
paruna – cantik, kacak
parung – salai/ bakar
patak – sembunyi
pates – tapis
pati/mati – tak berapa

patis – petis
patuh – kenal
patuhan – kenalan
paung – benih
payat – suara parau
payu – laku

pian – anda
picak – buta
picik – pencet, tekan
piit – bersembunyi
pilai – miring / bengkok / tidak pas posisinya.
pina – seolah-olah
pinandu – kenal
pingkalung – lempar dengan kayu / benda panjang
pingkur – tidak lurus / bengkok
pingkut – pegang
pingsar – menahan rasa yang teramat sakit
pinjung – penjuru, terpencil
pintang/pintangan/ tapintang – mentang-mentang/ kebetulan
pipikangan – pangkal paha sebelah dalam.
pipikat (papikat) – ajimat, benda yang dipercaya membawa keberuntungan
piragah – pura-pura, menunjuk-nunjuk
pirik – di ulek-ulek
piruhut – pegangan kuat supaya tidak terlepas
pirut – miring, tidak pas kedudukannya
pisit – kencang (ikatan), ketat
puang – kosong
pucirin – llimbah dari dari dapur.
puga – baru, yang permulaan
pukah – patah
pukung – bayi dibuaian dalam keadaan duduk
pulang – lagi
pulir – sapu bersih
pumput – pikiran yang mentok.
punah – selesai
pundung – bedung
pundut – bungkus
puntal – digulung(kain)/ ikatan tali
puntalan – gulungan
pupu – daging paha (ayam)
pupudak – nama sejenis kue
pupuh – pukul dengan kayu dll
pupul – patah bahagian atas/ hujung
pupur – bedak
puput – alat untuk meniup api kayu (dapur)
puraca – ular air, perca kain

purici – jorok
puritik – bintik
puritikan – berbintik-bintik
puruk – pakai
purun – tak malu
purut – lurut, lepas.
pusang – keluh kesah, mau marah
pusut – gosok dengan perlahan dan penuh kasih sayang
putik – petik
puyau – sejenis ikan sungai seperti ikan mas.

Top
Q

Database Bahasa Banjar Balum Tatamu – Belum Terdapat Database Bahasa Banjar

Top
R

raat – suara serak
raba – sentuh
racap – kerap, selalu, sering
ragap – peluk, dekap
rahai – tanggalkan satu persatu, hancur satu persatu
rahat – ketika, sedang
rajak – tikam dengan benda panjang dan tajam
rakai – rusak
rakat – akrab, akur
rakungan – tenggorokan, jakun
ramba – berdaun lebat, rimbun
rampit – rapat
ranai – senyap, diam tak bergerak
rangat – retak
ranggam – ketam kayu
ranggaman – ketam padi / ani-ani (alat untuk memanen padi)
ranggi – nekad
rangka – lahap macam kelaparan sangat / rakus
ranjah – tabrak
rantang – mangkuk sususn / tingkat
rantas – 1. tetas 2. rentas / robek
rapai – tertanggal dari tangkai
rapas – rapuh, mudah hancur
rapok – rangup
rarawaian – tidur-tidur ayam
rasuk – sesuai
ratik – sampah
raub – himpun dengan tangan
raum – pitam
rawa – sapa
rawis – mengayun benda tajam
ricih – potong kecil-kecil
rigat/ igat – kotor
rigi – rela
rikai – patah dahan
rimbas – menebas dengan parang bengkok
rimbat – rembat, rentap
rimpe – pisang salai
rimpung – tangkap dengan kuat
ringkut – penat karena kerja berat
ripah – patah / cape
ripai – sekah
ripu – terlalu masak / ketuaan (buah)
riwang – koyak/ robek sedikit
ruak – dituang ( bukan benda cair) dari bekas seperti bakul/ dulang
rubui – 1. berlubang karena rapuh 2. ditaburi
rudah – ludah
ruga – lubang besar dalam tanah
ruha – keadaan yang besar, susah hendak diangkat.
ruhui – selesai, berhasil, bisa
rukat – cakar, berkelahi
rumbih – tanah runtuh / longsor
rumpis – keadaan yang koyak dan bocor (spt bakul)
rumpung – ompong
runggut – tarik dengan paksa.
rungkang – berlubang, robek
rungkau – ambil dengan tangan
rungkoi – tangkai (buah-buahan spt anggur)
rungkup – diterkam
rungung – tak berhidung
rupoi – rapuh
ruruk – tumpah / mengeluarkan barang dari suatu wadah.
rurungku(an) – bangsal

Top
S

sabak – 1. pandangan kabur, 2. tidak teratur / berserakan
sahan – pikul
sahang – lada
sahibar – sekadar
saing – rajin
saki – mengawan
salajur – terlanjur, kebetulan
salawas – selama
salayaan – kerja tak berfaedah
salimput – selimut
salok – kepung
salukut – bakar
salumur -kulit ular
sambadaan – tambahan pula
sambat – sebut, dibicarakan, mengatai orang
samir – mewarnai rambut
sampak – sampai batas (rapat)
sampiluk – daun yang dilipat untuk disikan adonan kue dsb.
sampiyan – anda, kamu (halus)
samparaka – tidak bersyukur, tidak sadar
sampuk – tersambung lagi, bertemu kembali / sua
sampurut – memeluk tubuh karena sejuk
samunyaan – semua
sandal – sendal
sandat – terhenti, tidak bergerak karena suatu keadaan
sandu – buat hal sendiri
sanga – goreng
sangu – bekal
santuk – kena bagian atas karena terlalu tinggi
sapalih – sebagian kecil
sapambarian – artinya “terserah mau dikasih berapa”
saput – selimut
sarak – bercerai suami isteri
sarianan – sehari penuh
sarik – marah
saru – panggil
saruan – undangan, menjemput
sarubung – tenda / tarup, tempat menyediakan masakan bila ada undangan
sasah – kejar
sasain – semakin
sasar – semakin
sasarudup/sasarusup – berlari-lari dalam semak
sasingut/ sisingut – kumis
sasirangan – kain batik banjar ( kain Adar khas suku Banjar )
satayuhnya – dibiarkan bergitu saja tidak dirawat
satumat – sebentar

satumbang – 1. semenjak, 2. sekali saja
saumuran – seumur hidup
saung – laga
sawalas – sebelas
sawat – sempat
sayat – siat, potong
selipang – tarmos, tempat simpan air
selului – yang selalu
sembako – keperluan utama
sigar – segar
sihai – cuaca terang/baik
silang silu – bersilang-silang
silih – ganti pakaian
silip – simpan dengan baik
simbah – tepis
simbur – siram, simbah
simpun – kemas, susun rapi
simpurut – peluk tubuh karena kedinginan
sindu – badan yang tegap
singgang – duduk yang miring / tidak pas kedudukannya
singkai – muka
singkal – otot terasa sakit / pegal / letih
singkum – mengemas benda panjang seperti rambut atau rumput yang menjalar
singlang – juling
sintak – tarik dengan cepat dan paksa
sintar – senter, lampu sorot
sipung – tongkeng ayam
sirau – memadamkan api
sisil – menguliti kulit binatang
sisipuan – tersipu-sipu / malu-malu
sisiur – capung (dragonfly)
suah – pernah
suang – anting-anting, giwang, pearcing
suar – lampu sorot
suduk – tikam / tusuk
sugih – kaya
sulah – dahi luas / bagian kepala yang rambutnya rontok
sulait – terbelit
sulum – masukkan dalam mulut
sulungan – kolong
sumap – kukus
sumpal – tutup lubang (spt botol)
sunduk – kunci (pintu, tingkap)
sungeng – bunyi yang menyakitkan telinga
sungkal – gali
sungkup – menyembunyikan muka / badan
supan – malu
surangan – sendiri
suroi – sisir rambut
susuban – tertusuk benda tajam
sutil – mudah

Top
T

taarunuh – mengerang menahan kesakitan
tabah – sebesar tapak tangan
tabala – peti mati, keranda mayat
tabarubui – berciciran
tabarukat – terbungkar akar
tabarung – bertembung masa
tabarurut/ tabalurut – terlurut
tabarusuk – terperosok
tabat – empang

tabuk – membuat lobang
tabulaning – terbeliak
tabuncalak – terbeliak
taburahai – terburai
tacabur – terjatuh dalam air
tadas – lut ( tajam)
tadung – ular
tagah – semak, belukar
tagai – dibiarkan tak bertutup/ sengaja ditunjukkan
tagak – nampak seolah-olah
tagaknya – nampaknya, seolah-oleh
tagal – tetapi
tagalimpas – tergelincir
tagipak – tergesel
taguh – kuat, teguh
taguk – telan
tahaba/ tahaga – terjumpa
tahangkang – terkangkang
tahanjat – tersentak
tahur – melunaskan hutang, bayar
tajalak – kelihatan isi dalam
tajalipuk – terjatuh (sedikit kehadapan)
tajarungkup – jatuh tertiarap
tajihing (takujihing) – tterkoyak menampakkan isi
tajuhing – terjujul keluar
tajun – terjun
tajungkalak – terjatuh kebelakang
tajungkang – terbalik/ tertelentang
takai – sentiasa tersedia
takadilup – termasuk kedalam
takalulung – mengecut dan bergulung
takambit – bercantum
takarium – tersenyum
takariup – semakin mengecil
takipik – tersentak ketika tidur (biasanya bayi)
takisir – mengending,
takujajang – lari lintang pukang
takujihing – terkoyak menampakkan isi
takulayak – tercabut kulit
takulibi – mencebekkan muka
takulidas – kulit terluka
takun – tanya
takurihing – tersenyum
takuringis – hendak menangis menahan sakit
takuringsing – berkerut muka kerana menahan sakit
takurisit – perasaan teramat takut
takurusum – berkerut muka kerana menahan sakit
takusasai – terkoyak kulit
takutan – takut
talah – selesai
talam – dulang
talasan – kain basahan
taleh – tembolok

talimpuh – bersimpuh
talu – tiga
talukup – tertiarap
taluwalas – tigabelas
tamam – teguh
tambal – tampal
tambarungan – tempat mengisi ikan tangkapan
tambirau/ timbirau – sergah
tampaian – kelihatan
tampirai – alat menangkap ikan, macam lukah
tampiyaan – bengkak pada bahagian pangkal paha.
tampuluan – kebetulan
tampur – ditiup (angin)
tamur – pecah berkecai
tanai – tadah
tandar – alihkan dengan menolak
tandik – menari
(ta)tandak – berkumpul dibawah (air)
tandu – usung
tangat – tegah, larang
tanggalung – tenggiling
tanggar – letak diatas tungku
tangguh – teka
tanggui – tutup kepala/ topi
tangking – tangkai
tangkoi – topi
tangkur – ketuk
tantadu – belalang mentadu
tantan – berulang-ulang
tantaran – Pancing

tapai – tape
tapak – tepuk
tapakalah – dikalahkan
tapal – ditutupi
tapaling – terbalik, atas jadi bawah, depan jadi belakang
tapalurut, tabalurut, tabarurut
taparangguh – keliru
taparaung – Bersamaan
taparunuk – bahagian badan yang agak gemuk
tapas – cuci kain
tapasan – kain cucian
taperancing – terpercik
tapih – kain sarung
tapintang – kebetulan/ mentang-mentang
tapuracik – terpercik

tarai – coba
tarait – berkait
taruhan – judi
taruhi – membayar
tarukoi/taparukoi – pendapat sama
tasalait – terbelit
tasalihu – keseleo
tasarungku – terjatuh ketika berlari
tasmak – cermin mata
tataguk – burung hantu
tatai- disusun sebelah menyebelah
tatakang – tidak bisa bergerak
tatamba -obat
tatangkun – para-para
tatangkut – angkut-angkut (sejenis serangga rupa macam tebuan)
tatawa – ketawa
tating – diacungkan
taukung – terkurung karena sesuatu keadaan
tawak – lempar
tawas – obat air
tawing – dinding
tawir – kain penghadang, langsir
tayur – pancurkan
tihang – tiang
tiharap – tiarap
tihir – habiskan sampai kering
tiis – air yang semakin susut
tikap – lekat pada dinding
tikil – benda kecil yang menyebabkan permukaan tak rata.
tikin – tekan
timbai – campak
timbuk – timbus

timpang – alat menangkap ikan, lukah
timpas – tatak dengan parang panjang
timpel – benda di sangkut kan
tingka – timpang
tingkau – tinggi
tingkaung – merangkak
tingkung – tangan tak lurus
tinjak – tendang dengan kaki
titik – membuat/membaiki parang /pisau
titir – berulang-ulang
tiwadak – cempedak
tiwas – tuduh
tuangan – bekas cetak
tubal – warna kain bertompok-tompok
tugal – membuat lubang untuk menanam benih
tugul – tekun
tuha – tua
tuhing – memotong kayu (benda keras) dengan kapak/ parang
tuhuk – banyak sekali
tukar – beli

tukul – palu
tukup – tutup
tulak – pergi
tulau – warna yang tidak rata

tumang – berlubang
tumatan – sejak itu
tumbar – heboh
tumbi – tambah,
tumbung – bagian
tumbung nyior – bahagian dalam kelapa ……
tumbur – banyak orang yang tahu
tumbus – tembus
tumpang – bertindih
tungap – makan dengan mulut
tungkal – tepung tawar
tungkaran – halaman rumah
tungkih/ tuhing – dikapak
tungkup – ditutup dengan tudung
tunjul – tolak
tunti – turut, susul
tuntom – teguk, gogok
tuntung – selesai
tunu – mencucuh
tureng – berjalur
tutoi – ketuk
tutok – tumbuk (macam tumbuk sambal)
tutuh – memotong dahan pokok
tuup/ tuhup – tutup
tuyuk – longgok

Top
U

udak – mengolah makanan di aduk
udal – punggah.
udap – percikan ikan pada permukaan
udar – keroyok
ugah – alih
ugai – mencari sesuatu sampai ketemu
uhu – tidak ada kualitas
uji – manja
ukang – gigit
ulai – pusing
ulihan – pendapatan
ulun – saya
uma – mama
umai – amboi
umbas – buas
umpah – boros
umpat – ikut
una – luak
unda – saya
undam – besen/ dulang kecil
unduh – mengambil buah dengan dipanjat, digoyang sampai jatuh.
ungah – menunjuk-nunjuk kesukaan
ungal – bergerak
ungap – buka mulut
unggal – tidak teguh, bergoyang
ungkai – 1. membetulkan kekusutan, 2. menunjukkan benda yang tersembunyi
ungkap – buka
ungkoi – keadaan badan yang sudah tua
ungkong-ungkong – duduk termangu-mangu
ungkosi – menanggung perbelanjaan
ungut – ter menung
unjuk – beri
unjun – pancing
unjut – jauh dipedalaman
unjut-unjut – terhenjut-henjut
untal – makan dengan cara terus telan
unyai – mengacak-acak rambut
upal – sudah banyak di nasehati
upang – bersandar/ berpegang
upong – sundang kelapa
urah – ejek
urak – buka

urang – orang
urangan – patung untuk menakutkan burung disawah
urik – rintik.
uroi – menjemur padi di matahari
utau – bahasa isyarat
utoh – nama gelaran bagi lelaki
uyah- garam
uyuh – lelah

Top
V

Database Bahasa Banjar Balum Tatamu – Belum Terdapat Database Bahasa Banjar

Top
W

wadah- tempat untuk sayur

wadai – kue yang dibuat dari tepung

wajan- tempat untuk memasak

wajik- makanan yang dibuat dari ketan

wala – nakal, bandel

wani – berani

warik- binatang kera / munyit

wasi – besi

wadak – kasay

wagas – sembuh

wagil – sering

waham – salah sangka,keliru

wahana – alamat,pertanda

wahin – bersin

waja – baja

wakar – penjaga,satpam

wakas – akhi

walang – batal

walar – lumayan,mending

walatih – ulatih

walatung – rotan besar

walih – pasti

walik – ayam berbulu keriting

waluh – labu

walut – belut

wancuh – sendok nasi

wangsul – keluar,muncul

wani – berani

wanyi – lebah (madu)

wapak -ajimat

warah – olok- olok

warang – besan

waras – sembuh

wayah – zaman

widay – kere,tirai

wihang – rahang

wilanja – belanja

wisa – bisa

Top
X

Database Bahasa Banjar Balum Tatamu – Belum Terdapat Database Bahasa Banjar

Top
Y

yahudi – yahudi

yaitu – begitu

yakin – yakin

yaksa – raksasa

yakut – (permata)yakut

yamin – lagi

yasin – (surah)yasin

yat – lihat

yato – ya begitu,yaitu

yota – juta

Messanger : wm_tabalong@yahoo.com

SYEKH MUHAMMAD ARSYAD AL-BANJARI

24-Sep-2008 21:32:00

(Matahari Islam Kalimantan )*

Oleh Zulfa Jamalie**
(Pengurus elkisab = Lembaga Kajian Islam, Sejarah, dan Budaya Banjar)

Jika disebutkan nama Datu Kalampayan atau Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari tentu semua orang Banjar, terutama mereka yang berdiam di kawasan Kalimantan mengetahui siapa beliau. Ya, bagi masyarakat Banjar (Kalimantan Selatan), Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari adalah icon peradaban dan perkembangan keislaman. Melalui jasa beliaulah Islam tersebar secara kepada masyarakat luas. Kealiman, aktivitas, dan produktivitasnya dalam berkarya dan berdakwah telah meninggalkan khazanah yang serasa tak pernah habis digali oleh generasi sekarang. Wajar jika kemudian Wan Mohd. Wan Shagir Abdullah (pengkaji naskah ulama Melayu) menjulukinya sebagai “Matahari Islam Nusantara”, K.H. Saifuddin Zuhri (mantan Menteri Agama RI periode 1962-1967) menjulukinya “Mercusuar Islam Kalimantan” oleh Gubernur Hindia Belanda di Batavia, ia dijuluki “Tuan Haji Besar”, dan bahkan Azyumardi Azra (1998: 251) memposisikannya sebagai orang yang memiliki peran penting dalam jaringan ulama nusantara, seorang ulama yang mula-mula mendirikan lembaga-lembaga Islam, dan mengenalkan gagasan-gagasan baru keagamaan di Kalimantan Selatan dalam seluruh bidang kehidupan masyarakat.
Syekh Muhammad Arsyad, putra terbaik Banjar ini dilahirkan pada tanggal 15 Shafar 1122 H atau 19 Maret 1710 M. Karena kecerdasan, bakat, dan kecakapannya membuat Sultan Banjar (Sultan Tahmidullah bin Sultan Tahlilullah) tertarik sehingga mengajaknya untuk tinggal di istana, ketika ia berumur lebih kurang 8 tahun. Kemudian, oleh Sultan Banjar, setelah dewasa (usia 30 tahunan) ia diberangkatkan ke Mekkah untuk menuntut dan memperdalam ilmu agama, setelah sebelumnya dinikahkan dengan perempuan istana, Tuan Bajut. Selama di Mekkah, Syekh Muhammad Arsyad tinggal di sebuah rumah yang khusus dibelikan oleh Sultan Banjar, terletak di kampung Samiyyah, yang kemudian dikenal sebagai Barhat Banjar. Di Haramain (Mekkah-Madinah), Al-Banjari belajar kepada sejumlah guru terkemuka, di antara guru-gurunya yang terkenal adalah, Syekh Muhammad bin Abdul Karim Samman al-Madani, Syekh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi, Syekh Athaillah bin Ahmad al-Misri, Abdul al-Mun’im al-Damanhuri, Ibrahim bin Muhammad al-Ra’is al-Zamzami al-Makki, dan lain-lain.
Setelah melakoni belajarnya selama lebih kurang 30 tahun di Mekkah dan 5 tahun di Madinah, maka Syekh Muhammad Arsyad pun kembali ke Banua pada bulan Desember 1772 M (Ramadhan 1186 H bersama-sama dengan anak menantu sekaligus sahabatnya Syekh Abdul Wahab Bugis. Pada saat itu yang memerintah di Kerajaan Banjar adalah Pangeran Nata Dilaga bin Sultan Tamjidullah, sebagai wali putera mendiang Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah (1761-1787 M), yang kemudian sejak tahun 1781-1801 secara resmi memerintah sebagai Raja Banjar dan bergelar Sultan Tahmidullah II bin Sultan Tamjidullah.
Dengan dilatarbelakangi oleh situasi dan kondisi daerah tempat ia menuntut ilmu (Mekkah dan Madinah), membuat Al-Banjari tanggap dan kaya dengan pikiran-pikiran keagamaan dan kemasyarakatan, sehingga begitu kembali dan tiba di tanah air, Al-Banjari aktif berdakwah untuk membangun masyarakat Banjar melalui tiga bidang kegiatan, yakni bidang keagamaan, bidang sosial-kemasyarakatan, dan bidang kenegaraan.
Pertama, bidang keagamaan, adalah kegiatan-kegiatan yang secara khusus berhubungan langsung dengan masalah-masalah keagamaan. Di mana di samping mengajar dan mendidik anak, cucu, dan para muridnya, Syekh Muhammad Arsyad juga pergi berdakwah (“metode jemput bola”) kepada semua lapisan masyarakat, baik rakyat biasa maupun di kalangan para bangsawan dan kerajaan. Dalam konteks ini, strategi dakwah yang ia gunakan adalah menyatu dengan kelompok subjek dakwah, menggiatkan kaderisasi dan regenerasi juru dakwah, serta berusaha mewujudkan kesejahteraan hidup masyarakat dan mengikutsertakan pengaruh/kekuasaan kerajaan.
Melalui kegiatan pendidikan dan kaderisasi, Syekh Muhammad Arsyad berhasil mencetak kader-kader muda yang handal, di antaranya adalah Fatimah dan Muhammad As’ad. Fatimah binti Syekh Abdul Wahab Bugis ini adalah cucu perempuan pertama Syekh Muhammad Arsyad yang telah mewarisi ilmu-ilmu keislaman dari ayah dan kakeknya, ia dapat menguasai berbagai bidang ilmu, seperti Ilmu Arabiyah, Ilmu Tafsir, Ilmu Hadits, Ushuluddin, Fikih, dan sebagainya dengan baik. Sehingga kemudian bersama-sama dengan saudaranya seibu Muhammad As’ad bin Usman, mereka di kenal sebagai “bunga ilmu” Tanah Banjar. Jika Muhammad As’ad menjadi guru bagi kaumnya, maka Fatimahpun menjadi seorang guru bagi kaum perempuan yang ingin belajar ilmu agama di zamannya. Fatimah pulalah yang sebenarnya telah menyusun kitab fikih berbahasa Melayu yang sangat populer, yakni Parukunan, namun nama yang dipakai sebagai penulis kitab ini bukan nama dia, tetapi nama pamannya, yakni Mufti H. Jamaluddin, sehingga kitab ini populer dengan nama Parukunan Jamaluddin. Kitab Parukunan ini pertama kali diterbitkan di Mekkah dan Singapura tahun 1318 H, dan dicetak ulang di Bombay, terakhir di Indonesia , hingga sekarang. Kitab Parukunan ini populer dan telah dipelajari oleh orang-orang Islam Melayu sebagai dasar pelajaran agama, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di Malaysia, Philipina, Vietnam, Kamboja, dan Burma (Zafri Zamzam, 1979).

Dakwah yang beliau sampaikan tidak hanya secara lisan, akan tetapi juga melalui tindakan (action) nyata yang bisa dilihat dan dicontoh oleh masyarakat, bahkan melalui dakwah bil-qolam (karya tulis), beliau telah menuliskan berbagai pemikiran keagamaan yang menjadi tuntunan masyarakat untuk memahami secara lebih luas tentang agamanya, sehingga karya tulis itu sampai sekarang masih relevan dikaji dan dipelajari, sepeti kitab Sabil al-Muhtadin, Kanz al-Ma’rifah, Tuhfaturraghibin, dan lain-lain. Sehingga, melalui semua ini beliau juga berhasil membentuk masyarakat Islam Banjar yang memiliki kesadaran untuk berpegang pada ajaran agama Islam melalu dakwah bil-lisan, bil-kitabah, dan bil-hal, serta diteruskan kemudian oleh generasi dan kader-kader yang telah dibina melalui upaya pengiriman juru dakwah ke berbagai daerah yang masyarakatnya sangat memerlukan pembinaan agama. Dari sini akhirnya dakwah terus berkembang dan ajaran Islam semakin tersebar luas ke tengah-tengah masyarakat Banjar.

Kedua, bidang sosial-kemasyarakatan, antara lain aktivitas dakwah Syekh Muhammad Arsyad dapat dikaji melalui kegiatannya membuka perkampungan baru Dalam Pagar, membuat irigasi, dan penataan pembangunan rumah yang berwawasan lingkungan.

Kampung Dalam Pagar semula hanyalah tanah kosong semak belukar terletak di pinggiran sungai Martapura, yang diberikan kepada Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari yang memang berhak mendapatkannya selaku bubuhan kerajaan. Tanah ini disebut dengan istilah tanah lungguh. Kemungkinan dipilihnya lokasi pinggiran sungai adalah untuk memudahkan transportasi dan komunikasi dengan daerah lain, sebab waktu itu sungai merupakan sarana transportasi yang paling utama, di samping sebab yang lain, seperti pemanfaatan potensi sungai untuk pengairan sawah dan perkebunan, untuk kebutuhan hidup sehari-hari, sebagai sumber usaha (mencari ikan), dan lain-lain. Melalui usaha Al-Banjari, Dalam Pagar kemudian benar-benar menjelma menjadi daerah yang strategis, dan tidak mengherankan jika kemudian dalam waktu yang singkat daerah yang telah di bangun oleh Syekh Muhammad Arsyad dibantu oleh menantu (Syekh Abdul Wahab Bugis), anak dan cucunya ini berkembang menjadi pemukiman penduduk yang ramai, pusat penyebaran dan pendidikan Islam, mercusuar perkembangan ilmu-ilmu keislaman, serta menjadi locus dan kawah candradimuka paling penting untuk mendidik serta mengkader para murid yang kemudian hari menjadi ulama terkemuka di kalangan masyarakat Kalimantan, di samping pula menjadi daerah pertanian yang subur (lumbung padi) pada saat itu. Sekarang Kampung Dalam Pagar termasuk daerah Kecamatan Martapura dan terbagi menjadi dua desa, yakni Kampung Dalam Pagar dan Kampung Dalam Pagar Ulu.

Di Dalam Pagar pulalah kemudian Syekh Muhammad Arsyad bersama dengan anak menantu membangun surau, rumah tempat tingga sekaligus mandarasah (madrasah), yang menjadi tempat untuk belajar masyarakat, mengkaji dan menimba ilmu, sekaligus tempat untuk mendidik untuk dan membina kader-kader penerus dakwah Islam. Hal ini menjadi penanda awal lahirnya sistem pendidikan secara kelembagaan di Kalimantan Selatan, yang dikenal dengan sistem pondok pesantren. Sebab adanya unsur-unsur penting sistem pondok pesantren seperti kyai, asrama atau pondok, masjid atau surau, pola pengajaran dan pengajian kitab kuning yang memakai metode sorogan dan halaqah (kaji duduk) menjadi penanda aktivitas pendidikan di Dalam Pagar ini, karena itu boleh jadi inilah pesantren pertama yang pernah ada di bumi Kalimantan.
Mandarasah, adalah pusat pendidikan Islam yang serupa ciri-cirinya dengan surau di Padang Sumatera Barat, rangkang, meunasah dan dayah di Aceh, atau pesantren di Jawa. Bangunan tersebut terdiri dari ruangan-ruangan untuk belajar, pondokan tempat tinggal para santri, rumah tempat tinggal Tuan Guru atau kyai, dan perpustakaan. Oleh Humaidy (2003) lembaga pendidikan Islam ini, sebagaimana istilah yang biasa dipakai di kawasan dunia Melayu, seperti Riau, Palembang, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Fattani (Thailand) disebut punduk. Menurut Humaidy, walaupun mandarasah atau punduk, yang dibangun oleh Syekh Muhammad Arsyad itu serupa ciri-cirinya dengan pesantren di Jawa namun hal ini bukan berarti sama. Sebab punduk memiliki perbedaan yang jelas dengan pesantren, seperti proses pemunculannya yang lebih bernuansa Timur Tengah, punduk tidak didirikan semata-mata oleh Tuan Guru atau Kyai, tetapi atas partisipasi seluruh masyarakat sehingga punduk tidak mutlak milik Tuan Guru sendiri, di dalam punduk Tuan Guru tidak memiliki kuasa penuh terhadap santrinya, punduk tidak mengharuskan santri hanya mengkaji ilmu pada seorang Tuan Guru, tetapi bisa sekaligus kepada beberapa orang, Tuan Guru dan punduk menyatu dengan masyarakat luar komunitas mereka.
Syekh Muhammad Arsyad juga seorang petani yang handal, hal ini terlihat dari keberhasilan usaha beliau membuka persawahan dan perkebunan di Kalampayan, dekat Lok Gabang. Daerah ini semula hanyalah merupakan lahan rawa “tidur” yang sangat luas dan belum dimanfaatkan, karena selalu tergenang air, sebab tidak ada saluran pembuangan air (kanal). Maka untuk kepentingan masyarakat banyak serta dalam rangka meningkatkan tarap hidup mereka melalui usaha pertanian, beliau kemudian membuat saluran air sepanjang 8 kilometer. Selanjutnya, oleh masyarakat tabukan sungai yang dibuat ini kemudian disebut “Sungai Tuan”, (dan sekarang jadi satu nama kampung; Kampung Sungai Tuan) untuk memberikan penghormatan kepada beliau.
Di samping itu beliau secara taktis juga memberi contoh kepada masyarakat, bagaimana membangun rumah yang yang baik, berwawasan lingkungan dan berdasarkan hitungan yang matang, dari segi lokasi maupun posisi sehingga terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan, baik banjir ataupun gangguan binatang.
Ketiga, bidang kenegaraan, di mana melalui hubungan kekerabatan, akses yang luas ke dalam Istana, serta keberhasilannya dalam membangun dan menggerakan masyarakat memicu simpatik Sultan Banjar (Sultan Tahmidullah II bin Sultan Tamjidillah) untuk memberikan keleluasaan kepada Syekh Muhammad Arsyad untuk lebih memantapkan dan mengembangkan Islam di Tanah Banjar secara melembaga, agar agama Islam benar-benar menjadi way of life, keyakinan dan pegangan masyarakat Banjar khususnya, dan Kalimantan umumnya.
Pada akhirnya, Sultanpun berkeinginan pula untuk menertibkan dan menyempurnakan peraturan yang telah dibuat berdasarkan hukum Islam, wadah atau badan yang menjaga agar kemurnian hukum dapat diterapkan, dan yang lebih penting lagi adalah agar roda pemerintahan di kerajaan benar-benar dapat dilaksanakan dengan baik sesuai dengan tuntunan agama. Sehingga bermula dari sinilah kemudian timbul lembaga-lembaga dan jabatan-jabatan keislaman dalam pemerintahan, semacam Mahkamah Syar’iyah, yakni Mufti dan Qadli. Mufti adalah sebuah istilah jabatan yang berarti hakim yang tertinggi, pengawas peradilan pada umumnya. Di bawah Mufti ada Qadli, yaitu pelaksana hukum dan pengatur jalannya pengadilan agar hukum berjalan dengan wajar dan benar. Mufti memimpin sebuah Mahkamah Syar’iyah, guna mengawasi pengadilan umum (masyarakat). Pejabat Mufti adalah orang yang betul-betul alim ilmu agama dan mengerti seluk-beluk hukum Islam secara mendalam. Sedangkan secara kelembagaan, Mufti adalah suatu lembaga yang bertugas memberikan nasihat atau fatwa kepada sultan masalah-masalah keagamaan, jabatan mufti kerjaan Banjar yang pertama dipegang oleh H. Muhammad As’ad bin Usman (cucu Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari). Sedangkan qadli adalah mereka yang mengurusi dan menyelesaikan segala urusan hukum Islam, terhadap masalah perdata, pernikahan, dan waris, jabatan qadli yang pertama dipegang oleh H. Abu Su’ud bin Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.
Sampai akhirnya Syariat Islam diterapkan sebagai hukum resmi yang mengatur kehidupan masyarakat Islam di tanah Banjar pada masa pemerintahan Sultan Adam al-Watsiq Billah bin Sultan Sulaiman al-Mu’tamidillah (1825-1857 M), yang dikenal dengan nama Undang-Undang Sultan Adam (UUSA). UUSA ini ditetapkan pada tanggal 15 Muharram 1251 H atau tahun 1835 M, kemudian seiring dengan terjadinya perebutan kekuasaan dalam kerajaan Banjar akibat campurtangan Belanda tahun 1857 sesudah wafatnya Sultan Adam, dan berujung pada dihapuskannya kerajaan pada tahun 1860 oleh Belanda, maka pada waktu itu pula pemberlakukan UUSA dihapuskan dari seluruh wilayah Tanah Banjar.
Dibentuk dan diberlakukannya UUSA ini bertujuan untuk mengatur agar kehidupan beragama masyarakat menjadi lebih baik, mengatur agar akidah masyarakat lebih sempurna, mencegah terjadinya persengketaan, dan untuk memudahkan para hakim dalam menetapkan status hukum suatu perkara.
UUSA ini antara lain berisikan, Pasal 1 sampai dengan pasal 2 berbicara tentang dasar negara yakni Islam yang Ahlus Sunnah wal Jamaah, pasal 4 sampai dengan pasal 22 menerangkan peraturan dalam peradilan berdasarkan mazhab Syafi’i, pasal 23 sampai pasal 27 berbicara tentang hukum tanah garapan, penjualan tanah, penggadaian, peminjaman dan penyewaan tanah yang harus dilakukan secara tertulis, serangkap di tangan hakim dan serangkap lagi di tangan yang berkepentingan. Gugatan terhadap tanah yang terjadi sebelum diberlakukan undang-undang dapat diajukan sebelum duapuluh tahun semenjak undang-undang ditetapkan, sedang tanah atau kebun yang terjual atau telah dibagi kepada ahli waris, dapat digugat selama sepuluh tahun dari tahun penjualan atau pembagian sampai undang-undang diberlakukan. Orang yang menang dalam perkara tidak boleh mengambil sewa selama berada di tangan tergugat.
Demikianlah, setelah melakoni hidup, memenuhi kewajiban, dan perjuangan dakwah di bawah panji-panji Islam, meletakkan dasar-dasar Islam dalam kehidupan masyarakat dan negara, mewariskan khazanah keilmuan dan pemikiran melalui karya tulisnya, maka pada tanggal 6 Syawal 1227 H bertepatan dengan tanggal 13 Oktober 1812 M pada usia 105 tahun, Syekh Muhammad Arsyad kembali ke-hadirat Allah SWT.
Kesimpulan, melalui usaha bidang keagamaan Syekh Muhammad Arsyad telah meninggalkan sejumlah warisan berharga (ide, pemikiran, karya tulis) untuk dikaji dan dipelajari oleh para cendikiawan keagamaan. Melalui usaha bidang sosial-kemasyarakatan Al-Banjari meninggalkan sejumlah karya nyata (atsar) yang berguna untuk masyarakat luas dan bisa ditiru oleh change agent, social worker, community developmentalist, untuk membangun, menggerakan, serta memberdayakan masyarakat melalui berbagai pendekatan yang arif bijaksana, berwawasan sosial, budaya dan lingkungan. Dan melalui usaha bidang kenegaraan Al-Banjari juga telah meninggalkan khazanah berharga tentang penerapan sistem dan perundang-undangan Islam sebagai sistem yang paling sempurna guna mengatur kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, dan berbangsa pada masa sekarang, besok, dan masa akan datang.



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.