Archive Page 2

Agenda Seni & Budaya Di Yogyakarta (edisi Juli s/d Agustus 2009)

16 – 18 Juli 2009
14th Yogyakarta Gamelan Festival 2009

awier

Gamelan saat ini gamelan telah merambah di 33 negara/wilayah: Argentina, Australia, Austria, Belgium, Canada, China, Columbia, Cezch, Finland, France, Germany, Ireland, Israel, Italy, Japan, Korea, Malaysia, Mexico, Netherlands, New Zealand, Palestine, Philippines, Poland, Russia, Singapore, Spain, Suriname, Swiss, Taiwan, Thailand, UK/Inggris, USA dan Indonesia

________________________________________________________________________________________________________________

12 Juli 2009 – 5 Agustus 2009
Pameran Komik ‘The Trails of the Midnight.Bunny’

Pameran oleh Ariela Kristantina ini akan dibuka pada Minggu, 12 Juli 2009 pukul 19.30 WIB di Ruang Pamer KKF, dan akan berlangsung hingga 5 Agustus 2009.

Seperti halnya realis adalah salah satu genre dalam seni lukis, manga juga merupakan salah satu aliran dalam komik. Beriringan dengan itu, dan karena tidak ada yang menyebutkan ‘pameran realis’; maka ini adalah pameran komik, bukan pameran manga. Pameran ini bukannya memamerkan banyak komik; tetapi keseluruhan isi pameran ini adalah sebuah komik.

________________________________________________________________________________________________________________

30 Juni 2009 – 14 Juli 2009
Pameran Seni Rupa ‘2×3’ di Kersan Art Studio

Kersan Art Studio akan menggelar pameran seni rupa ‘2×3’ yang dibuka pada Selasa, 30 Juni 2009 pukul 19.30 WIB di Kersan Art Studio, Dusun II Kersan No 154, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul Yogyakarta.

Pameran bersama oleh Budi Kurniawan, Raprika Angga, Rosit Mulyadi, Nue Prastowo, Cosmas A. K, Harun, dan M. A Kurniawan ini akan dibuka oleh Nana Tedja, dan akan berlangsung hingga 14 Juli mendatang.

Pameran ‘2×3’ ini mengangkat tersebut untuk menyimbolkan sebuah ruangan kamar yang meruakan suatu tempat tertutup dengan langi-langit di suatu rumah atau bangunan lain. Suatu ruangan dapat memiliki sejumlah pintu dan jendela yang mengatur cahaya, aliran udara, dan akses ke ruangan tersebut.

Dalam berbagai hal, ruangan 2×3 tersebut merupakan ruang pribadi (hati, pikiran) melakukan proses pengendapan terhadapa setiap persoalan atau suatu konflik dunia luar (eksternal) dan dunia dalam (internal) yang seringkali menteror mental maupun pikiran seniman.

Komikusnya adalah Ariela Kristantina; yang lebih dikenal dengan nama pena Rie, dalam ranah komik Indonesia. Rie, dan beberapa orang temannya yang tergabung dalam kelompok 7 Blue Artland, mempunyai sebuah majalah komik 4 bulanan bernama Splash. Majalah yang dengan mudahnya bisa Anda temukan di toko buku (seperti Gramedia) ini mereka terbitkan dan distribusikan secara mandiri. Kesukaan akan komik, dan pilihan gaya manga, ditekuni Rie semenjak SMA.

________________________________________________________________________________________________________________

5 – 12 Juli 2009
Pameran Tunggal Bayu Widodo ‘Memories on Print’

Bayu Widodo akan menggelar pameran pada 5 – 12 Juli 2009 di Roommate Visual Art Curatorial Lab. Jl. Suryodiningratan 37 B, Yogyakarta. Pameran ini merupakan hasil residensi di Studio Megalo, Canberra, Australia.

Pameran ini nanti akan diisi dengan workshop sablon, dan tatto pada Kamis, 9 Juli 2009 pukul 10.00 – 17.00 WIB dan artist talk (pengalaman proses residensi) di Studio Megalo, Canberra, Australia pada Jumat, 10 Juli 2009 pukul 15.00 WIB.

________________________________________________________________________________________________________________

4 – 31 Juli 2009
Pameran Seni Rupa ‘Still Crazy After All These Years’ oleh Agus Suwage

Pameran tunggal Agus Suwage ini akan dibuka pada Sabtu, 4 Juli 2008 pukul 19.30 WIB, dan akan berlangsung hingga 31 Juli 2009 mendatang di Gedung Utama Jogja National Museum (JNM) lantai 1-3.

Pameran berjudul ‘Still Crazy After All These Years’ merupakan pameran yang menghadirkan karya terpilih Agus Suwage sejak 1985-2009 yang berjumlah sekitar 99 karya yang terdiri dari drawing, lukisan, instalasi dll.

________________________________________________________________________________________________________________

3 – 30 Juli 2009
Pameran Empat Perupa Filipina ‘Sa Langit Mong Bughaw (Di Bawah Langit Birumu)

Pameran oleh empat perupa Filipina yakni Ambie Abano, Christina Quisumbing Ramilo, Pardo de Leon dan Popo San Pascual ini akan dibuka pada Jumat, 3 Juli 2009 pukul 19.30 WIB di Tembi Contemporary.

Pameran yang akan berlangsung hingga 30 Juli 2009 ini akan dibuka oleh Rektor ISI Yogyakarta Soeprapto Soedjono, dan rencananya akan dihadiri oleh Duta Besar Austria, Duta Besar Australia, Duta Besar Canada, dan Duta Besar Mexico.

About Head Hunting

dayak wariorOfficially, headhunting doesn’t exist in Borneo, though isolated jungle beheadings are still reported. In former times, men would awaken the spirit of courage, Bali Akang, to assist them during headhunting expeditions. After decapitating the enemy, great homecoming celebrations awaited returning warriors. The brains were carefully extracted through the nostrils, then fresh ulu (heads) were placed in plaited rattan nets and smoke-cured over fires.

Dried skulls provided the most powerful magic in the world, vital transfusions of energy. A good head could save a village from plague, produce rain, ward off evil spirits, or triple rice yields. Dayak people believed a man’s spirit continued to inhabit his head after death. Surrounded by palm leaves, heads were offered food and cigarettes—already lit for smoking—so their spirits would forgive, forget, and feel welcome in their new home. New heads increased the prestige of the owner and impressed sweethearts; they were an initiation into manhood.
In some tribes, a head’s powers increased over time; cherished skulls were handed down from generation to generation. In other tribes, a head’s magic faded with age, so fresh heads were always needed. Villages without ulu were spiritually weak—easy prey for enemies and pestilence. In remote villages of Kalimantan, travelers still come across skulls—usually not fresh ones.

Bidayuh Dayak Warriors
Bidayuh Dayak Warriors

Extract from : The Splendid Isolation of Borneo’s Dayak Tribes by Bill Dalton, founder of Moon Publications and the author of Moon’s Indonesia Handbook

IA PERGI UNTUK MEMENUHI JANJINYA

Pengantar :
Sepekan ini, entah mengapa, saya selalu dibayangi tentang kematian (semoga ini bukan firasat!). Boleh jadi karena saya memang sudah mulai tua, letih, dan berdebu, atau mungkin tersebab sepekan yang lalu saya membongkar puluhan lukisan karya almarhum Drs. Ifansyah, M.Sn ( seorang maestro pelukis realis) yang dititiipkan pada saya. Pelukis perfeksionis lulusan ISI Yogya ini meninggal di Yogyakarta pada 10 Januari 2004 (3 hari menjelang kami membuka pameran lukisannya) dalam usia 46 tahun. Alhamdulillah saya dapat mengantarnya hingga ke liang lahat, di tanah kelahirannya, Barabai, Kalimantan Selatan. Tulisan dibawah ini adalah kata pengantar saya pada buku memoar dalam “Pameran Lukisan Mengenang 1 Tahun M.Ifansyah”, di Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta, Januari 2005.

IA PERGI UNTUK MEMENUHI JANJINYA

Oleh: Mahyudin Al Mudra

Nyamperin matahari
Dari satu sisi
Memandang insan
Dari segenap jurusan

Puisi di atas adalah karya W.S. Rendra yang khusus dibuat untuk saya, saat ia berkunjung ke kantor saya beberapa saat yang lalu. Mas Willy agak terkejut ketika saya meminta untuk menuliskannya bukan di atas kertas, melainkan di atas kain kafan milik saya. Semula ia mengira kain putih tersebut adalah kain kanvas. Tetapi ketika saya menyodorkan lembaran kain putih panjang tersebut, dan menyadari bahwa kain tersebut adalah kain kafan, dengan dahi berkerut dia berpikir sejenak, lalu mulai menulis dengan khusuk.

Kain kafan? Ya, pembungkus jenazah itu mulai saya persiapkan sepulang dari mengantar jenazah almarhum M. Ifansyah yang dimakamkan di Barabai, Kalimantan Selatan, tanah kelahirannya, pada tanggal 11 Januari 2004. Saya memang agak terpukul dengan kepergiannya yang begitu tiba-tiba, tanpa tanda dan firasat apa pun. Kematian Ifansyah, Pak Wid NS., serta seorang perupa lain, sahabat-sahabat saya, justru di saat mereka sedang mempersiapkan pameran bersama saya, bagi saya adalah “silabus” yang sangat gamblang tentang kematian yang adanya begitu niscaya, sesuai janji dengan Al Khalik, Sang Pengatur, namun yang tidak pernah kita ketahui pabila datangnya. Kematian adalah pemenuhan janji kepada Sang Pencipta, sebagai konsekuensi dari kehidupan yang telah diberikan.

Meskipun pergaulan saya dengan almarhum belum begitu lama sebagaimana sahabat almarhum lainnya, namun diskusi-diskusi kami beberapa bulan terakhir sangatlah intens. Bersama Drs. Sujatmiko, seorang sahabatnya yang juga perupa, kami mempersiapkan berbagai hal tentang pameran lukisan, tentang rencana bersama untuk menyusun Kamus Bahasa Banjar-Indonesia, bahkan juga rencana menerbitkan Buku Panduan Melukis yang diajarkan kepada siswa sejak Sekolah Dasar, serta mengumpulkan lagu-lagu daerah. Kami juga merencanakan untuk menyusun dan menerbitkan direktori yang memuat (terutama) para perupa pemula yang belum memperoleh kesempatan liputan media, agar lebih dikenal publik.

Ifansyah juga berjanji untuk mendirikan Padepokan Seni Lukis, yang mengajarkan bagaimana memahami dan membuat sebuah lukisan yang mempunyai karakter kuat, tanpa harus menjadi dan berkiblat kepada perupa lain. Kepada saya ia juga berjanji akan membuatkan sebuah lukisan realis Pasar Terapung di Banjarmasin. “Hadangi haja, kaina kuulahakan lukisan nang harat,” ujarnya suatu ketika. Kepada saya yang “fakir seni” ini, yang selalu hanya mendapat ponten enam untuk pelajaran menggambar di sekolah, ia juga berjanji –kalau ada waktu– akan mengajarkan bagaimana melukis dengan benar. “Bakat itu memang penting,” katanya saat itu, “tapi lebih penting lagi ketekunan berlatih terus-menerus”. Entah benar entah tidak cerita tentang para maestro dunia yang semula tidak berbakat melukis itu, tapi saya haqqul yakin itu semua hanya untuk menghibur saya yang hanya bisa menggambar pemandangan dengan pepohonan di bagian atas bidang, sawah di bagian tengah serta jalan di bagian bawah, dengan menarik garis maya silang dari setiap sudutnya. Meskipun demikian, saya cukup terhibur dengan janjinya. Jika tidak bisa melukis pun, paling tidak saya bisa ‘membaca’ dan membedakan mana lukisan realis dan mana lukisan impresionis; tahu apa yang disebut aliran abstrak ataupun kubisme. Paling tidak, saya akan mendengar nama Rembrandt, Monet, atau Renoir. Juga, A. Sadali, Tulus Warsito, Mozes Misdy, atau Basuki Abdullah. Pasti kelak saya akan tahu bahwa Syaiful Adnan bukanlah pengusaha rumah makan Padang, meskipun ‘tulisannya’ ada di banyak rumah makan Padang dalam bentuk logo atau lainnya, melainkan seorang kaligrafer besar yang banyak dibicarakan khalayak karena aliran “syaifulli”-nya.

Ternyata Ifansyah tidak pernah memenuhi janjinya. Ia juga tidak menepati janji untuk bersama saya memotret para pedagang di Pasar Terapung Banjarmasin. Padahal saya sudah belajar dasar-dasar fotografi. Padahal pemotretan itu sangat diperlukan, karena saya ingin mengganti sayur yang dijajakan pedagang di atas sampan itu dengan tumpukan buku-buku. Ya, betul…! berjualan buku di atas jukung di Sungai Barito! Bukankah itu sebuah lukisan yang harat (hebat), penuh kejutan, dan sarat message? Bahkan Ifansyah juga tidak memenuhi janjinya untuk rapat di rumah saya pada hari Minggu malam, 11 Januari 2004. Padahal pertemuan itu begitu penting, justru untuk membahas secara detil pameran lukisannya agar bisa dilaksanakan dengan baik, mengingat almarhum jarang menggelar pameran sebagaimana perupa lainnya (menurut para sahabatnya, lukisan Ifansyah langsung terjual begitu selesai, bahkan sudah dibeli sebelum dibuat). Ia pergi begitu saja pada hari Sabtu siang tanggal 10 Januari 2004, dalam kesunyian dan kesendiriannya, tanpa pesan apa-apa, tanpa tanda apa-apa. Atau –lebih tepatnya– mata hati saya yang tidak bisa membaca “pesan” dan “tanda” yang disampaikannya saat itu?

Kini Ifansyah telah pergi meninggalkan dunia yang ingar-bingar, menemui Khaliknya yang selama ini dirindukannya. Hilang sudah tabir yang membatasi dialognya dengan Allah Azza wa Jalla. Ifansyah yang begitu lembut dalam kesehariannya, kini menghadap Yang Mahalembut (Ya Lathiifu). Ifansyah yang selama ini dikenal sabar, kini hidup tenang di samping Yang Mahasabar (Ya Shabuur). Ifansyah yang suka memaafkan, kini hidup damai dalam rengkuhan Yang Maha Pemaaf (Ya Haliim). Ia yang setiap saat tak pernah berhenti berkarya dan mencipta, sekarang berada dalam dan bersama Yang Maha Pencipta (Ya Badiiu). Alangkah indahnya melukis bersama Yang Maha Indah (Ya Jamiil) dan Maha Pelukis (Ya Mushowwiru). Subhannallah… alangkah hangat dan indahnya kematian! Keindahan yang tak terpemanai.

Banyak janjinya yang belum ia tunaikan kepada saya. Mungkin juga kepada para kolektor dan “konsumen” lain. Ia lebih memilih menghadap Sang Pencipta untuk memenuhi janji ruhnya saat melakukan “kontrak kehidupan” dengan Yang Maha Menghidupi (Ya Muhyi) ketika ia masih berupa ‘mudghoh’ di dalam kandungan ibunya.

Sekarang saya gagal memiliki lukisan Ifansyah yang sudah saya idamkan selama lebih dari 20 tahun sejak saya masih kuliah. Saya harus puas cukup dengan mengoleksi dua buah gambar lukisan almarhum yang saya “repro” dari sobekan kalender sebuah bank negara yang tahu menghargai karya agung seorang seniman akbar. Mengertilah saya sekarang, janji almarhum yang akan membuatkan lukisan harat “KALAU ADA WAKTU” itu, sebenarnya adalah tanda, isyarat, iktibar, pelajaran penting kepada saya, bahwa sebenarnya kita “tidak punya waktu” atau lebih tepatnya, tidak punya cukup waktu dalam kehidupan ini. Kita bukanlah pemilik waktu. Sesungguhnya hidup kita ini bukanlah arrival, melainkan departure untuk menuju destination yang hakiki menuju Yang Mahakekal (Ya Baaqi) untuk menjalani kehidupan lain yang lebih abadi.

Ifansyah telah pergi. Tidak akan ada Pasar Terapung yang menjajakan buku di Kuin, Banjarmasin. Tidak ada padepokan seni yang menjadi mimpi kami bersama, karena padepokan itu telah kami bangun di dalam hati kami. Ia tidak jadi mengajar saya melukis di atas kanvas. Tetapi dengan “pesan” dan “tanda” yang ditinggalkannya, Ifansyah memberikan pelajaran pada saya tentang “lukisan kehidupan”. Hidup ini, sebagaimana sebuah lukisan, bukanlah sebuah kanvas putih yang bersih tanpa coretan. Kanvas itu baru bernilai dan bermakna, (dan disebut lukisan!) ketika ia “dikotori” dengan berbagai sapuan, coretan, cipratan, bahkan tumpahan cat aneka warna, dengan proporsi dan komposisi yang terkadang sulit dipahami. Tidak lagi menjadi terlalu penting, apa pun aliran (mazhab) perupanya. Melukis adalah kehidupan itu sendiri. Menjalani kehidupan, sebagaimana aktivitas melukis, adalah “mewarnai dan memenuhi” kanvas dunia, sehingga semua aktivitas itu menjadi rahmatan lil alamiin, hamemayu hayuning bawana, enlightenment, aufklaruung, sebuah pencerahan bagi alam dan seisinya.

Selamat melukis, sahabat. Engkau memang tidak jadi mengajarku melukis. Kemarin kusangka engkau mengingkari janjimu. Maafkan aku, karena kemarin aku menilaimu hanya dari satu sisi. Padahal, seperti kata Mas Rendra, memandang insan, dari segenap jurusan.

(inna lillahi wa inna ilaihi roji’uun)


(WS Rendra menuliskan puisi di kain kafanku yang telah kupersiapkan agar tidak merepotkan keluargaku… “Nyamperin Matahari Dari Satu Sisi…Memandang Insan Dari Segenap Jurusan…”)


(Lukisan alm Ifansyah (90×180 cm) dengan judul “Pasar Beringharjo” belum diwarnai dan ditandatangani.)

Lukisan almarhum M.Ifansyah yang sudah diwarnai, tapi belum selesai tuntas serta belum ditandatangani
(Lukisan almarhum M.Ifansyah yang sudah diwarnai, tapi belum selesai tuntas serta belum ditandatangani)

Agenda Seni & Budaya Bulan Mei-Juni 2009

12 Mei 2009 00:19 – 12 Mei 2009 23:19

Pagelaran Seni & Budaya Pulau Belitong

Waktu : Selasa, 12 Mei 2009-Selasa, 12 Mei 2009
Tempat : Taman Budaya Yogyakarta (TBY)

Kontak : Sekretariat Panitia Asrama Belitung Putra “Calamoa”
Jln. Bumijo Lor JT. I/1159, Yogyakarta 55231
E-mail/fs: ikpb_jogja@ymail.com
T: 085268062843 (Andy Fitrianto), 085267345947 (Ares Faujian), 085935280100 (Nanda T. Wibowo)

Susunan Acara:

10.00—12.00 : Bedah Buku “Maryamah Karpov” bersama Andrea Hirata

14.00—15.30 : Thalkshow bersama Bupati Belitung dan Bupati Belitung Timur dengan Tema
“Yuk Kite ke Belitong” (Mari Kita ke Belitung)
19.00—19.15 : Tari Selamat Datang
19.15—19.30 : Pembukaan Acara
19.30—19.45 : Sambutan Ketua IKPB Cabang Yogyakarta
19.45—20.00 : Sambutan Bupati Belitung
20.00—20.15 : Sambutan Bupati Belitung Timur
20.15—20.30 : Tari Sepen
20.30—21.30 : Kesenian Tunel (Teater)
21.30—22.00 : Tari Kontemporer
22.00—22.30 : Tari Degau dan Pertunjukan Musik Daerah
22.30-23.00 : Penutup

—————————————————————————————

Ahad, 15 Jumadil Awal 1430 (Minggu, 10 Mei 2009)

Pesta Kebudayaan Bali Ke-31

Waktu : Jumat, 13 Juni 2009-Minggu, 12 Juli 2009

Tempat : Taman Budaya Bali

Kontak:
T: (0361) 247722. F: (0361) 237443

Keterangan:

Rencananya, kegiatan yang dihelat selama sebulan ini akan diikuti oleh utusan dari kota/kabupaten se-Bali, peserta dari berbagai daerah di Indonesia, dan mancanegara. Pada pekan budaya tersebut dihelat berbagai acara, antara lain:

* Pawai budaya
* Pementasan
* Aneka perlombaan
* Serasehan
* Pameran industri kecil dan kerajinan rumah tangga

—————————————————————————————

23 Juni 2009 00:39 – 29 Juni 2009 23:39

Borobudur International Festival (BIF) 2009

Waktu : Kamis, 23 Juni 2009 – Senin, 29 Juni 2009

Tempat : Festival ini digelar di beberapa tempat di Jawa Tengah, yaitu di Candi Borobudur
(Magelang), Kota Solo, dan Kota Semarang.

Keterangan:

Berbagai kegiatan akan ditaja pada festival yang digelar untuk kedua kalinya ini, antara lain:

* Performing art
* Borobudur Travel Mart (BTM)
* Penampilan seni dan budaya internasional
* Seminar internasional
* Serasehan temu sastra
* Pergelaran tari tradisional
* Pameran perdagangan dan investasi pariwisata
* Widya wisata

Kontak:

Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Tengah

Jln. Madukoro Blok BB Kota Semarang

T: +62 24 760 8570. F: +62 24 760 8573

Website: http//www.central-java-tourism.com

E-mail: tourism@central-java-tourim.com

————————————————————————————–

26 Juni 2009 00:22 – 28 Juni 2009 23:22

Solo Batik Carnival (SBC) 2009

Waktu:
Jumat, 26 Juni 2009-Minggu, 28 Juni 2009

Tempat:
Kota Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia

Kontak:
Dinas Pariwisata, Seni, dan Budaya Kota Surakarta
Jln. Brigjend Slamet Riyadi No. 275, Surakarta
T: 0271 711435. F: 0271 716501. Situs: http://www.visitsolo.go.id

Keterangan:
Kegiatan yang digelar untuk kedua kali di Kota Surakarta ini akan mengambil tema “Topeng”. Mereka yang lolos seleksi, setelah melalui serangkaian workshop, evaluasi, dan gladi, akan mengikuti karnaval di sepanjang Jalan Slamet Riyadi Kota Surakarta.

“Mari Menonton” Setiap Hari Sabtu

tmn.bdya ygy

Taman Budaya Yogyakarta (TBY) bekerjasama dengan Kinoki menggelar kegiatan Pemutaran Film Sepanjang Tahun (PFST) yang dituangkan dalam sebuah program yaitu “Mari Menonton!”.

Kegiatan ini nantinya akan dilaksanakan mulai 4 April di Gedung Societet TBY setiap hari Sabtu selama bulan April 2009. Nantinya, dalam sehari akan diputar sejumlah film masing-masing pada pukul 10.00, 16.00, dan 19.30 WIB.

Pada jam pertama yakni pukul 10.00 WIB, akan diputar film khusus “Sinema Anak” bagi anak-anak yang nantinya akan bekerjasama dengan instansi pendidikan terkait serta Dinas Pendidikan yang ada di DIY.

Selain dari jenis “Sinema Anak”, sejumlah genre lain seperti “Jendela Dunia” bagi mereka yang berusia 15 tahun ke atas, film dari “Cinema Politika Indonesia”, dan dari jenis lain akan mewarnai “Mari Menonton!” 2009.

“Mari Menonton!” sendiri adalah program tahunan Kinoki yang telah berlangsung sejak 2007 dengan sistem rekanan guna menyatukan segenap lini yang ada dalam lingkup komunitas dan industri film.

“Kegiatan ‘Mari Menonton!’ ini merupakan kerjasama TBY dengan Kinoki dalam rangka memfasilitasi komunitas film yang ada di Yogyakarta,” kata Direktur TBY, Dyan Anggraini Rais di Perpustakaan TBY, Kamis (02/04).

Di samping untuk menghidupkan dan mengembangkan industri film, kegiatan ini juga untuk menumbuhkan kesadaran publik akan nilai yang terkandung dalam sebuah karya seni yang dinamakan film.

Tak hanya itu, “Mari Menonton!” juga bertujuan untuk menampung isu yagn sedang berkembang di kalangan komunitas film dan industri film. Oleh sebab itu, kegiatan ini juga melibatkan pembuat, distributor, dan eksibitor, penikmat, hingga kritikus film.

“Kegiatan ini selain untuk menjembatani komunitas film juga untuk mendidik penikmat film akan pesan yang ada dalam setiap film,” kata Pendiri dan Penganggungjawab Kinoki, Elida Tamalagi.

Pada pelaksanaannya nanti, penonton harus membayar tiket masuk sebesar Rp 5 ribu khusus untuk film Indonesia dari berbagai genre dengan durasi minimal 60 menit. Dana yang terkumpul akan digunakan untuk mendukung proses pengemabangan film indie.

Selain kegiatan menonton sejumlah film dari berbagai genre, “Mari Menonton!” tahun ini juga akan diisi dengan workshop, loka karya, dan diskusi seputar permasalah film baik teknis maupun non teknis.

Ditulis ulang oleh : _awiiier

Ujian Masuk UGM Diwarnai Jual Beli Kursi

Ujian masuk Universitas Gadjah Mada tahun ini dibayangi praktik jual beli kursi. Calon peserta dijanjikan diterima dengan membayar “sumbangan” ratusan juta rupiah. Anak seorang hakim Mahkamah Konstitusi nyaris menjadi korban.

Praktik kotor itu tercium Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UGM yang menemukan jaringan percaloan beroperasi pada saat pelaksanaan ujian masuk UGM serentak di 10 kota, Minggu (13/4). Para calo itu sanggup menyediakan kursi mahasiswa di UGM asalkan calon mahasiswa bersedia menyumbang Rp 100 hingga Rp 200 juta. Modus lainnya, mereka menyediakan joki untuk mengerjakan soal-soal tes ujian masuk.

Anak hakim Konstitusi Mahfud MD nyaris menjadi korban percaloan itu. Anak mantan menteri pada era pemerintahan presiden Abdurrahman Wahid itu ditawari satu kursi di UGM dengan harga Rp 100 hingga Rp 200 juta.

“Jual beli kursi di UGM bukan isapan jempol. Tim investigasi kami berhasil bertemu dengan calo yang menjual kursi itu,” kata Presiden BEM UGM Budianto, Minggu (13/4).

Budianto mengaku timnya sudah berkomunikasi dengan anak Mahfud MD. Dari pertemuan dengan calo dan korban, tim itu mengetahui praktik percaloan tidak hanya di UGM, tapi lingkupnya sudah nasional. “Mereka juga menjanjikan kursi di Universitas Indonesia, Institut Pertanian Bogor, dan Institut Teknologi Bandung,” ujarnya.

Jika praktik jual beli kursi benar-benar terjadi, tentu sangat merugikan calon mahasiswa dari kalangan tidak mampu. Mereka yang berotak encer tapi tidak memiliki kemampuan finansial memadai akan tergusur dan tidak bisa kuliah di perguruan tinggi favorit.

Budianto menyatakan jual beli kursi mahasiswa akan mencoreng nama UGM sebagai kampus rakyat. Hal itu semakin membuktikan di UGM yang berbicara uang, bukan kemampuan otak. Namun dia belum berani memastikan orang dalam terlibat. “Pada waktunya, kami akan ungkap siapa orang dalam yang terlibat praktik kotor ini,” katanya.

Dekan Fakultas Kedokteran UGM Hardyanto Soebono membantah jual beli kursi dengan modus sumbangan hingga ratusan juta rupiah terjadi di fakultasnya. Di fakultas ini memang tersiar kabar banyak calon mahasiswa jor-joran mengisi sumbangan jika diterima di UGM. “Memang ada yang menyurati saya, menjanjikan sumbangan sampai 200 juta rupiah kalau anaknya diterima. Tapi, ya silakan memberikan angka setinggi-tingginya, itu tidak akan kami gubris. Kami melihat nilai tes,” katanya.

Menurut Hardyanto, selama ini UGM tidak pernah serendah itu menerima calon mahasiswa. Penerimaan benar-benar didasarkan pada hasil tes masuk, bukan faktor besaran uang yang akan diberikan calon mahasiswa.

Jual beli kursi mahasiswa memang pernah terjadi di UGM dan melibatkan orang dalam. Direktur Kemahasiswaan Haryanto membenarkan pada tahun 2003 seorang karyawan UGM dipecat karena terbukti terlibat jual beli kursi. Sanksi seperti itu akan dijatuhkan jika tahun ini terbukti ada karyawan terlibat kasus serupa.

Haryanto meminta peserta ujian masuk waspada terhadap calo yang menjanjikan kursi mahasiswa UGM dengan membayar sejumlah uang. “Calon mahasiswa harus cerdas. Sebab, meski membayar ratusan juta rupiah, tidak akan diterima jika hasil ujian tulis jelek,” ujarnya. (E4)

Sumber : Reza Yunanto ©2009 VHRmedia.com

Penyair

Penyair

Dia adalah rantai penghubung
Antara dunia ini dan dunia akan datang
Kolam air manis buat jiwa-jiwa yang kehausan,
Dia adalah sebatang pohon tertanam
Di lembah sungai keindahan
Memikul bebuah ranum
Bagi hati lapar yang mencari.

Dia adalah seekor burung ‘nightingale’
Menyejukkan jiwa yang dalam kedukaan
Menaikkan semangat dengan alunan melodi indahnya

Dia adalah sepotong awan putih di langit cerah
Naik dan mengembang memenuhi angkasa.
Kemudian mencurahkan kurnianya di atas padang kehidupan. Membuka kelopak mereka bagi menerima cahaya.

Dia adalah malaikat diutus Yang Maha Kuasa mengajarkan Kalam Ilahi.
Seberkas cahaya gemilang tak kunjung padam.
Tak terliput gelap malam
Tak tergoyah oleh angin kencang
Ishtar, dewi cinta, meminyakinya dengan kasih sayang
Dan, nyanyian Apollo menjadi cahayanya.

Dia adalah manusia yang selalu bersendirian,
hidup serba sederhana dan berhati suci
Dia duduk di pangkuan alam mencari inspirasi ilham
Dan berjaga di keheningan malam,
Menantikan turunnya ruh

Dia adalah si tukang jahit yang menjahit benih hatinya di ladang kasih sayang
dan kemanusiaan menyuburkannya

Inilah penyair yang dipinggirkan oleh manusia
pada zamannya,
Dan hanya dikenali sesudah jasad ditinggalkan
Dunia pun mengucapkan selamat tinggal dan kembali ia pada Ilahi

Inilah penyair yang tak meminta apa-apa
dari manusia kecuali seulas senyuman
Inilah penyair yang penuh semangat dan memenuhi
cakerawala dengan kata-kata indah
Namun manusia tetap menafikan kewujudan keindahannya

Sampai bila manusia terus terlena?
Sampai bila manusia menyanjung penguasa yang
meraih kehebatan dgn mengambil kesempatan??
Sampai bila manusia mengabaikan mereka yang boleh memperlihatkan keindahan pada jiwa-jiwa mereka
Simbol cinta dan kedamaian?

Sampai bila manusia hanya akan menyanjung jasa org yang sudah tiada?
dan melupakan si hidup yg dikelilingi penderitaan
yang menghambakan hidup mereka seperti lilin menyala
bagi menunjukkan jalan yang benar bagi orang yang lupa

Dan oh para penyair,
Kalian adalah kehidupan dalam kehidupan ini:
Telah engkau tundukkan abad demi abad termasuk tirainya.

Penyair..
Suatu hari kau akan merajai hati-hati manusia
Dan, kerana itu kerajaanmu adalah abadi.

Penyair..periksalah mahkota berdurimu..kau akan menemui kelembutan di sebalik jambangan bunga-bunga Laurel…

(Dari ‘Dam’ah Wa Ibtisamah’ -Setitis Air Mata Seulas Senyuman)

~ Kahlil Gibran