Archive for the 'Informasi Umum' Category

Daftar Perguruan Tinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta (Season II)

—————————————————————————-

Universitas Negeri


*) PT-BHMN

—————————————————————————-

Universitas Swasta

  • Universitas Respati Yogyakarta, Yogyakarta
  • Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta
  • Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Yogyakarta
  • Universitas Cokroaminoto Yogyakarta, Yogyakarta
  • Universitas Dirgantara Indonesia, Yogyakarta
  • Universitas Gunung Kidul, Wonosari
  • Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta
  • Universitas Janabadra, Yogyakarta
  • Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta
  • Universitas Kristen Immanuel, Yogyakarta
  • Universitas Mercu Buana, Yogyakarta
  • Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Yogyakarta
  • Universitas Pembangunan Nasional ‘VETERAN’ Yogyakarta, Yogyakarta
  • Universitas PGRI Yogyakarta, Yogyakarta
  • Universitas Proklamasi ’45, Yogyakarta
  • Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
  • Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Yogyakarta
  • Universitas Teknologi Yogyakarta, Yogyakarta
  • Universitas Wangsa Manggala, Yogyakarta
  • Universitas Widya Mataram, Yogyakarta
  • Universitas  Veteran, Yogyakarta(UPN)

—————————————————————————-

Institut

 

  • IKIP PGRI Wates, Yogyakarta
  • Institut Pertanian Intan, Yogyakarta
  • Institut Pertanian Stiper, Sleman
  • Institut Sains & Teknologi AKPRIND, Yogyakarta

—————————————————————————-

Sekolah Tinggi

 

  • Sekolah Tinggi Bahasa Asing LIA, Yogyakarta
  • Sekolah Tinggi Profesi YKM, Yogyakarta
  • Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi AAN, Yogyakarta
  • Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Madani, Yogyakarta
  • Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Aisyiyah, Yogyakarta
  • Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Respati, Yogyakarta
  • Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Surya Global, Yogyakarta
  • Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Wira Husada, Yogyakarta
  • Sekolah Tinggi Pariwisata AMPTA Yogyakarta, Yogyakarta
  • Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa APMD, Yogyakarta
  • Sekolah Tinggi Psikologi Yogyakarta, Yogyakarta
  • Sekolah Tinggi Teknik Lingkungan Yayasan Lingkungan Hidup, Bantul
  • Sekolah Tinggi Teknologi Adisutjipto, Yogyakarta
  • Sekolah Tinggi Teknologi Informasi Respati, Yogyakarta
  • Sekolah Tinggi Teknologi Kedirgantaraan STTKD, Bantul
  • Sekolah Tinggi Teknologi Nasional, Yogyakarta
  • Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Bank, Yogyakarta
  • Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Hamfara, Yogyakarta
  • Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Isti Ekatana Upaweda, Yogyakarta
  • Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Mitra Indonesia, Yogyakarta
  • Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Nusa Megar Kencana, Yogyakarta
  • Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pariwisata API, Yogyakarta
  • Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi SBI, Yogyakarta
  • Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Widya Wiwaha, Yogyakarta
  • Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKP, Yogyakarta
  • Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN, Yogyakarta
  • Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Politik Kartika Bangsa, Yogyakarta
  • STIKIP Catur Sakti, Bantul
  • Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer Akakom, Yogyakarta
  • STMIK AMIKOM, Yogyakarta
  • Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer Pelita Nusantara, Yogyakarta
  • Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer Proactive, Yogyakarta
  • Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer EL RAHMA, Yogyakarta
  • Sekolah Tinggi Multimedia MMTC, Yogyakarta

—————————————————————————-

Politeknik

 

  • Politeknik API, Yogyakarta
  • Politeknik Kesehatan Bhakti Setya Indonesia, Yogyakarta
  • Politeknik LPP, Yogyakarta
  • Politeknik Muhammadiyah Yogyakarta, Yogyakarta
  • Politeknik PPKP, Yogyakarta
  • Politeknik Seni Yogyakarta, Yogyakarta
  • Politeknik YDHI, Yogyakarta

—————————————————————————-

Akademi

 

  • Akademi Akuntansi Sapta Widya Tama, Yogyakarta
  • Akademi Akuntansi YKPN, Yogyakarta
  • Akademi Analis Farmasi Al Islam, Yogyakarta
  • Akademi Analisis Kesehatan Manggala Yogyakarta, Yogyakarta
  • Akademi Bahasa Asing Primagama, Yogyakarta
  • Akademi Bahasa Asing Yappindo, Yogyakarta
  • Akademi Bahasa Asing YIPK, Yogyakarta
  • Akademi Desain Visi Yogyakarta, Yogyakarta
  • Akademi Fisioterapi YAB Yogyakarta, Yogyakarta
  • Akademi Kebidanan Yogyakarta, Yogyakarta
  • Akademi Kebidanan Ummi Khasanah, Yogyakarta
  • Akademi Keperawatan Al Islam Yogyakarta, Yogyakarta
  • Akademi Keperawatan Bethesda YAKKUM, Yogyakarta
  • Akademi Keperawatan Karya Bakti Husada Yogyakarta, Yogyakarta
  • Akademi Keperawatan Wiyata Husada Yogyakarta, Yogyakarta
  • Akademi Keperawatan YKY Yogyakarta, Yogyakarta
  • Akademi Kesejahteraan Sosial AKK, Yogyakarta
  • Akademi Kesejahteraan Sosial Tarakanita, Sleman
  • Akademi Ketatalaksanaan Pelayaran Niaga Bahtera, Yogyakarta
  • Akademi Keuangan Dan Perbankan YIPK, Yogyakarta
  • Akademi Komunikasi Indonesia YPK, Yogyakarta
  • Akademi Komunikasi Radya Binatama, Yogyakarta
  • Akademi Komunikasi Yogyakarta, Yogyakarta
  • Akademi Manajemen Administrasi Dharmala, Yogyakarta
  • Akademi Manajemen Administrasi Yogyakarta, Yogyakarta
  • Akademi Manajemen Administrasi YPK Yogyakarta, Yogyakarta
  • Akademi Manajemen Perusahaan YKPN, Yogyakarta
  • Akademi Manajemen Putra Jaya, Yogyakarta
  • Akademi Maritim Ganesha Yogyakarta, Yogyakarta
  • Akademi Maritim Yogyakarta, Yogyakarta
  • Akademi Pariwisata Ambarukmo Yogyakarta, Yogyakarta
  • Akademi Pariwisata BSI Yogyakarta, Yogyakarta
  • Akademi Pariwisata Buana Wisata, Yogyakarta
  • Akademi Pariwisata Dharma Nusantara Sakti, Yogyakarta
  • Akademi Pariwisata Indraprasta, Yogyakarta
  • Akademi Pariwisata Stipary, Yogyakarta
  • Akademi Pariwisata Yogyakarta, Yogyakarta
  • Akademi Perikanan Yogyakarta, Yogyakarta
  • Akademi Pertanian Yogyakarta, Yogyakarta
  • Akademi Peternakan Brahma Putra, Yogyakarta
  • Akademi Sekretari dan Manajemen Desanta, Yogyakarta
  • Akademi Sekretari dan Manajemen Indonesia, Yogyakarta
  • Akademi Sekretari dan Manajemen Santa Maria, Yogyakarta
  • Akademi Manajemen Informatika dan Komputer Kartika Yani, Yogyakarta
  • Akademi Seni Rupa dan Desain ADA Yogyakarta, Yogyakarta
  • Akademi Seni Rupa dan Desain Akseri, Yogyakarta
  • Akademi Seni Rupa dan Desain MSD, Yogyakarta
  • Akademi Teknik PIRI, Yogyakarta
  • Akademi Teknik YKPN, Yogyakarta
  • Akademi Teknologi Otomotif Nasional, Yogyakarta
  • Akademi Telekomunikasi Indonesia, Yogyakarta
  • AMIK Aster, Yogyakarta
  • AMIK BSI Yogyakarta, Yogyakarta
  • AMIK Kartika Yani, Yogyakarta
  • AMIK Wira Setya Mulya, Yogyakarta
  • AMIK Yappindo, Yogyakarta
  • ATMIK El Rahma, Yogyakarta

Nglanggeran, Gunung Api Purba yang Memesona.

Gunung Nglanggeran adalah sebuah gunung api purba berumur sekitar 60 juta tahun yang terletak di kawasan Baturagung, bagian utara Kabupaten Gunung Kidul pada ketinggian sekitar 200-700 mdpl.

Teletak di desa Nglanggeran Kecamatan Patuk, tempat wisata ini dapat ditempuh sekitar 15 menit atau sekitar 22 km dari kota Wonosari.

Kawasan ini konon merupakan kawasan yang litologinya disusun oleh material vulkanik tua dan bentang alamnya memiliki keindahan yang secara geologi sangat unik dan bernilai ilmiah tinggi. Berdasarkan hasil sejumlah penelitian dan referensi, gunung Nglanggeran adalah gunung berapi purba, yang keberadaanya jauh sebelum terbentuknya Gunung Merapi di Kabupaten Sleman.

Mendaki Gunung Nglanggeran, Anda akan menjumpai sebauh bangunan Joglo (Pendopo Joglo Kalisong) di pintu masuk, dan akan ada tiga bangunan gardu pandang sederhana dari ketinggian yang rendah, sedang sampai puncak gunung.

Dari atas gunung, pemandangan terhampar luas bak permadani hijau. Kala kita memandang ke bawah, kita bisa melihat ladang, kebun, dan bangunan tower dan berbagai stasiun televisi yang jumlahnya cukup banyak, manambah keindahan alam.

Nama Nglanggeran konon berasal dari kata planggaran yang bermakna setiap perilaku jahat pasti ketahuan. Ada pula yang menuturkan, nama bukit berketinggian 700 meter di atas permukaan laut ini dengan kata langgeng artinya desa yang aman dan tentram.

Selain sebutan tersebut, gunung yang tersusun dari banyak bebatuan ini dikenal dengan nama Gunung Wayang karena terdapat gunung/bebatuan yang menyerupai tokoh pewayangan. Menurut kepercayaan adat jawa Gunung Nglanggeran dijaga oleh Kyi Ongko Wijaya dan Punakawan. Punakawan dalam tokoh pewayangan tersebut, yakni Semar, Gareng, Petruk, serta Bagong.

Kepercayaan lain menyebutkan bahwa Gunung Nglanggeran sebagai Gunung Wahyu karena gunung tersebut diyakini sebagai sarana meditasi memperoleh wahyu dari Tuhan Yang Maha Esa. Air dari gunung Nglanggeran sering diambil abdi dalem dari Kraton Yogyakarta sebagai sarana mohon ketentraman dan keselamatan semua masyarakat DIY. Tak heran, sebagian orang masih mengeramatkan gunung tersebut. Pada malam tahun baru Jawa atau Jumat Kliwon, beberapa orang memilih semedi di puncak gunung ini.

Sumber : gudeg.net

re-publish : admin.

Pameran Seni Visual Johan Marais-Piper a.k.a Jomapi ‘Mimpi-mimpi yang Memanjakan Diri’

7 – 23 Agustus 2009

Pameran tunggal Johan Marais-Piper a.k.a Jomapi ini akan dibuka pada Jumat, 7 Agustus di Jogja Gallery, dan akan berlangsung hingga 23 Agustus 2009.

Jomapi merupakan akronim dari nama Johan Marais-Piper, lahir 1982 di Sydney , Australia . Johan sekarang tinggal dan bekerja di Sydney , Australia tetapi dia dibesarkan dalam keluarga Indonesia-Australia dan sempat tinggal sepuluh tahun di Indonesia mulai tahun 1983. Pada masa kanak-kanaknya di Jakarta dia asyik menggambar sketsa dengan crayon dan kertas dan bermain dengan teman-teman seRT. Pada tahun 1992 dia kembali ke Australia bersama keluarganya, meninggalkan budaya dan teman-teman yang dikenal dan dicintainya itu untuk mencari teman-teman baru dan menyesuaikan diri dengan budaya yang berbeda. Setelah dewasa dia mengikuti pendidikan lanjutan di College of Fine Arts (Institut Seni Rupa) University of New South Wales . Dia meraih gelar Bachelor of Fine Arts in Time Based Art, yaitu program gelar yang mendalami nilai-nilai kesenian di bidang video dan multimedia.

Kegandrungan Johan akan keindahan dan beraneka seluk beluk rumit dari seni video sama kuatnya dengan kegemarannya akan kesegaraan dan simbolisme statis dari seni ilustrasi. Dia bekerja sebagai perancang grafis dan ilustrator selama tiga tahun terakhir ini. Karya seni video dan ilustrasi ciptaan Johan telah diikutsertakan dalam berbagai pameran sejak tahun 2000 dan kini dia menyajikan karya ilustrasi dan videonya dalam pameran ini, yaitu pameran tunggal pertamanya, ‘Mimpi-mimpi Yang Memanjakan Diri’ di Jogja Gallery, Yogyakarta, Indonesia, 7-23 Agustus 2009.

Menurut Johan impian itu merangsang sebagai perpaduan antara yang surealis dan penyangkalan tanggung jawab, namun tidak boleh disepelekan. Impian mampu memanjakan serta mengganggu kehidupan sehari-hari kita – saat mimpi kita membuka diri terhadap kemungkinan mimpi buruk. Impian dianggap sebagai serangkaian imej, ide dan emosi yang mengunjungi pikiran kita pada tahap-tahap tidur tertentu. Sigmund Freud memandang mimpi sebagai ungkapan ketakutan dan keinginan paling dalam dari si pemimpi. Ada juga teori lucid dreaming yaitu mimpi sadar yang mempertanyakan keberadaan dalam ‘dunia yang nyata’. Kandungan sejarah dan filsafat yang sarat tersembunyi di dalam istilah ‘mimpi’ sangat menarik bagi Johan.

Pameran ini terdiri dari serangkaian ilustrasi digital dan karya video yang menggambarkan berbagai impian dan kemanjaan diri yang samar. Ini suatu eksplorasi kekuatan jiwa manusia dan caranya menangani persepsi-persepsi realitas. Apakah kita sedang mengalah pada suatu gaya hidup yang manja ataukah realitas yang kita pandang ini hanya sekedar suatu mimpi yang luar biasa terang. Ungkapan-ungkapan ini berasal baik dari pengalaman pribadi maupun dari pengamatan sifat-sifat buruk yang ada dalam kehidupan sehari-hari di Australia maupun Indonesia .

Kata Johan karya-karya saya ini terasa sebagai hasil upaya pikiran bawah sadar saya berbicara dengan saya. Kini saya sajikan kepada Anda apa yang saya temukan tersembunyi di sudut pikiran saya. Silakan nikmati karya saya dan semoga Anda terbawa oleh impian Anda sendiri.

Agenda Seni & Budaya Di Yogyakarta (edisi Juli s/d Agustus 2009)

16 – 18 Juli 2009
14th Yogyakarta Gamelan Festival 2009

awier

Gamelan saat ini gamelan telah merambah di 33 negara/wilayah: Argentina, Australia, Austria, Belgium, Canada, China, Columbia, Cezch, Finland, France, Germany, Ireland, Israel, Italy, Japan, Korea, Malaysia, Mexico, Netherlands, New Zealand, Palestine, Philippines, Poland, Russia, Singapore, Spain, Suriname, Swiss, Taiwan, Thailand, UK/Inggris, USA dan Indonesia

________________________________________________________________________________________________________________

12 Juli 2009 – 5 Agustus 2009
Pameran Komik ‘The Trails of the Midnight.Bunny’

Pameran oleh Ariela Kristantina ini akan dibuka pada Minggu, 12 Juli 2009 pukul 19.30 WIB di Ruang Pamer KKF, dan akan berlangsung hingga 5 Agustus 2009.

Seperti halnya realis adalah salah satu genre dalam seni lukis, manga juga merupakan salah satu aliran dalam komik. Beriringan dengan itu, dan karena tidak ada yang menyebutkan ‘pameran realis’; maka ini adalah pameran komik, bukan pameran manga. Pameran ini bukannya memamerkan banyak komik; tetapi keseluruhan isi pameran ini adalah sebuah komik.

________________________________________________________________________________________________________________

30 Juni 2009 – 14 Juli 2009
Pameran Seni Rupa ‘2×3’ di Kersan Art Studio

Kersan Art Studio akan menggelar pameran seni rupa ‘2×3’ yang dibuka pada Selasa, 30 Juni 2009 pukul 19.30 WIB di Kersan Art Studio, Dusun II Kersan No 154, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul Yogyakarta.

Pameran bersama oleh Budi Kurniawan, Raprika Angga, Rosit Mulyadi, Nue Prastowo, Cosmas A. K, Harun, dan M. A Kurniawan ini akan dibuka oleh Nana Tedja, dan akan berlangsung hingga 14 Juli mendatang.

Pameran ‘2×3’ ini mengangkat tersebut untuk menyimbolkan sebuah ruangan kamar yang meruakan suatu tempat tertutup dengan langi-langit di suatu rumah atau bangunan lain. Suatu ruangan dapat memiliki sejumlah pintu dan jendela yang mengatur cahaya, aliran udara, dan akses ke ruangan tersebut.

Dalam berbagai hal, ruangan 2×3 tersebut merupakan ruang pribadi (hati, pikiran) melakukan proses pengendapan terhadapa setiap persoalan atau suatu konflik dunia luar (eksternal) dan dunia dalam (internal) yang seringkali menteror mental maupun pikiran seniman.

Komikusnya adalah Ariela Kristantina; yang lebih dikenal dengan nama pena Rie, dalam ranah komik Indonesia. Rie, dan beberapa orang temannya yang tergabung dalam kelompok 7 Blue Artland, mempunyai sebuah majalah komik 4 bulanan bernama Splash. Majalah yang dengan mudahnya bisa Anda temukan di toko buku (seperti Gramedia) ini mereka terbitkan dan distribusikan secara mandiri. Kesukaan akan komik, dan pilihan gaya manga, ditekuni Rie semenjak SMA.

________________________________________________________________________________________________________________

5 – 12 Juli 2009
Pameran Tunggal Bayu Widodo ‘Memories on Print’

Bayu Widodo akan menggelar pameran pada 5 – 12 Juli 2009 di Roommate Visual Art Curatorial Lab. Jl. Suryodiningratan 37 B, Yogyakarta. Pameran ini merupakan hasil residensi di Studio Megalo, Canberra, Australia.

Pameran ini nanti akan diisi dengan workshop sablon, dan tatto pada Kamis, 9 Juli 2009 pukul 10.00 – 17.00 WIB dan artist talk (pengalaman proses residensi) di Studio Megalo, Canberra, Australia pada Jumat, 10 Juli 2009 pukul 15.00 WIB.

________________________________________________________________________________________________________________

4 – 31 Juli 2009
Pameran Seni Rupa ‘Still Crazy After All These Years’ oleh Agus Suwage

Pameran tunggal Agus Suwage ini akan dibuka pada Sabtu, 4 Juli 2008 pukul 19.30 WIB, dan akan berlangsung hingga 31 Juli 2009 mendatang di Gedung Utama Jogja National Museum (JNM) lantai 1-3.

Pameran berjudul ‘Still Crazy After All These Years’ merupakan pameran yang menghadirkan karya terpilih Agus Suwage sejak 1985-2009 yang berjumlah sekitar 99 karya yang terdiri dari drawing, lukisan, instalasi dll.

________________________________________________________________________________________________________________

3 – 30 Juli 2009
Pameran Empat Perupa Filipina ‘Sa Langit Mong Bughaw (Di Bawah Langit Birumu)

Pameran oleh empat perupa Filipina yakni Ambie Abano, Christina Quisumbing Ramilo, Pardo de Leon dan Popo San Pascual ini akan dibuka pada Jumat, 3 Juli 2009 pukul 19.30 WIB di Tembi Contemporary.

Pameran yang akan berlangsung hingga 30 Juli 2009 ini akan dibuka oleh Rektor ISI Yogyakarta Soeprapto Soedjono, dan rencananya akan dihadiri oleh Duta Besar Austria, Duta Besar Australia, Duta Besar Canada, dan Duta Besar Mexico.

About Head Hunting

dayak wariorOfficially, headhunting doesn’t exist in Borneo, though isolated jungle beheadings are still reported. In former times, men would awaken the spirit of courage, Bali Akang, to assist them during headhunting expeditions. After decapitating the enemy, great homecoming celebrations awaited returning warriors. The brains were carefully extracted through the nostrils, then fresh ulu (heads) were placed in plaited rattan nets and smoke-cured over fires.

Dried skulls provided the most powerful magic in the world, vital transfusions of energy. A good head could save a village from plague, produce rain, ward off evil spirits, or triple rice yields. Dayak people believed a man’s spirit continued to inhabit his head after death. Surrounded by palm leaves, heads were offered food and cigarettes—already lit for smoking—so their spirits would forgive, forget, and feel welcome in their new home. New heads increased the prestige of the owner and impressed sweethearts; they were an initiation into manhood.
In some tribes, a head’s powers increased over time; cherished skulls were handed down from generation to generation. In other tribes, a head’s magic faded with age, so fresh heads were always needed. Villages without ulu were spiritually weak—easy prey for enemies and pestilence. In remote villages of Kalimantan, travelers still come across skulls—usually not fresh ones.

Bidayuh Dayak Warriors
Bidayuh Dayak Warriors

Extract from : The Splendid Isolation of Borneo’s Dayak Tribes by Bill Dalton, founder of Moon Publications and the author of Moon’s Indonesia Handbook

IA PERGI UNTUK MEMENUHI JANJINYA

Pengantar :
Sepekan ini, entah mengapa, saya selalu dibayangi tentang kematian (semoga ini bukan firasat!). Boleh jadi karena saya memang sudah mulai tua, letih, dan berdebu, atau mungkin tersebab sepekan yang lalu saya membongkar puluhan lukisan karya almarhum Drs. Ifansyah, M.Sn ( seorang maestro pelukis realis) yang dititiipkan pada saya. Pelukis perfeksionis lulusan ISI Yogya ini meninggal di Yogyakarta pada 10 Januari 2004 (3 hari menjelang kami membuka pameran lukisannya) dalam usia 46 tahun. Alhamdulillah saya dapat mengantarnya hingga ke liang lahat, di tanah kelahirannya, Barabai, Kalimantan Selatan. Tulisan dibawah ini adalah kata pengantar saya pada buku memoar dalam “Pameran Lukisan Mengenang 1 Tahun M.Ifansyah”, di Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta, Januari 2005.

IA PERGI UNTUK MEMENUHI JANJINYA

Oleh: Mahyudin Al Mudra

Nyamperin matahari
Dari satu sisi
Memandang insan
Dari segenap jurusan

Puisi di atas adalah karya W.S. Rendra yang khusus dibuat untuk saya, saat ia berkunjung ke kantor saya beberapa saat yang lalu. Mas Willy agak terkejut ketika saya meminta untuk menuliskannya bukan di atas kertas, melainkan di atas kain kafan milik saya. Semula ia mengira kain putih tersebut adalah kain kanvas. Tetapi ketika saya menyodorkan lembaran kain putih panjang tersebut, dan menyadari bahwa kain tersebut adalah kain kafan, dengan dahi berkerut dia berpikir sejenak, lalu mulai menulis dengan khusuk.

Kain kafan? Ya, pembungkus jenazah itu mulai saya persiapkan sepulang dari mengantar jenazah almarhum M. Ifansyah yang dimakamkan di Barabai, Kalimantan Selatan, tanah kelahirannya, pada tanggal 11 Januari 2004. Saya memang agak terpukul dengan kepergiannya yang begitu tiba-tiba, tanpa tanda dan firasat apa pun. Kematian Ifansyah, Pak Wid NS., serta seorang perupa lain, sahabat-sahabat saya, justru di saat mereka sedang mempersiapkan pameran bersama saya, bagi saya adalah “silabus” yang sangat gamblang tentang kematian yang adanya begitu niscaya, sesuai janji dengan Al Khalik, Sang Pengatur, namun yang tidak pernah kita ketahui pabila datangnya. Kematian adalah pemenuhan janji kepada Sang Pencipta, sebagai konsekuensi dari kehidupan yang telah diberikan.

Meskipun pergaulan saya dengan almarhum belum begitu lama sebagaimana sahabat almarhum lainnya, namun diskusi-diskusi kami beberapa bulan terakhir sangatlah intens. Bersama Drs. Sujatmiko, seorang sahabatnya yang juga perupa, kami mempersiapkan berbagai hal tentang pameran lukisan, tentang rencana bersama untuk menyusun Kamus Bahasa Banjar-Indonesia, bahkan juga rencana menerbitkan Buku Panduan Melukis yang diajarkan kepada siswa sejak Sekolah Dasar, serta mengumpulkan lagu-lagu daerah. Kami juga merencanakan untuk menyusun dan menerbitkan direktori yang memuat (terutama) para perupa pemula yang belum memperoleh kesempatan liputan media, agar lebih dikenal publik.

Ifansyah juga berjanji untuk mendirikan Padepokan Seni Lukis, yang mengajarkan bagaimana memahami dan membuat sebuah lukisan yang mempunyai karakter kuat, tanpa harus menjadi dan berkiblat kepada perupa lain. Kepada saya ia juga berjanji akan membuatkan sebuah lukisan realis Pasar Terapung di Banjarmasin. “Hadangi haja, kaina kuulahakan lukisan nang harat,” ujarnya suatu ketika. Kepada saya yang “fakir seni” ini, yang selalu hanya mendapat ponten enam untuk pelajaran menggambar di sekolah, ia juga berjanji –kalau ada waktu– akan mengajarkan bagaimana melukis dengan benar. “Bakat itu memang penting,” katanya saat itu, “tapi lebih penting lagi ketekunan berlatih terus-menerus”. Entah benar entah tidak cerita tentang para maestro dunia yang semula tidak berbakat melukis itu, tapi saya haqqul yakin itu semua hanya untuk menghibur saya yang hanya bisa menggambar pemandangan dengan pepohonan di bagian atas bidang, sawah di bagian tengah serta jalan di bagian bawah, dengan menarik garis maya silang dari setiap sudutnya. Meskipun demikian, saya cukup terhibur dengan janjinya. Jika tidak bisa melukis pun, paling tidak saya bisa ‘membaca’ dan membedakan mana lukisan realis dan mana lukisan impresionis; tahu apa yang disebut aliran abstrak ataupun kubisme. Paling tidak, saya akan mendengar nama Rembrandt, Monet, atau Renoir. Juga, A. Sadali, Tulus Warsito, Mozes Misdy, atau Basuki Abdullah. Pasti kelak saya akan tahu bahwa Syaiful Adnan bukanlah pengusaha rumah makan Padang, meskipun ‘tulisannya’ ada di banyak rumah makan Padang dalam bentuk logo atau lainnya, melainkan seorang kaligrafer besar yang banyak dibicarakan khalayak karena aliran “syaifulli”-nya.

Ternyata Ifansyah tidak pernah memenuhi janjinya. Ia juga tidak menepati janji untuk bersama saya memotret para pedagang di Pasar Terapung Banjarmasin. Padahal saya sudah belajar dasar-dasar fotografi. Padahal pemotretan itu sangat diperlukan, karena saya ingin mengganti sayur yang dijajakan pedagang di atas sampan itu dengan tumpukan buku-buku. Ya, betul…! berjualan buku di atas jukung di Sungai Barito! Bukankah itu sebuah lukisan yang harat (hebat), penuh kejutan, dan sarat message? Bahkan Ifansyah juga tidak memenuhi janjinya untuk rapat di rumah saya pada hari Minggu malam, 11 Januari 2004. Padahal pertemuan itu begitu penting, justru untuk membahas secara detil pameran lukisannya agar bisa dilaksanakan dengan baik, mengingat almarhum jarang menggelar pameran sebagaimana perupa lainnya (menurut para sahabatnya, lukisan Ifansyah langsung terjual begitu selesai, bahkan sudah dibeli sebelum dibuat). Ia pergi begitu saja pada hari Sabtu siang tanggal 10 Januari 2004, dalam kesunyian dan kesendiriannya, tanpa pesan apa-apa, tanpa tanda apa-apa. Atau –lebih tepatnya– mata hati saya yang tidak bisa membaca “pesan” dan “tanda” yang disampaikannya saat itu?

Kini Ifansyah telah pergi meninggalkan dunia yang ingar-bingar, menemui Khaliknya yang selama ini dirindukannya. Hilang sudah tabir yang membatasi dialognya dengan Allah Azza wa Jalla. Ifansyah yang begitu lembut dalam kesehariannya, kini menghadap Yang Mahalembut (Ya Lathiifu). Ifansyah yang selama ini dikenal sabar, kini hidup tenang di samping Yang Mahasabar (Ya Shabuur). Ifansyah yang suka memaafkan, kini hidup damai dalam rengkuhan Yang Maha Pemaaf (Ya Haliim). Ia yang setiap saat tak pernah berhenti berkarya dan mencipta, sekarang berada dalam dan bersama Yang Maha Pencipta (Ya Badiiu). Alangkah indahnya melukis bersama Yang Maha Indah (Ya Jamiil) dan Maha Pelukis (Ya Mushowwiru). Subhannallah… alangkah hangat dan indahnya kematian! Keindahan yang tak terpemanai.

Banyak janjinya yang belum ia tunaikan kepada saya. Mungkin juga kepada para kolektor dan “konsumen” lain. Ia lebih memilih menghadap Sang Pencipta untuk memenuhi janji ruhnya saat melakukan “kontrak kehidupan” dengan Yang Maha Menghidupi (Ya Muhyi) ketika ia masih berupa ‘mudghoh’ di dalam kandungan ibunya.

Sekarang saya gagal memiliki lukisan Ifansyah yang sudah saya idamkan selama lebih dari 20 tahun sejak saya masih kuliah. Saya harus puas cukup dengan mengoleksi dua buah gambar lukisan almarhum yang saya “repro” dari sobekan kalender sebuah bank negara yang tahu menghargai karya agung seorang seniman akbar. Mengertilah saya sekarang, janji almarhum yang akan membuatkan lukisan harat “KALAU ADA WAKTU” itu, sebenarnya adalah tanda, isyarat, iktibar, pelajaran penting kepada saya, bahwa sebenarnya kita “tidak punya waktu” atau lebih tepatnya, tidak punya cukup waktu dalam kehidupan ini. Kita bukanlah pemilik waktu. Sesungguhnya hidup kita ini bukanlah arrival, melainkan departure untuk menuju destination yang hakiki menuju Yang Mahakekal (Ya Baaqi) untuk menjalani kehidupan lain yang lebih abadi.

Ifansyah telah pergi. Tidak akan ada Pasar Terapung yang menjajakan buku di Kuin, Banjarmasin. Tidak ada padepokan seni yang menjadi mimpi kami bersama, karena padepokan itu telah kami bangun di dalam hati kami. Ia tidak jadi mengajar saya melukis di atas kanvas. Tetapi dengan “pesan” dan “tanda” yang ditinggalkannya, Ifansyah memberikan pelajaran pada saya tentang “lukisan kehidupan”. Hidup ini, sebagaimana sebuah lukisan, bukanlah sebuah kanvas putih yang bersih tanpa coretan. Kanvas itu baru bernilai dan bermakna, (dan disebut lukisan!) ketika ia “dikotori” dengan berbagai sapuan, coretan, cipratan, bahkan tumpahan cat aneka warna, dengan proporsi dan komposisi yang terkadang sulit dipahami. Tidak lagi menjadi terlalu penting, apa pun aliran (mazhab) perupanya. Melukis adalah kehidupan itu sendiri. Menjalani kehidupan, sebagaimana aktivitas melukis, adalah “mewarnai dan memenuhi” kanvas dunia, sehingga semua aktivitas itu menjadi rahmatan lil alamiin, hamemayu hayuning bawana, enlightenment, aufklaruung, sebuah pencerahan bagi alam dan seisinya.

Selamat melukis, sahabat. Engkau memang tidak jadi mengajarku melukis. Kemarin kusangka engkau mengingkari janjimu. Maafkan aku, karena kemarin aku menilaimu hanya dari satu sisi. Padahal, seperti kata Mas Rendra, memandang insan, dari segenap jurusan.

(inna lillahi wa inna ilaihi roji’uun)


(WS Rendra menuliskan puisi di kain kafanku yang telah kupersiapkan agar tidak merepotkan keluargaku… “Nyamperin Matahari Dari Satu Sisi…Memandang Insan Dari Segenap Jurusan…”)


(Lukisan alm Ifansyah (90×180 cm) dengan judul “Pasar Beringharjo” belum diwarnai dan ditandatangani.)

Lukisan almarhum M.Ifansyah yang sudah diwarnai, tapi belum selesai tuntas serta belum ditandatangani
(Lukisan almarhum M.Ifansyah yang sudah diwarnai, tapi belum selesai tuntas serta belum ditandatangani)

Agenda Seni & Budaya Bulan Mei-Juni 2009

12 Mei 2009 00:19 – 12 Mei 2009 23:19

Pagelaran Seni & Budaya Pulau Belitong

Waktu : Selasa, 12 Mei 2009-Selasa, 12 Mei 2009
Tempat : Taman Budaya Yogyakarta (TBY)

Kontak : Sekretariat Panitia Asrama Belitung Putra “Calamoa”
Jln. Bumijo Lor JT. I/1159, Yogyakarta 55231
E-mail/fs: ikpb_jogja@ymail.com
T: 085268062843 (Andy Fitrianto), 085267345947 (Ares Faujian), 085935280100 (Nanda T. Wibowo)

Susunan Acara:

10.00—12.00 : Bedah Buku “Maryamah Karpov” bersama Andrea Hirata

14.00—15.30 : Thalkshow bersama Bupati Belitung dan Bupati Belitung Timur dengan Tema
“Yuk Kite ke Belitong” (Mari Kita ke Belitung)
19.00—19.15 : Tari Selamat Datang
19.15—19.30 : Pembukaan Acara
19.30—19.45 : Sambutan Ketua IKPB Cabang Yogyakarta
19.45—20.00 : Sambutan Bupati Belitung
20.00—20.15 : Sambutan Bupati Belitung Timur
20.15—20.30 : Tari Sepen
20.30—21.30 : Kesenian Tunel (Teater)
21.30—22.00 : Tari Kontemporer
22.00—22.30 : Tari Degau dan Pertunjukan Musik Daerah
22.30-23.00 : Penutup

—————————————————————————————

Ahad, 15 Jumadil Awal 1430 (Minggu, 10 Mei 2009)

Pesta Kebudayaan Bali Ke-31

Waktu : Jumat, 13 Juni 2009-Minggu, 12 Juli 2009

Tempat : Taman Budaya Bali

Kontak:
T: (0361) 247722. F: (0361) 237443

Keterangan:

Rencananya, kegiatan yang dihelat selama sebulan ini akan diikuti oleh utusan dari kota/kabupaten se-Bali, peserta dari berbagai daerah di Indonesia, dan mancanegara. Pada pekan budaya tersebut dihelat berbagai acara, antara lain:

* Pawai budaya
* Pementasan
* Aneka perlombaan
* Serasehan
* Pameran industri kecil dan kerajinan rumah tangga

—————————————————————————————

23 Juni 2009 00:39 – 29 Juni 2009 23:39

Borobudur International Festival (BIF) 2009

Waktu : Kamis, 23 Juni 2009 – Senin, 29 Juni 2009

Tempat : Festival ini digelar di beberapa tempat di Jawa Tengah, yaitu di Candi Borobudur
(Magelang), Kota Solo, dan Kota Semarang.

Keterangan:

Berbagai kegiatan akan ditaja pada festival yang digelar untuk kedua kalinya ini, antara lain:

* Performing art
* Borobudur Travel Mart (BTM)
* Penampilan seni dan budaya internasional
* Seminar internasional
* Serasehan temu sastra
* Pergelaran tari tradisional
* Pameran perdagangan dan investasi pariwisata
* Widya wisata

Kontak:

Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Tengah

Jln. Madukoro Blok BB Kota Semarang

T: +62 24 760 8570. F: +62 24 760 8573

Website: http//www.central-java-tourism.com

E-mail: tourism@central-java-tourim.com

————————————————————————————–

26 Juni 2009 00:22 – 28 Juni 2009 23:22

Solo Batik Carnival (SBC) 2009

Waktu:
Jumat, 26 Juni 2009-Minggu, 28 Juni 2009

Tempat:
Kota Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia

Kontak:
Dinas Pariwisata, Seni, dan Budaya Kota Surakarta
Jln. Brigjend Slamet Riyadi No. 275, Surakarta
T: 0271 711435. F: 0271 716501. Situs: http://www.visitsolo.go.id

Keterangan:
Kegiatan yang digelar untuk kedua kali di Kota Surakarta ini akan mengambil tema “Topeng”. Mereka yang lolos seleksi, setelah melalui serangkaian workshop, evaluasi, dan gladi, akan mengikuti karnaval di sepanjang Jalan Slamet Riyadi Kota Surakarta.