Ujian Masuk UGM Diwarnai Jual Beli Kursi

Ujian masuk Universitas Gadjah Mada tahun ini dibayangi praktik jual beli kursi. Calon peserta dijanjikan diterima dengan membayar “sumbangan” ratusan juta rupiah. Anak seorang hakim Mahkamah Konstitusi nyaris menjadi korban.

Praktik kotor itu tercium Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UGM yang menemukan jaringan percaloan beroperasi pada saat pelaksanaan ujian masuk UGM serentak di 10 kota, Minggu (13/4). Para calo itu sanggup menyediakan kursi mahasiswa di UGM asalkan calon mahasiswa bersedia menyumbang Rp 100 hingga Rp 200 juta. Modus lainnya, mereka menyediakan joki untuk mengerjakan soal-soal tes ujian masuk.

Anak hakim Konstitusi Mahfud MD nyaris menjadi korban percaloan itu. Anak mantan menteri pada era pemerintahan presiden Abdurrahman Wahid itu ditawari satu kursi di UGM dengan harga Rp 100 hingga Rp 200 juta.

“Jual beli kursi di UGM bukan isapan jempol. Tim investigasi kami berhasil bertemu dengan calo yang menjual kursi itu,” kata Presiden BEM UGM Budianto, Minggu (13/4).

Budianto mengaku timnya sudah berkomunikasi dengan anak Mahfud MD. Dari pertemuan dengan calo dan korban, tim itu mengetahui praktik percaloan tidak hanya di UGM, tapi lingkupnya sudah nasional. “Mereka juga menjanjikan kursi di Universitas Indonesia, Institut Pertanian Bogor, dan Institut Teknologi Bandung,” ujarnya.

Jika praktik jual beli kursi benar-benar terjadi, tentu sangat merugikan calon mahasiswa dari kalangan tidak mampu. Mereka yang berotak encer tapi tidak memiliki kemampuan finansial memadai akan tergusur dan tidak bisa kuliah di perguruan tinggi favorit.

Budianto menyatakan jual beli kursi mahasiswa akan mencoreng nama UGM sebagai kampus rakyat. Hal itu semakin membuktikan di UGM yang berbicara uang, bukan kemampuan otak. Namun dia belum berani memastikan orang dalam terlibat. “Pada waktunya, kami akan ungkap siapa orang dalam yang terlibat praktik kotor ini,” katanya.

Dekan Fakultas Kedokteran UGM Hardyanto Soebono membantah jual beli kursi dengan modus sumbangan hingga ratusan juta rupiah terjadi di fakultasnya. Di fakultas ini memang tersiar kabar banyak calon mahasiswa jor-joran mengisi sumbangan jika diterima di UGM. “Memang ada yang menyurati saya, menjanjikan sumbangan sampai 200 juta rupiah kalau anaknya diterima. Tapi, ya silakan memberikan angka setinggi-tingginya, itu tidak akan kami gubris. Kami melihat nilai tes,” katanya.

Menurut Hardyanto, selama ini UGM tidak pernah serendah itu menerima calon mahasiswa. Penerimaan benar-benar didasarkan pada hasil tes masuk, bukan faktor besaran uang yang akan diberikan calon mahasiswa.

Jual beli kursi mahasiswa memang pernah terjadi di UGM dan melibatkan orang dalam. Direktur Kemahasiswaan Haryanto membenarkan pada tahun 2003 seorang karyawan UGM dipecat karena terbukti terlibat jual beli kursi. Sanksi seperti itu akan dijatuhkan jika tahun ini terbukti ada karyawan terlibat kasus serupa.

Haryanto meminta peserta ujian masuk waspada terhadap calo yang menjanjikan kursi mahasiswa UGM dengan membayar sejumlah uang. “Calon mahasiswa harus cerdas. Sebab, meski membayar ratusan juta rupiah, tidak akan diterima jika hasil ujian tulis jelek,” ujarnya. (E4)

Sumber : Reza Yunanto ©2009 VHRmedia.com

0 Responses to “Ujian Masuk UGM Diwarnai Jual Beli Kursi”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: