TENGKORAK DEMANG LEHMAN


Zegelstempel gebruikt door Pembekel Leman in 1863
“Stempel Demang Lehman” (Koleksi Museum Folken Kunde – Leiden)

Wakil Gubernur Kalimantan Selatan (Kalsel) Rosehan NB berjanji segera “menjemput” tengkorak Demang Lehman yang kini tersimpan di Museum Leiden di Belanda. Keinginan untuk mengambil tengkorak seorang panglima perang dalam Perang Banjar itu disampaikan Wagub di Aula Abdi Persada Pemprov Kalsel, Rabu (4/2).

Menurut Wagub beberapa waktu lalu, dia menerima kabar dari salah seorang arkeolog asal Yogyakarta, yang mengatakan bahwa kepala Demang Lehman masih tersimpan di salah satu museum di Belanda. Saat itu, arkeolog tersebut meminta kepada pejabat museum setempat untuk mengambil tengkorak itu untuk dibawa pulang ke Indonesia sebagai bukti peninggalan sejarah, tetapi ditolak karena pihak museum hanya mau menyerahkan tengkorak tersebut jika diambil langsung oleh pejabat publik daerah asal Demang Lehman.

“Mungkin ketentuan tersebut dimaksudkan agar ada pertanggungjawaban yang jelas sehingga tidak sampai hilang atau dimanfaatkan untuk hal-hal yang tidak semestinya,” katanya.

Untuk itu, kata Wagub, pihaknya akan segera menelusuri sejarah dan kebenaran tentang keberadaan tengkorak kepala pejuang yang menjadi kebanggaan warga Kalsel. Selain menelusuri keberadaan tengkorak tersebut, Wagub juga berjanji segera melakukan penelusuran terhadap situs-situs sejarah, untuk mengetahui di mana Demang Lehman dimakamkan. Hingga kini tidak ada masyarakat yang mengetahui makam pejuang yang dikenal sangat sakti dan tabah pada masanya itu.

Menurut Wagub, berdasarkan sejarah, Kiai Demang Lehman adalah salah seorang panglima perang dalam Perang Banjar. Gelar Kiai Demang merupakan gelar untuk pejabat yang memegang sebuah lalawangan (distrik) di Kesultanan Banjar. Demang Lehman semula merupakan seorang panakawan (asisten) dari Pangeran Hidayatullah sejak tahun 1857. Demang Lehman lahir di Martapura pada tahun sekitar 1837, mula-mula bernama Idis.

Oleh karena kesetiaan dan kecakapannya dan besarnya jasa sebagai panakawan dari Pangeran Hidayatullah, dia diangkat menjadi Kiai sebagai Kepala Distrik Riam Kana. Pada masa perjuangan melawan Belanda, Demang Lehman dikenal sebagai pejuang yang tidak kenal kompromi hingga akhirnya dia ditangkap di daerah Gunung Pangkal Batulicin, Tanah Bumbu, kemudian diangkut ke Martapura.

Pemerintah Belanda menetapkan hukuman gantung sampai mati di Martapura, sebagai pelaksanaan keputusan Pengadilan Militer Belanda tanggal 27 Februari 1862. Setelah selesai digantung dan mati, kepala Demang Lehman dipotong oleh Belanda dan dibawa oleh Konservator Rijksmuseum van Volkenkunde Leiden. Kepala Demang Lehman dikabarkan disimpan di Museum Leiden di Negeri Belanda sehingga mayatnya dimakamkan tanpa kepala.

sumber : antara.com, kompas.com

1 Response to “TENGKORAK DEMANG LEHMAN”


  1. 1 awiiir February 7, 2009 at 6:39 am

    ulun ad membrowse ke koleksinya museum volkenkunde leiden, tp nang ditamui stempel pembakal leman aja !!!
    mun kpla sdin dbe blik, diandak dimuseum atau dimakamakan ??? dilematis kaina jadinya …


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: